Impor Terbesar dari Tiongkok

foto;ist

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Nilai impor Provinsi Bengkulu pada Desember 2018 lalu mencapai US$ 21,23 juta atau mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan Desember 2017 yang tercatat sebesar US$ 1,51 juta (yoy). Peningkatan nilai impor tersebut disebabkan adanya proyek pembangunan PLTU di Kota Bengkulu yang banyak memesan aspal dari Singapura dan Malaysia, serta mesin dan barang lainnya dari Tiongkok.

Kepala BPS Provinsi Bengkulu, Dyah Anugrah Kuswardani MA mengatakan, selama periode Januari-Desember tahun 2018, impor Provinsi Bengkulu mencapai US$ 98,74 juta. Bila dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2017, impor Provinsi Bengkulu mengalami peningkatan sebesar 727,08 persen, di mana pada tahun 2017 tercatat sebanyak US$ 11,94 juta.  Peningkatan nilai impor pada tahun 2018 ini disebabkan oleh adanya pembangunan proyek PLTU di Kota Bengkulu.

“Nilai impor ini disebabkan oleh pembangunan proyek PLTU, karena negara kita tidak memproduksi aspal dan mesin jadinya banyak kebutuhan tersebut didatangkan dari luar negeri,” kata Dyah, kemarin (5/2).

Dyah menjelaskan, selama periode Januari hingga Desember 2018, Tiongkok menjadi negara asal impor terbesar di Provinsi Bengkulu dengan nilai impor mencapai US$ 92,10 juta atau mencapai 93,27 persen dari total impor selama 2018. Nilai impor barang yang berasal dari Tiongkok mengalami peningkatan yang signifikan jika dibandingkan dengan nilai impor pada tahun 2017 yang tercatat hanya sebesar US$ 6,83 juta.

“Kita masih impor yang tertinggi dari Tiongkok, kemungkinan mesin-mesin untuk pembangunan PLTU,” ujar Dyah.



Sementara itu, nilai impor terbesar selanjutnya yaitu dari Malaysia sebesar US$ 3,61 juta, kemudian diikuti Singapura sebesar US$ 2,87 juta, Thailand US$ 0,16 juta, dan negara lainnya sebesar US$ 5,92 ribu. Serta negara impor lainnya seperti Jerman, Hongkong, Jepang, Korea Selatan, Singapura, Taiwan, Amerika Serikat, Inggris, dan Israel.

“Sejauh ini selain biasa impor mesin dari Tiongkok, kita juga biasa impor aspal dari Malaysia dan Singapura, dan nilainya juga tinggi. Soalnya banyak yang butuh aspal untuk membangun jalan di Bengkulu,” tutupnya. Sementara itu, Pakar Ekonomi Universitas Bengkulu, Prof Dr Kamaludin MM mengatakan, permasalahan impor di Bengkulu tidak selalu buruk. Karena kegiatan impor yang dilakukan adalah untuk kebaikan bersama.

Selama ini produksi mesin pembangkit listrik dan aspal dalam negeri belum mampu melakukan hal itu. Sehingga mendorong beberapa pengusaha untuk melakukan impor dari negara-negara tetangga. “Impor tidak selalu buruk, kalau di negara kita memang tidak ada, saya rasa impor memang harus, daripada jalan kita banyak yang jelek atau proyek listrik tidak jadi,” ujar Kamaludin.

Meski begitu, dirinya berharap kegiatan impor yang dilakukan juga jangan terlalu berlebihan. Jika hal tersebut dilakukan secara berlebihan akan memicu terjadinya defisit neraca perdagangan di Provinsi Bengkulu. Untuk itu, pihaknya mendorong pemerintah agar memacu kegiatan ekspor. Dengan memacu ekspor maka neraca perdagangan akan selalu surplus. “Impor boleh tapi jangan sampai defisit ya neraca dagang kita, usahakan selalu ekspor, impornya dibatasi, jangan sering-sering,” tutupnya.(999)