Honor Guru Dibawah UMR

PELABAI, BE- Kepala UPTD Trans Pelabai Nastomi SH mengharapkan pemkab Lebong memberi perhatian kepada tenaga guru honor SD kelas jauh di Trans Pebalai. Sebab selama ini 3 guru honor di sekolah tersebut hanya¬†menerima masing-masing Rp 300/ bulan dan pembayarannya antara 3-4 bulan sekali. Kelas jauh di Trans Pelabai ini memiliki 37 murid. Masing-masing kelas I (15 siswa), kelas II (10) dan kelas III (4). ¬†“Gaji guru honor sangat rendah. Jauh di bawah standar gaji UMR. Selain itu, gaji mereka ini bersumber dari Dirjen Pembinaan Pengembangan Masyarakat dan Kawasan Transmigrasi (P2MKT) dengan sistem pembayaran per triwulan. Ke depan kita berharap agar mereka dapat dijadikan honor daerah sehingga penghasilan mereka bisa bertambah. Kalau sekarang dengan gaji Rp 300 per bulan tidak mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari,” jelas Nastomi. Ditambahkan Nastomi, tugas guru honor tersebut cukup berat karena mereka harus secara rutin berkoordinasi dengan sekolah induk di Desa Pelabai, terkait kurikulum maupun perkembangan anak didik di sekolah tersebut. Sementara mereka tidak memiliki kendaraan dinas. “Harapan kita ada perhatian dari pemda dan dewan. Jika memungkinkan mereka bisa mendapatkan tunjangan daerah, mengingat tugas mereka adalah mendidik generasi Lebong. Kalau dilihat dari tanggung jawab sudah wajar jika mereka mendapatkan gaji minimal sama dengan upah minimum regional,” tambah Nastomi. Salah satu guru honor di SD Trans Pelabai Nurhasanah saat ditemui wartawan di Trans Pelabai mengatakan dirinya bersama dua guru honor lainnya berharap agar pihak Diknaspora Lebong dapat menempatkan guru sekolah yang telah PNS di kelas jauh tersebut dengan tujuan murid-murid di sekolah tersebut tidak ketinggalan dengan murid sekolah lain. “Di SD sini hanya ada tiga guru honor, satu penjaga sekolah, serta satu penjaga perpustakaan dan tidak ada satupun guru PNS. Saya jadi guru disini sudah 3 tahun terhitung dari SK honor saya dari bulan April 2009,” kata Nurhasanah yang juga Guru Kelas II ini. Dengan minimnya fasilitas dan tenaga pengajar ini, Nurhasanah berharap ke depan di sekolahnya ini ditempatkan guru PNS, dan adanya penambahan ruang kelas baru, sebab selama ini siswa yang kelas IV hingga kelas VI harus berjalan sekitar 2 KM untuk dapat bersekolah ke SD induk di Desa Pelabi. “Selain itu, saya berharap juga SD ini menjadi SD Negeri dan semua guru yang telah mengabdi dapat diangkat menjadi Guru PNS,” harap Nurhasanah. (777)