HL Hambat Pertanian

KEPALA Dinas Pertanian Provinsi Bengkulu Edi Nevian mengatakan, yang menjadi kelemahan utama pembangunan di bidang pertanian di Provinsi Bengkulu yaitu 40 persen hutan di Bengkulu adalah hutan lindung.  “Kalau kita mengacu dana APBD Bengkulu kalah dengan daerah lain.  Kelemahan kita 40 persen hutan lindung,” ujar Edi Nevian.

Selain itu juga pola petani di Provinsi Bengkulu tidak mau berkonsultasi dengan penyuluh pertanian secara rutin. Giliran harga sawit naik petani merasa diam-diam saja, namun jika harga sawit turun, maka petani akan berteriak kencang bahkan sampai ngadu ke DPRD, seharusya kata Edi Nevian kondisi apapun yang dialami petani sebaiknya menyampaikan kepada pemerintah melalui penyuluh pertanian.

  Selain itu juga untuk tanaman pangan meningkatkan produksi beras sesuai dengan target dari Pemerintah Pusat agar Indonesia bisa swasembada pangan tahun 2015.

Melalui program peningkatan  produksi program cetak sawah dan mencari lokasi harus di kaji dulu dengan peneliti Unib dan  proyek ini sangat rawan korupsi dan dulu program cetak sawah banyak membuat PNS pertanian  yang masuk penjara.

“Kita juga trauma untuk program cetak sawah inikan dulunya banyak bermasalah, dan ini harus  hati-hati,” kata Edi Nevian.
Tinggal lagi bagaimana mengoptimalkan sawah terlantar dengan memperbaiki irigasi harus ada sinergi antara Dinas PU dengan pertanian.

Sebab ada peraturan dari pemerintah pusat untuk lahan diatas 3000 hektar merupakan kewajiban pemerintah pusat. 2000 hektar provinsi dan 1000 hektar irigasi  milik kabupaten urusan beras menjadi hal yang utama.  “Kita punya kelebihan lain yaitu sayur-sayuran yang di jual di Riau berasal dari Rejang Lebong. Dan  terminal Agrobisnis harus di aktifkan kembali,” ujarnya.(100)