Indonesia Taraf Epidemi HIV/AIDS

JAKARTA, BE – Kasus penyakit HIV/AIDS di Indonesia terus berkembang, sejak dari kasus pertama tahun 1987 sampai tahun 2012. Berdasarkan data Kemenkes, rate kumulatif kasus AIDS Nasional sampai September 2012 adalah 11 per 100 ribu penduduk.
Meski begitu, Menkes Nafsiah Mboi menyatakan ada kabar baik bagi kasus penyakit mematikan tersebut. Dia mengatakan jumlah kasus HIV/AIDS dan angka kematian akibat penyakit tersebut, mengalami penurunan pada periode Januari hingga September 2012. “Untuk tahun ini jumlah kasus dan angka kematiannya bisa turun,” ujar Nafsiah di gedung Kemenkes, Jumat (30/11).

Nafsiah menjelaskan, pada 2005-2009, jumlah kasus dan angka kematian akibat HIV/AIDS memang masih fluktuatif. Namun, angka tersebut kemudian naik drastis pada tahun 2010 dan 2011.

Pada 2012 ini untuk pertama kalinya  terjadi penurunan. Tercatat, pada 2009 ada 9793 kasus HIV, 5458 kasus AIDS, dan 960 orang meninggal. Tahun berikutnya, terjadi peningkatan angka dengan 21591 kasus HIV, 6476 kasus AIDS, dan 1185 penderita meninggal.

Kemudian pada tahun 2011, angka kasus HIV tercatat sejumlah 21031, angka kasus AIDS 6178, dan jumlah kematian turun hingga 825 orang.

“Sementara sampai September tahun ini, kasus HIV tercatat menurun hingga 9883 kasus, kasus AIDS turun hingga 3541 kasus, dan angka kematian turun menjadi 514 orang,” jelasnya.

Nafsiah menyebut penurunan tersebut dipengaruhi penyebaran pengobatan HIV/AIDS di 33 provinsi, dan kerjasama dengan sejumlah jaringan seperti asosiasi pekerja seks Indonesia, persaudaraan korban narkotika, asosiasi waria, dan Ikatan Perempuan Positif Indonesia, dalam melakukan sosialisasi.

“Kerjasama dengan merekalah yang membuat angka tahun ini turun. Kalau melihat data ini, kita boleh optimistik angkanya akan lebih baik lagi ke depannya,” kata Nafsiah.

Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi mengatakan, berdasar hasil MDGS Global Fund tahun 2011, angka penggunaan kondom di Indonesia tercatat masih minim. “Mereka menganggap kita kurang efektif dalam upaya pencegahan HIV/AIDS,” ujar Nafsiah di kantornya, Jumat, 30 November 2012.

Meski begitu, Menteri 72 tahun tersebut masih menyayangkan laki-laki berperilaku seks beresiko yang cenderung tak mau menggunakan kondom. Berdasar data Kemenkes, pada tahun 2011, ada 61 persen lelaki pelaku hubungan seks dengan perempuan pekerja seks komersial yang menggunakan kondom.

Persentase itu menurun 7 persen dari tahun 2007. Sementara pada waria, angka penggunaan kondom pada 2011 meningkat 2 persen menjadi 80 persen, dari empat tahun sebelumnya. Sedangkan pada hubungan lelaki seks lelaki (LSL), persentase penggunaan kondom menurun 1 persen dari 2007.

“Ini yang kita sesalkan, mereka nggak mau pakai kondom. Nanti kalau kena penyakitnya, minta kita yang bayar. Bagaimana bisa mengharapkan tujuan MDG tercapai, jika penggunaan kondom menurun, sedangkan jumlah orang yang datang lokasi seks berisiko meningkat,” tegasnya.

Semen tara itu, dari data Kemenkes tahun 1987 hingga September 2012, Provinsi Papua tercatat sebagai daerah dengan penderita HIV tertinggi di Indonesia. Papua terdata memiliki 7572 kasus HIV, diikuti DKI Jakarta dengan 6299 kasus, Jawa Timur 5257 kasus, Jawa Barat 4098 kasus, Bali 2939 kasus, dan Jawa Tengah 2503 kasus. Sementara Kalimantan barat terdapat 1699 kasus, Sulawesi Selatan dengan 1377 kasus, Riau 755 kasus dan Sumatera Barat 715 kasus.

Pemerintah berharap angka kasus dan kematian akibat HIV/AIDS bisa menurun, dengan pencegahan seperti promosi perilaku hidup sehat, pendidikan moral dan kesehatan reproduksi, serta pemberian pengetahuan tentang narkotika. Sedangkan untuk penanganan, pemerintah menekankan pada promosi penggunaan kondom dan pengobatan penyakit kelamin di lokasi seks berisiko. (jpnn)