Industri Perhotelan di Bengkulu Makin Cerah

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Perkembangan industri perhotelan di Provinsi Bengkulu semakin bergairah, meskipun masih ditopang anggaran pemerintah.

Hal ini ditambah komitmen pemerintah mewujudkan Wonderful 2020 yang diprediksi akan terus membuat industri perhotelan di Bengkulu semakin maju.

Ketua Badan Pimpinan Daerah Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (BPD-PHRI) Bengkulu, Drs H Sonny Adnan mengatakan, industri perhotelan di Bengkulu masih memungkinkan untuk berkembang, meskipun Bengkulu belum menjadi destinasi wisata seperti Sumatera Barat, Medan, dan Batam, apalagi untuk menjadi seperti Bali, Jogja, dan Lombok.

“Bengkulu belum menjadi destinasi wisata yang banyak dikunjungi seperti provinsi lainnya, namun sudah ada arah menuju kesana sehingga perkembangan hotel akan positif,” ujar Sonny saat dikonfirmasi Bengkulu Ekspress.

Namun Sonny mengungkapkan, saat ini tingkat hunian hotel di Bengkulu masih musiman dan tidak tetap. Ada kalanya ramai dan terkadang sepi. Hal ini kembali ke permasalahan Bengkulu bukan kota tujuan wisata dan bukan juga kota industri seperti kota lainnya.

“Ini kendalanya, hotel kita masih ramai secara musiman. Ada hari-hari tertentu yang ramai. Inilah yang harus dipecahkan bersama,” lanjut Sonny.

Selama ini, lanjutnya, hidupnya industri hotel Bengkulu masih bergantung pada APBN dan APBD. Saat APBN dan APBD belum diketok palu oleh DPR atau DPRD, maka anggaran pemerintah seperti untuk pelatihan, perjalanan dinas serta kunjungan ke daerah lain harus mandek. Hal tersebut tentu akan berpengaruh dengan hotel yang ada di Bengkulu karena masih tergantung dengan anggaran pemerintah.

“Perkembangan industri hotel Bengkulu sangat memerlukan dukungan pemerintah karena sangat penting dan berpengaruh cukup besar bagi kemajuan perhotelan,” sambung Sonny.

Lambatnya realisasi anggaran akan membuat bisnis hotel di Bengkulu harus sedikit mengencangkan ikat pinggang. Biasanya pada periode Januari hingga Maret disaat anggaran belum direalisasikan oleh DPR, maka tingkat hunian hotel bisa sepi.

Tidak hanya pada bulan-bulan seperti itu, pada Ramadan juga kunjungan cukup sepi karena banyak aktivitas kegiatan pemerintah pusat maupun daerah yang memanfaatkan hotel juga terhenti.

“Oleh karenanya, sangat penting agar industri perhotelan tak hanya bergantung pada anggaran pemerintah dan benar-benar mengandalkan sektor pariwisata Bengkulu,” tutur Sonny.

Jargon pemerintah yang ingin menjadikan Wonderful Bengkulu pada 2020 mendatang menjadi angin segar bagi para pebisnis hotel di Bengkulu.

Sonny mengaku, pihaknya tetap optimis industri hotel di Bengkulu akan cerah. Cerahnya bisnis perhotelan di Bengkulu mulai terlihat dari banyaknya investor mulai berdatangan membangun hotel di Bengkulu. Bahkan kabar terbarunya Bengkulu akan memiliki hotel berbintang empat.

“Kita akan segera memiliki hotel bintang empat, oleh karenanya harus banyak program yang dilakukan agar wonderful Bengkulu bisa berhasil,” jelas Sonny.

Munculnya hotel berbintang 4 tersebut jelas memberikan kabar baik bagi seluruh investor perhotelan dimana Bengkulu berpotensi besar menjadi daerah destinasi wisata. Pasalnya di Bengkulu hingga saat ini hotel berbintang yang paling tinggi hanyalah hotel bintang 3, 2, dan 1 dan jumlahnya juga tidak sebanyak hotel non bintang atau sekelas melati.

“Jika memang Bengkulu akan menjadi daerah destinasi wisata maka bukan hanya hotelnya saja yang dioptimalkan tetapi Pariwisatanya juga,” lanjut Sonny.

Menurutnya, pemerintah harus mampu meningkatkan pariwisata di Bengkulu dengan mengenalkan kedaerah lain. Pemerintah juga harus memiliki program unggulan untuk memaksimalkan potensi pariwisata Bengkulu. Selain itu Infrastruktur juga harus dilengkapi dan dibenahi sehingga pengunjung akan nyaman berkunjung ke Bengkulu.

“Pemerintah harus kerja ekstra agar sektor pariwisata kita bisa maju dan diikuti perkembangan sektor perhotelan untuk tumbuhnya perekonomian Bengkulu sehingga kita tak lagi bergantung pada APBN,” tutup Sonny.

Sementara itu, Kepala Badan Pusat Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu, Dyah Anugrah Kuswardani MA mengatakan, pertumbuhan industri perhotelan di Bengkulu sangat baik bahkan Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di Provinsi Bengkulu pada Maret 2018 tercatat 62,01 persen, naik 5,72 poin dibanding TPK hotel pada Februari 2018 yang tercatat sebesar 56,29 persen.

“Bila dibandingkan dengan bulan yang sama pada tahun 2017, TPK hotel naik sebesar 11,29 poin. Hal ini menunjukkan pertumbuhan positif pertumbuhan hotel di Bengkulu,” ujar Dyah.

Dari 10 Provinsi yang ada di Pulau Sumatera, dengan TPK hotel berbintang sebesar 62,01 persen, Provinsi Bengkulu menempati urutan kedua tertinggi se-Sumatera. TPK Hotel Bintang tertinggi adalah Provinsi Sumatera Selatan dengan besaran 65,85 persen sementara yang terendah se-Sumatera pada bulan Maret 2018 adalah Provinsi Aceh yaitu sebesar 38,27 persen.

“Bengkulu menempati urutan kedua TPK tertinggi di Sumatera. Hal ini menunjukkan potensi hotel di Bengkulu berpotensi berkembang dan akan terus maju dan berpengaruh positif pada pertumbuhan ekonomi Bengkulu,” tukas Dyah.(999)