HORNIATY : Berbagi Peran dan Penuh Syukur

Nama     : Horniaty SAg

TTL         : Bengkulu Selatan 18 September 1971

Suami    : H Junaidi Hamsyah – Lahir : Bengkulu Utara 4 Februari 1970

Anak      : 1. Fikri Edo Pratama (13-1-1994)
2. Nuril Kunain Pasca Pasca Prahara (23-1-2000)
3. Amanda Yulia Reza (28-12-1988)

Motto    : Bekerja dengan tulus dan  ikhlas, selalu dibarengi dengan doa, Insya Allah keberhasilan akan timbul.

PEPATAH bilang di balik kesuksesan suami, ada istri yang hebat. Mungkin ada benarnya. Banyak lelaki yang hebat di dunia ini didukung oleh istri dan sebaliknya. Ini juga terjadi pada keluarga Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Bengkulu H Junaidi Hamsyah SAg MPd. Di balik kesuksesannya, Horniaty SAg sangat berperan dalam memberikan dukungan suami. Dukungan itu ternyata diberikan sejak kuliah, menjadi ustad, hingga kemudian menjabat sebagai wakil gubernur dan Plt gubernur. “Awalnya saya dan anak-anak, berat. Alhamdulillah memahami kesibukan bapak (suami). Ini juga sudah terlatih sejak dahulu, sejak bapak aktif jadi penceramah. Bapak jarang di rumah karena kesibukan bekerja dan berceramah,” cerita Horniaty.

Ia mengatakan selalu memberikan pemahaman terhadap anak-anaknya mengenai kesibukan sang ayah. “Saya memberi pengertian pada anak-anak doakan agar bapak kalian menjadi penceramah yang diterima oleh masyarakat Bengkulu. Alhamdulillah tercapai,” ujarnya.Dalam keluarganya, kegiatan beribadah selalu menjadi yang utama. Tidak pernah meninggalkan salat dan selalu berjamaah apabila di rumah. “Setiap waktu salat tiba, saya dan anak-anak selalu salat berjamaah. Seandainya bapak tidak ada, saya yang memimpin anak-anak,” ujarnya. Kegiatan lain misalnya, setiap malam Jum’at selalu membaca ayat Al-qur’an surat Yasin bersama. “Ada bapak atau tidak ada bapak, selalu membaca yasin bersama anak-anak. Alhamdulillah, sekarang anak-anak rumah dinas juga ikut membaca Yasin setiap malam Jum’at dan salat berjemaah,” katanya.Selama mendampingi bapak sebagai kepala daerah, lanjut Horniaty, ia tetap fokus menjalankan aktivitas sebagai ibu rumah tangga. Terutama dalam mendidik anak dan melayani suami. “Saya fokuskan saya mendidik dan memelihara anak dengan penuh tanggung jawab. Karena bagi saya anak-anak inilah yang akan menjadi generasi masa-masa yang akan datang,” katanya.Sebagai seorang istri, ia selalu mentaati suami dalam hal yang wajar. Selalu mengingatkan dalam kebaikan apabila suami khilaf atau melakukan kesalahan. “Di situlah peran istri untuk mengingatkan seorang suami. Misalnya waktu salat sudah masuk, dia tertidur itu wajib saya bangunkan tetapi dengan nada lembut,” tuturnya.Kondisi sesibuk apapun, dirinya tidak pernah melupakan tugas seorang ibu. “Terutama urusan dapur, kasur, sumur, sampai saat ini tetap saya lakukan,” katanya.Ia menyadari seorang suami merasakan kenikmatan memakan masakan istri. Karena seorang istri mengetahui masakan kesukaan suaminya. “Soal makan, saya masih selalu masak untuk suami. Karena bapak itu lebih menikmati masakan saya, kadang sampai nambuh,” katanya. Selama 19 tahun berkeluarga, ia selalu bertanya tentang masalah kepada suaminya. “Saya tanya kepada bapak, gimana masalah masakan, memang beda. Untuk itu saya ikut masak paling untuk bapak saja, saya tahu selera bapak,” ceritanya.Sebagai seorang istri, Horniaty juga bertindak selayaknya seorang manager keuangan di rumah tangganya. Sebab itu, ia harus pintar mengatur, rejeki yang diberikan suami olehnya. “Saya di dalam rumah tangga mengatur apa pemberian dari bapak, saya laksanakan sekecil apapun. Berupa uang misalnya saya terima dan saya syukuri,” katanya.Meski demikian, ia selalu meminta kejelasan kepada suaminya terhadap rejeki yang diperoleh. “Sejak dulu, usai ceramah kadang bapak dikasih uang dalam amplop Rp 50 ribu. Kadang masih saya tanya, meski saya sudah tahu asal uang itu. Tapi saya tidak puas karena kebiasaan menyakan asal uang yang dibawa pulang suami,” katanya. Rejeki yang terimanya itu, 2,5 persen selalu ia kumpulkan untuk diberikan kepada yang berhak. “Bila kita peroleh uang Rp 50 ribu, itu bukan hak kita saja. Tetapi ada hak orang lain sebesar 2,5 persennya. Karena itu, dari dulu saya buat tabungan 2 buah, sampai sekarang buat tabungan pribadi dan tabungan zakat mal,” tutur Horniaty. Hasil tabungan zakat mal tersebut diberikan kepada anak yatim, fakir miskin, orang yang sedang sakit parah. “Biasanya dibagikan 10 hari sebelum lebaran. Dibagikan setahun sekali agar banyak yang diterima,” ujarnya.Ia juga berpesan kepada kaum perempuan di Provinsi Bengkulu. Agar tetap menjaga kodratnya sebagai seorang perempuan. “Emansipasi ok, tetapi tidak kebablasan. Artinya tidak semua pekerjaan laki-laki itu dilaksanakan perempuan. Misalnya memanjat kelapa, memang mampu tapi dipandang tidak bagus dilihat,” katanya.Ia mengatakan, apaun pekerjaannya, tugas seorang ibu harus dilaksanakan. Ini untuk menjaga keharmonisan keluarga. Seorang istri harus harus memperhatikan kebutuhan suami, mulai dari masalah makan, dan lain sebagainya. “Kemudian mendidik anak agar beribadah dengan baik,” katanya. Ia berpesan kepada para istri, agar apa yang diberikan suami harus disyukuri. “Pepatah mengatakan dikit cukup, banyak kurang. Karena itu, seorang istri harus pintar mengelola keuangan rumah tangga yang dihasilkan suami,” tuturnya. (iyud)

