IDKita Community, Komunitas Relawan Pencegah Predator Seksual di Internet

Ikut Ungkap Kasus Dokter Kandungan Palsu
5344_4061_OK-FOTO-BOKS

Media sosial sudah menjadi arena bagi para predator seksual untuk berburu mangsa. Ratusan kasus terungkap. Namun, ribuan lainnya terpendam oleh tumpukan rasa malu dan tabu korban serta keluarganya. Sejak 2012, para relawan IDKita berusaha menghadang gerak predator seksual di dunia maya tersebut.

***

MALAM itu hujan deras mengguyur Kota Bogor. Suara gemericik air hujan yang berselimut hawa dingin menjadi kombinasi dahsyat yang meninabobokan. Mata Tovanno Valentino pun hampir terpejam ketika tiba-tiba telepon selulernya berdering. Begitu diangkat, suara tangis sesenggukan terdengar di ujung telepon.
Dengan tenang, Valen –begitu pria 43 tahun itu biasa disapa– mendengarkan keluh kesah peneleponnya. Rupanya, dia adalah seorang ibu yang tengah gundah gulana. Jiwanya terguncang saat mengetahui anak lelakinya, yang masih duduk di bangku sebuah SMP favorit di Jakarta, tepergok tengah menonton gambar-gambar dan video porno bersama teman-teman kelasnya.
Interogasi singkat menghasilkan fakta yang kian mencengangkan. Anak-anak yang masih berseragam putih biru itu sudah sampai tahap ketagihan (addict), bahkan rutin berselancar di dunia maya menjelajahi laman-laman situs bertema pornografi.
’’Saya yakin, di luar sana masih ada ribuan orang tua lain yang hatinya juga tersayat seperti ibu itu,’’ ujar Valen saat ditemui Jawa Pos di Sekretariat IDKita, Tebet, Jakarta Selatan, pekan lalu.
Valen adalah koordinator nasional IDKita, komunitas para relawan yang berfokus pada gerakan perlindungan anak serta pemberdayaan perempuan dalam pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi. Dia mengoordinasi sekitar 400 relawan yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Kampanye ’’Pemanfaatan Internet Sehat’’ menjadi panduan gerak mereka.
Sebagai koordinator, Valen menjadi tempat rujukan bagi para orang tua yang ingin berkonsultasi tentang berbagai permasalahan yang dihadapi anak mereka. Ketagihan pornografi adalah masalah jamak yang dihadapi. Namun, banyak kasus lain yang jauh lebih berat. Misalnya, anak menjadi korban pelecehan seksual, korban pemerkosaan, anak dibawa kabur, atau bahkan menjadi korban perdagangan manusia (human trafficking), lalu dijadikan pekerja seks komersial (PSK).
Valen menceritakan bagaimana para orang tua itu, terutama ibu-ibu, jiwanya terguncang, marah, sedih, dan pilu bercampur malu mengetahui anaknya menjadi korban dampak negatif internet. Hampir setiap malam pria kelahiran Ambon, 20 September 1970, tersebut berinteraksi dengan para orang tua itu. Kadang melalui sambungan telepon, e-mail, atau chatting via BlackBerry Messenger (BBM) dan WhatsApp.
’’Saya membuka konsultasi setiap malam, pukul delapan sampai sepuluh,’’ katanya.
Bapak tiga anak itu pun menemukan benang merah dari berbagai kasus memilukan tersebut. Apa itu? ’’Internet, khususnya media sosial, lebih khusus Facebook dan fitur chatting,’’ sebutnya.
Tentu, Valen bukan sosok yang anti perkembangan teknologi informasi (information technology/IT). Dia justru merupakan orang yang sangat mengenal teknologi informasi. Bahkan, saat ini dia sukses menjalani profesi sebagai konsultan bisnis serta IT di Jakarta dan Jogjakarta.
Setiap mendengar kisah pilu para ibu itu, pikiran Valen seolah kembali melayang ke Jogjakarta pada 1998. Ketika itu, lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) YKPN Jogjakarta tersebut sudah merintis bisnis sebagai konsultan yang menggabungkan ilmu akuntansi dan IT. Paham akan pentingnya IT, dia pun mendirikan Computer Club di Jogja, mengumpulkan para mahasiswa di kota pelajar itu untuk memahami fungsi dan kegunaan internet.
Valen masih ingat, saat itu akses internet sangat terbatas. Hanya sebagian orang yang memiliki koneksi internet di rumah. Warung internet (warnet) pun belum begitu banyak. Namun, betapa terkejutnya dia ketika dengan fasilitas yang terbatas itu sebagian mahasiswa sudah menggunakan fitur chatting MIRC untuk percakapan yang menjurus pada pergaulan bebas.
Dia makin terhenyak ketika mengintip jejak situs-situs yang dikunjungi para mahasiswa. Sebagian mengarah pada situs dengan konten atau materi gambar-gambar pornografi yang ketika itu masih bebas diakses karena belum ada sistem blokir. Ketika warnet mulai menjamur, dia mendapati fakta bahwa para mahasiswa dan pelajar rela antre hanya untuk menjelajahi situs-situs penggugah berahi tersebut.
