Ichwan Yunus Menata Karir di Lingkaran Birokrasi (7)

ichwan pln3Selama satu tahun tiga bulan berada di Amerika, tentu saja banyak ilmu dan pengalaman berharga yang dapat di raih Ichwan.  Disamping kesan-kesan dari apa yang ia saksikan dan rasakan sendiri dari segi perilaku yang menyangkut kinerja perusahaan listrik negara modern tersebut.

Hal yang menjadi catatan bagi Ichwan –menyangkut kinerja-secara umum sepanjang yang ia amati baik terhadap pegawai biasa (pekerja) maupun pejabat di perusahaan listrik Amerika.  Khususnya tiga kota besar seperti tersebut di atas.

Apa pun bidang pekerjaannya mereka merasakan sebagai sebuah profesi. Itu artinya disamping mereka ahli dibidangnya, mereka memang menyukai dan menikmati pekerjaannya. Walaupun terkesan santai, tapi mereka sangat serius, disiplin dan berorientasi pada tuntasnya pekerjaan. Terkesan santai karena setiap dua jam bekerja pasti ada waktu istirahat. Setelah dua jam pertama ada cofee break, dua jam kedua makan siang dan dua jam ketiga kembali cofee break. Lalu bekerja kembali sekitar dua jam lalu pulang kantor pada jam 5 sore waktu setempat.

Terkesan serius dan disiplin tinggi, karena saat bekerja mereka sangat serius menghadapi pekerjaanya, tidak ada pekerjaan lain kecuali pekerjaan yang memang menjadi tugasnya. Begitu pula sebaliknya, mereka selalu menggunakan waktu istirahatnya dengan baik. Pendek kata tidak ada yang santai saat bekerja dan tidak ada yang bekerja disaat santai.

Dalam hal pengisian struktur organisasi perusahaan yang tentu saja berlaku juga terhadap organisasi pemerintahan  juga sangat terkesan bagi Ichwan. The right man on the right place betul-betul berlaku di amerika. Tidak satu pun pimpinan dan karyawan yang tidak menguasai bidang tugasnya. Tidak pernah terjadi penempatan pimpinan dan karyawan semata-mata karena faktor suka atau tidak suka pejabat yang mengangkat dan menempatkannya. Prinsip the right man on the right place inilah yang ikut memacu mereka profesional di bidangnya.

Hal yang juga menjadi catatan penting Ichwan adalah terkait dengan birokrasi pada lembaga-lembaga dan institusi di Amerika baik pemerintah maupun swasta yang begitu terlihat tertib dan mapan.  Hampir tidak ditemukan kendala mulai pada tataran design sampai pada persoalan tehnis di lapangan.

Menurut Ichwan kunci kemapanan tersebut adalah terletak pada konsistensi mereka berjalan di atas rel sistem yang ada. Sejalan dengan komplitnya tata aturan, mulai dari aturan dasar sampai pada petunjuk pelaksanaan dan petunjuk tehnis, mereka pun sangat konsisten menjalankannya. Apa saja yang mereka kerjakan selalu berdasarkan peraturan, juklak dan juknis yang ada.

Penyimpangan hanya dilakukan manakala dihadapkan pada keadaan yang betul-betul darurat.  Itu pun sudah ada petunjuk pelaksanaannya. Kesadaran berjalan di atas sistem ini bukan hanya di lingkup birokrasi lembaga dan institusi tapi sudah menjadi budaya masyarakat Amerika, mulai dari iingkungan ternpat tinggal, di jalanan dan sebagainya semuanya berjalan kecuali atas sistem, sehingga berada di Amerika betul-betul terkesan aman dan nyaman.

Berbeda  kalau pun tidak dikatakan bertolak belakang  dengan di Indonesia. Di samping tata aturan, petunjuk pelaksanaan dan tehnis masih belum maksimal, kalau pun sudah ada biasanya selalu saja terdapat “klausul yang mengandung banyak penafsiran. Hal itu memberi peluang bagi subjek tata aturan tersebut untuk mengadakan penyimpangan yang dibungkus dengan “kain sakti” yang bernama kebijakan.

Kebijakan seolah menjadi kata kunci penyelenggaraan birokrasi, padahal sesungguhnya tidak ada kebijakan yang lebih bijak selain berjalan di atas sistem. Bukan sebaliknya, kebijakan menjadi dalil untuk menyimpang dari aturan yang sebenarnya.

Kondisi seperti ini berimbas kepada penyelenggaraan pemerintahan dari level yang paling atas sampai pada level yang paling bawah.  Masyarakat selalu mengedepankan kebijakan pemimpin dan/atau penyelenggara pemerintahan, bukan aturan baku baik dasar maupun berupa juklak dan juknis tertulis yang dibuat untuk itu.

Akibatnya, dalam penyelenggaraan pemerintahan selalu saja berubah, sesuai dengan kebijakan (baca: kemauan) penyelenggaranya. Berbeda dengan negara-negara maju seperti halnya Amerika yang sangat konsisten berjalan di atas sistem, maka siapa saja yang menjadi pimpinan, penyelenggaraan birokrasi tidak akan berubah, berjalan stabil dan mapan.

Ichwan menyadari Indonesia bukanlah Amerika begitu pula sebaliknya Amerika bukanlah Indonesia.  Namun bukan tidak mungkin apa yang diterapkan di Amerika bisa dijalankan di Indonesia secara keseluruhan. Paling tidak bangsa ini dapat belajar dan tidak juga berdosa jika meniru hal-hal yang baik sepanjang mampu dilakukan. Tentunya dengan tidak mengurangi nilai-nilai budaya leluhur yang telah menjadi khas bangsa Indonesia. Pemikiran seperti inilah yang menjadi motivasi Ichwan untuk segera membagi ilmu, pengalaman dan kesan-kesan baik yang diperoleh Ichwan di Amerika tersebut.

Usul dan saran untuk perbaikan sistem serta upaya konsisten berjalan di atas sistem yang ada mulai dilakukan Ichwan dalam organ tubuh organisasi Perusahaan Listrik Negara. Hal yang berhubungan dengan sumber daya manusia juga tidak luput dari perhatiannya dengan memberikan kursus-kursus dan pelatihan di jajaran pimpinan dan karyawan. Sesuai dengan misinya, Ichwan kini -banyak atau sedikit-sudah mewarnai kinerja PLN.(bersambung)