 Penuh Perjuangan

PERJUANGAN hidup keluarga Plt Gubernur H Junaidi Hamsyah memang penuh cerita. Banyak kisah yang telah dijalaninya mampu menjadi inspirasi orang lain, dalam mengarungi sebuah kehidupan. Horniary menceritakan kisah perjuangannya sejak kuliah dahulu.Dalam urusan cinta, STAIN Bengkulu menjadi saksi bisu pertemuan antara Horniaty dan Junaidi Hamsyah. Diceritakannya, Hornity yang saat itu lulusan MAN Manna, Bengkulu Selatan (BS) berkeinginan melanjutkan kuliah. Ia tidak tahu harus kemana melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. “Saya tanya kepada teman dekat apa lanjutan sekolah MAN, jawabannya ada di STAIN Bengkulu. Akhirnya saya mendaftar ke STAIN tahun 1991,” katanya. Saat itulah detik-detik pertemuan antara Hornity dan Junaidi yang hingga saat ini menjadi pasangan suami istri. Saat mendaftar, Horniaty bertanya dengan Junaidi, yang saat itu telah menjadi mahasiswa di STAIN.Horniaty bingung memilih jurusan sehingga bertanya kepada seniornya itu. Di situ, Junaidi mengarahkan Horniary mengambil program studi syariah, dengan alasan lebih banyak menerima mahasiswa. Sedangkan program studi tarbiyah hanya menerima 40 mahasiswa. “Memang kakak (Junaidi) di mana?” tanya Horniaty pada Junaidi. “Saya di Tarbiyah,” jawab Junaidi, seperti diceritakan Hornity. “Kalau begitu saya ikut kakak saja,” ujar Horniaty saat itu. Lalu, diceritakannya, setelah tes kemudian lulus masuk STAIN, yang sekarang menjadi IAIN Bengkulu. Ia diospek senior yang kini menjadi suaminya itu. “Waktu bapak yang mengospek ibu. Memang waktu itu bapak tidak pernah mengatakan cinta, tetapi selalu mendekati saya. Selalu membantu mengerjakan tugas dan apapun yang terkait kuliah,” katanya.Horniaty merasa sangat tertolong dengan bantuan-bantuan yang diberikan Junaidi. Tahun 1993, mereka menikah, saat keduanya masih sama-sama sebagai mahasiswa. Horniaty masih semester 6, sedang Junaidi tinggal menyusun skripsi. Karena kondisi ekonomi saat itu, Horniaty memilih untuk cuti kuliah selama 2 tahun. Ini agar, Junaidi lebih dahulu menyelesaikan skripsinya. “Untuk membantu bapak menyelesaikan skripsi ibu akan jualan opak, saya bawa opak berkarung-karung laris. Walaupun kecil uang saat itu sangat lega, bisa untuk memembantu menyelesaikan skripsi,” katanya.Sedangkan Junaidi saat itu bekerja sebagai penerbit buku. “Alhamdulilah diterima di penerbit buku,” katanya.

Tahun 2000 Junaidi lulus tes CPNS, setelah 12 kali gagal. “Itu juga gunakan ijazah PGA (Pendidikan Guru Agama). Saat lulus juga tidak percaya, bapak yang penting ikut tes. Sudah tes tidak dipikirkannya,” katanya. Seorang teman baru mengabarkan bila nama Junaidi lulus tes CPNS. “Setelah bapak mengecek, ternyata betul. Akhinya saya dan bapak menangis terharu. Karena bapak sudah 13 kali tes, baru lulus CPNS,” katanya.Setelah itu, Horniaty mendukung suaminya menjadi ustad. Pertama kali menjadi ustad, Junaidi ceramah di Masjid Muhajirin. “Waktu itu bapak tidak punya baju putih. Asal mulanya saya bilang dengan pak Anwar Yasin, boleh tidak bapak mau pinjam baju, bapak mau ceramah di Masjid di Muhajirin,” kenangnya, tetapi justru Anwar Yasin memberikan baju tersebut. Hingga saat ini Junaidi masih menjadi ustad. Horniaty selalu mendoakan agar suaminya tersebut menjadi ustad yang diterima masyarakat. Baginya, sesuatu yang dijalaninya dengan iklas, dan selalu memanjatkan doa, Insya Allah keberhasilan akan terwujud.(iyud)