Irigasi Minim, Lumbung Beras Terancam

KOTA BINTUHAN, BE- Keinginan menjadikan Kabupaten Kaur menjadi daerah penghasil beras di Provinsi Bengkulu, semakin sulit diwujudkan. Mengingat irigasi yang minim dibangun dan kurangnya tenaga kerja jadi momok menakutkan bagi para petani.Pantauan BE, di kecamatan Kaur Selatan, Maje dan Nasal banyak petani mengeluh karena hasil panen tidak seimbang dengan biaya produksi. Biaya tinggi karena tenaga kerja mahal. Dilain sisi rencana penanaman terhambat karena gangguan irigasi. Sumber air minim, diperparah sistem irigasi yang amburadul.”Air untuk irigasi sawah di Nasal semakin sulit, jaringan irigasi rusak, kita perlu jaringan tersier agar ditambah,” Indah (43) warga Nasal kepada BE kemarin (11/6). Menurutnya, bagaimana ini tidak kurang kalau air yang mengalir ke jaringan sekunder pun tidak mencukupi. bendungan Air Nasal sebanarnya tidak kekurangan air, namun pembagianya jatah air untuk persawahan terkadang terabaikan.”Kita minta keprihatinan pemerintah soal irigasi ini, jika ini tidak disikapi jelas kaur tidak bisa menjadi lumbung beras. Tapi kekurangan beras walaupun hamparan sawah hektaran,” jelasnya.Hal senada diungkapkan, Beni (43) warga Bintuhan Kecamatan Kaur Selatan, selain ketimpangan irigasi, minimnya tenaga kerja juga jadi momok. Para petani dari kalangan pemuda beralih profesi sebagai ojek, akhirnya harus menyewa orang untuk mengurus sawah.”Melihat kondisi ini jelas sangat sulit Kaur akan maju, sehingga belum layak disebut lumbung padi atau beras,” ujarnya.Begitu juga, kata Rahmen warga Maje, mengungkapkan pun ikut kena imbas. Petani berusia 60 tahun ini biasa menyewa tenaga kerja untuk sawahnya. Namun biaya sewa meningkat drastis dari biasa. Untuk panen kemarin, dia mengeluarkan Rp 1,9 juta, hanya untuk ongkos panen dari merontokkan padi hingga mengangkat gabah ke pinggir jalan. Sebelum panen, dia harus mengeluarkan biaya tenaga kerja hingga Rp 1 juta untuk tanam bibit, cabut bibit dan semai bibit di sawah dan membuat garis di petakan sawah untuk jarak tanam.”hitung-hitungannya setelah potong semua biaya, mereka hanya memperoleh keuntungan Rp 3 juta/hektar selama 4 bulan sebelum panen berikutnya. Jadi setiap bulan kita cuma punya uang Rp 500 ribu,” katanya.

Sementara itu, Kadis Pertanian Ir H Herwan mengungkapkan menyikapi psimisnya masyarakat soal nyandang Lumbung beras. Pihaknya mengakui hal itu namun semuanya bisa dilakukan asal petani benar-benar memperhatikan tanamanya. Tahun ini irigasi memang akan dibangun semuanya untuk persawahan. Oleh karena itu tidak perlu kekwatiran soal sarana dan prasarana, karena pemerintah tengah proses dalam pembangunanya.”Kita sudah menggarkan untuk pembangunan irigasi, hal ini jelas kita optimis kaur bisa menjadi lumbung padi,” jelasnya. (823).