’’Ketika itu, saya punya visi atau penerawangan. Kalau pada era itu (1998–1999, Red) para mahasiswa yang terpelajar bisa salah memanfaatkan teknologi internet, bagaimana 10 tahun lagi? Ketika internet bisa diakses siapa saja, siapa yang bisa menjamin anak-anak kita tidak melakukan hal negatif seperti para mahasiswa itu? Sekarang, ketakutan saya tersebut sudah menjadi kenyataan,’’ ujarnya.
Dari layar tabletnya, pria yang menjadi Duta Internet Sehat dan Aman 2013 bersama Kemenkominfo itu memperlihatkan berbagai berita dari media massa yang menunjukkan betapa dahsyatnya daya rusak teknologi internet di tangan orang yang tidak bertanggung jawab.
’’Januari 2013, seorang siswi SMK di Makale, Tana Toraja, dibawa kabur teman pria yang dikenalnya via Facebook’’; ’’Maret 2013, seorang siswi SMK di Jakarta Timur diculik temannya di Facebook’’; ’’April 2013, seorang siswi MAN di Purworejo diculik, disekap, dan diperkosa pelaku yang baru dikenalnya via Facebook’’; ’’Oktober 2013, seorang siswi SMP di Makassar diculik dan disetubuhi oleh seseorang yang dikenalnya di Facebook’’.
Kasus lain yang membuat banyak orang terhenyak adalah aksi bejat Tjandra Adi Gunawan yang terbongkar pada April 2014. Warga Surabaya itu menyamar sebagai perempuan yang berprofesi dokter kesehatan reproduksi remaja di Facebook. Dia lantas memperdayai para korban yang sebagian besar masih ABG (anak baru gede) untuk mengirimkan foto ’’pasien’’-nya, mulai berpakaian lengkap hingga telanjang. Ribuan foto itu lantas disebar ke akun Facebook orang tua maupun guru para korban.
Valen menyebutkan, terungkapnya kejahatan Tjandra Adi Gunawan tersebut merupakan salah satu hasil kerja nyata para relawan yang bergerak melawan pornografi internet. Di antaranya adalah ICT Watch. Para relawan itulah yang bersatu padu melaporkan kasus tersebut hingga ke Mabes Polri dan mendorong terus agar segera diungkap.
Menurut Valen, para korban predator seksual online biasanya berasal dari kota-kota kecil, semacam kota kecamatan. Ada kecenderungan para ABG di kota-kota kecil itu bangga jika punya kenalan atau pacar dari kota besar sehingga mudah teperdaya. Karena itulah, salah satu agenda rutin para relawan IDKita Community adalah memberikan penyuluhan ke sekolah-sekolah di berbagai daerah, mulai SD, SMP, hingga SMA.
’’Kami juga sering memberikan penyuluhan kepada kelompok ibu-ibu pengajian atau jemaat gereja. Silakan undang kami, gratis tanpa dipungut biaya,’’ tegasnya.
Valen menyebutkan, kunci utama pencegahan aksi predator seksual online sebenarnya adalah orang tua. Sayangnya, banyak orang tua yang belum sadar. Bahkan, banyak orang tua yang justru menjerumuskan anak-anaknya karena memanjakan mereka dengan fasilitas smartphone sejak usia kecil, lalu membiarkan anaknya menjelajah dunia maya tanpa pengawasan.
Pemerintah, kata Valen, memang sudah menunjukkan upaya pencegahan. Misalnya, memblokir situs-situs porno. Namun, apa daya, dari sekitar 40 juta situs porno, mungkin baru 1–2 juta yang sudah berhasil diblokir. Artinya, masih ada puluhan juta situs porno yang bisa bebas diakses anak-anak. Yang lebih memiriskan, banyak predator seksual online yang mencari mangsa di media-media sosial atau forum chatting yang tidak bisa dipantau siapa pun.
’’Karena itu, bagi orang tua, jangan cuek dengan anak-anaknya. Dekati mereka, beri mereka pengertian, dan jangan gaptek (gagap teknologi). Sebab, orang tua harus bisa mengecek situs apa saja yang dibuka anak. Termasuk, bagaimana interaksi anak di media sosial, siapa teman Facebook atau Twitter mereka. Jangan sampai orang tua baru menyesal dan nangis darah saat anaknya jadi korban,’’ tuturnya.
IDKita Community, kata Valen, membuka layanan konsultasi via website: www.idkita.or.id atau e-mail: info@idkita.or.id. Valen siap melayani konsultasi via Facebook di akun tovanno atau via Twitter di @tovanno. Jika serius, konsultasi bisa ditindaklanjuti via telepon. Selama ini, rata-rata IDKita menerima 20 aduan setiap bulan atau sekitar 240 aduan setiap tahun.
Dari jumlah tersebut, sebagian besar orang tua meminta konsultasi tertutup dan meminta kasusnya tidak dibuka karena keluarganya malu. Oleh Valen, orang tua dan anaknya kemudian difasilitasi untuk bertemu psikiater yang juga relawan IDKita. Biasanya, butuh waktu berbulan-bulan untuk memulihkan kondisi kejiwaan anak yang menjadi korban. Bahkan, ada yang tetap trauma bertahun-tahun kemudian.
Menurut Valen, hanya 1 persen orang tua yang kemudian bersedia kasus anaknya diteruskan ke ranah hukum untuk diproses agar pelakunya jera, dengan konsekuensi kasus itu akan terpublikasi di media.
’’Jadi, ini benar-benar fenomena puncak gunung es. Kalau ada satu kasus terungkap sampai ke media, berarti ada 100 kasus lain yang terpendam tak terungkap dan ditanggung sendiri oleh korban dan keluarganya,’’ ungkapnya. (*/c5/ari)