HMI Minta SBY Stop Teror Kenaikan Harga BBM

SBYJAKARTA – Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) meminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menghentikan wacana kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Organisasi Hijau Hitam ini menilai rencana kenaikan BBM bersubsidi April mendatang sudah menjadi teror. Apalagi saat ini, hampir bersamaan pemerintah juga telah menaikkan harga tarif dasar listrik (TDL) dan rencana kenaikan harga elpiji 12 kilogram.

Ketua Bidang Hukum dan HAM  PB HMI Aulia Kosasih mengatakan kenaikan BBM ini merupakan menyangkut hajat hidup orang banyak. Makanya kata dia, kenaikan BBM tidak boleh didasarkan pada aspek ekonomi semata.

“Ada hak-hak konstitusi rakyat yang tidak bisa diabaikan begitu saja  seperti yang tertuang dalam pembukaan dan pasal-pasal pada Undang Undang Dasar 1945,” ujar Ketua Bidang Hukum dan HAM  PB HMI Aulia Kosasih kepada wartawan di sela-sela acara Kongres HMI di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Senin (18/3).

Sebelumnya Staf Khusus Presiden untuk Penanggulangan Kemiskinan HS Dillon kepada wartawan, Kamis (14/3) menyebutkan, seluruh penasihat Presiden SBY telah meminta presiden mengambil keputusan untuk menaikkan harga BBM bersubsidi yang disarankan pada April 2013 ini.

Aulia menjabarkan, sejumlah konsideran dalam konstitusi di antaranya menyebutkan soal hak dasar seperti hak untuk hidup secara layak dan hak untuk dilindungi. Ada pula pasal soal penggunaan semua kekayaan bangsa mulai air, tanah dan kekayaan alam lain demi untuk kesejahteraan rakyat. “Ini mendasar tidak bisa dianggap sepele, karena inilah tujuan kita bernegara yakni melindungi rakyatnya,” ujarnya.

Alumnus Fakultas Hukum Universitas Indonesia menilai, pemerintah selalu saja mendasarkan penaikan BBM bersubsisi pada tiga argument yang sama setiap tahunnya. Yakni APBN akan jebol jika harga BBM bersubsidi tidak dinaikkan. Kedua, selama ini subsidi BBM tidak tepat sasaran karena itu BBM harus dinaikkan sehingga subsidi Pemerintah kepada masyarakat miskin semakin tepat sasaran.

Ketiga, jika BBM tidak dinaikkan, defisit APBN akan mencapai 3,6 persen (melampaui batas maksimal defisit anggaran sebesar 3 persen yang diamanatkan UU Keuangan Negara).

Semua argument tersebut lanjut Aulia adalah sumir dan mudah terpatahkan.  Pertama, subsidi adalah hak rakyat yang dijamin UU yang tidak cocok menggunakan logika ekonomi liberalisme. Selanjutnya, jika subsidi berjalan tidak tepat sasaran itu bukan kesalahan rakyat, melainkan kesalahan pengelola negara ini.

“Termasuk jika terjadi penyelundupan BBM bersubsidi itu gambaran lemahnya system pengawasan dan penindakan serta penegakan hokum oleh pemerintah. Nah, ini logikanya terbalik pemerintah yang salah tapi kemudian rakyat dipaksa harus menanggung beban akibat ketidak becusan pemerintah tersebut,” jelas dia.

HMI, tegas dia, jelas menolak penaikan BBM. Selain tidak tepat juga dianggap tidak perlu. Sebab, jika argument utamanya menaikkan BBM bersubsidi karena APBN harus menanggung beban subsidi sekitar Rp55,1 triliun, angka tersebut bisa dikejar dengan penghematan anggaran. Angka tersebut dinilai kecil jika dibandingkan dengan inefisiensi dan kebocoran anggaran yang pernah disebut Kwik Kian Gie mencapai 30 persen. “Kita tegas-tegas menolak penaikan BBM itu,” ucap Aulia.

Terlebih, saat ini saja akibat kenaikan BBM bersubsidi rakyat sudah menjerit. Mulai TDL, harga produk makanan dan minuman, bahan pokok, transportasi, pendidikan naik hingga 15 persen.

“Belum lagi banyaknya tarikan, retribusi dan pajak yang juga menjadi beban rakyat. Bahkan kenaikan harga bawang yang mencapai 1000 persen akibat dari ketidakbecusan pemerintah harus ditanggung rakyat,” pungkas kandidat ketua umum PB HMI ini. (jpnn)