OJK dan LJK Salurkan Program Inklusi Keuangan

RIO/BE
Kepala OJK Bengkulu Yusri didampingi Plt Gubernur Bengkulu Dedy Ermansyah, Dirut Bank Bengkulu Agusalim, Kepala BEI Bengkulu Bayu Saputra dan Kepala Pegadaian Bengkulu Afrizal secara simbolis menyalurkan 4 program inklusi keuangan dalam rangkaian kegiatan Bulan Inklusi Keuangan (BIK) di Balai Semarak, Senin (13/10).

BENGKULU, BE – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bengkulu menilai inklusi keuangan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah. Sehingga semakin tinggi indeks inklusi keuangan daerah, maka perekonomian daerah juga akan ikut meningkat.

Kepala OJK Provinsi Bengkulu, Yusri mengatakan, semakin tinggi tingkat inklusi keuangan masyarakat, akan memungkinkan mereka membuat keputusan yang tepat mengenai pengelolaan keuangannya, penggunaan produk dan layanan keuangan, menopang perkembangan sektor keuangan, dan lebih luas lagi mendorong pertumbuhan ekonomi.

Bahkan, sebuah studi oleh World Bank menegaskan bahwa peningkatan inklusi keuangan sebesar 1% dapat mendorong pertumbuhan PDRB per kapita sebesar 0,03%.

“Inklusi keuangan itu memiliki dampak kepada perekonomian daerah, makanya kita selalu pacu agar indeks inklusi kita terus meningkat,” kata Yusri, kemarin (13/10).

Yusri menjelaskan, inklusi keuangan merupakan akses masyarakat terhadap produk dan layanan jasa keuangan seperti transaksi, pembayaran, tabungan, kredit, dan asuransi yang digunakan secara bertanggung jawab dan berkelanjutan. Hingga 2019 lalu, indeks inklusi keuangan di Provinsi Bengkulu mencapai 85,56%. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan indeks inklusi keuangan nasional yang tercatat sebesar 76,1%.

“Walaupun indeks inklusi keuangan di Provinsi Bengkulu sudah di atas angka nasional, akan tetapi kita tetap diberi target oleh pemerintah untuk menaikkan angkanya hingga 90% pada 2024 mendatang,” jelas Yusri.

Untuk mencapai target yang telah ditetapkan oleh pemerintah, OJK Provinsi Bengkulu terus melakukan beberapa kegiatan. Bahkan bertepatan pada Bulan Inklusi Keuangan (BIK) 2020 ini, OJK Provinsi Bengkulu bersama dengan Lembaga Jasa Keuangan (LJK) dalam hal ini Bank Bengkulu, Kantor Perwakilan PT Bursa Efek Indonesia Bengkulu, dan PT Pegadaian (Persero) Cabang Bengkulu mengadakan berbagai kegiatan untuk meningkatkan angka inklusi.

Beberapa kegiatan yang dilakukan pada BIK 2020 ini meliputi Program Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR) dengan target pembukaan 3.000 rekening simpanan pelajar baru, program Business Matching penyaluran kredit, program perluasan investor Pasar Modal melalui pembukaan akun rekening sekuritas, dan program menabung emas dengan target 500 penabung baru dengan nilai total transaksi Rp 1 miliar.

“Semoga 4 program kegiatan pada BIK 2020 ini dapat meningkatkan inklusi keuangan di Bengkulu,” tutupnya.

Sementara itu, Plt Gubernur Bengkulu, Dedy Ermansyah mengaku masalah yang hingga saat ini masih terjadi di Bengkulu yaitu kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap industri jasa keuangan. Masih rendahnya pengetahuan tersebut disebabkan kurangnya informasi. Oleh karena itu, Pemerintah Provinsi Bengkulu meminta seluruh stakeholder terkait, khususnya OJK untuk giat melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar mereka lebih memahami produk dan layanan industri jasa keuangan.

“Masyarakat itu banyak yang tidak tahu produk dan layanan industri jasa keuangan itu apa, padahal banyak produk dan layanan yang bisa ditawarkan,” kata Dedy.

Rendahnya pengetahuan masyarakat terhadap produk dan layanan industri jasa keuangan menyebabkan indeks literasi keuangan di daerah rendah. Bahkan indeks literasi Bengkulu saat ini baru mencapai 34,12% atau lebih rendah dibandingkan nasional yang tercatat sebesar 38,04%.

“Tidak hanya inklusi keuangan saja yang dipacu, akan tetapi indeks literasi keuangan juga harus dipacu agar masyarakat paham dengan produk yang ditawarkan oleh industri jasa keuangan,” tutupnya.(999)

 

    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*