Himpun 50 Ribu Makanan Halal Segala Kemasan

4351_3289_OKE--foto-boks2Nugroho Agung Pambudi, Pencipta Aplikasi HalalMinds

Tinggal enam tahun di luar negeri membuat Nugroho Agung Pambudi cukup sensitif terkait produk halal. Apalagi, negara yang ditinggali menggunakan huruf non-Latin seperti Jepang, Thailand, atau Korea Selatan. Hal itulah yang membuat peneliti energi panas bumi tersebut mencetuskan HalalMinds, aplikasi smartphone pengenal produk halal.

***

SEJAK menetap bersama keluarga pada 2011 di Fukuoka, Jepang, boleh dibilang Agung sudah terbiasa hidup di Negeri Sakura itu. Menuntut ilmu mengenai energi panas bumi di Universitas Kyushu, berkomunikasi dalam bahasa Jepang sudah bukan halangan.
Namun, seberapa pun lancar Agung berbahasa Jepang, ada satu yang sampai saat ini belum dikuasai: tulisan kanji. Tak mudah memang menghafalkan tulisan yang jumlahnya mencapai 50 ribu karakter tersebut.
”Kanji ini memang tak bisa gampang dipelajari. Meskipun sudah belajar, tetap saja sering lupa. Biasanya memang hanya orang yang sejak kecil di Jepang yang bisa. Karena kurikulum pendidikan dasar di Jepang mengharuskan belajar ribuan karakter,” kata ayah dua anak tersebut.
Dari semua kemudahan yang diraih di Jepang, huruf inilah yang menjadi satu-satunya beban bagi Agung. Sebab, Jepang bukanlah negara yang punya sertifikasi halal. Praktis, Agung mengaku sering waswas soal produk-produk halal, terutama makanan.
”Ya sebagai muslim minoritas di negeri orang, kami terpaksa hati-hati membeli makanan. Padahal, ya belum tentu produk itu haram. Cuma, karena kita tidak mengerti bahannya yang ditulis dalam kanji, jadi tidak berani beli,” katanya.
Rasa khawatir itu tak hanya dialami sewaktu di Jepang. Sebelum tinggal di Jepang, Agung sebenarnya sudah mengunjungi beberapa negara. Mulai Thailand, Taiwan, Korea Selatan, hingga Finlandia. Sialnya, kebanyakan negara yang pernah ditempati punya sistem huruf yang berbeda. Alhasil, Agung mengaku tak pernah leluasa dalam membeli makanan.
”Memang sih ada resep dari teman. Biasanya dikasih foto produk mana yang halal. Tapi bayangkan, saya ke supermarket harus mencari produk yang sama di foto di antara ribuan produk lainnya. Akhirnya jadi ribet,” ungkapnya.
Baru tahun ini akhirnya Agung punya ide untuk membuat aplikasi pencari produk makanan halal. Untuk mempermudah, pihaknya berencana menggunakan sistem pindai atau scan. ”Waktu itu ada dua kemungkinan. Entah scan barcode atau huruf kanji. Tapi, sistem pindai kanji belum established. Masalahnya, jenis font dan ukurannya berbeda-beda. Apalagi, ada kemasan yang tidak datar. Karena itu, kami akhirnya memilih sistem scan barcode,” paparnya.
Dengan begitu, Agung yang juga dibantu beberapa teman Jepang mengembangkan sistem database dengan algoritma. Dengan algoritma tersebut, tim pembuat dengan mudah memasukkan bahan daftar baku pada produk ke database.
”Ini memang tidak 100 persen halal. Karena kami hanya mempertimbangkan ingredients saja. Kan ada dua macam halal. Halal secara bahan baku dan halal secara proses. Kalau proses itu sudah internal perusahaan yang kami tidak bisa tahu. Tapi, setidaknya ini halal secara bahan baku,” jelasnya.
Bagaimana cara mengumpulkan daftar tersebut? Agung menjelaskan, kali pertama dirinya masuk ke sistem barcode salah satu situs penjualan terkenal. Di sana data produk makanannya mencapai 500 ribu. Namun, karena data tak mencantumkan apa saja bahan bakunya, dia memutuskan untuk membuat database sendiri. Saat ini dia sudah menghimpun lebih dari 50 ribu produk dengan segala kemasan.
”Dengan database kami sendiri, 75 persen yang dijual di supermarket bisa dikenali. Dan itu akan bertambah. Sebab, jika ada konsumen yang memindai tapi tak dikenali, akan langsung terkirim ke server. Kemudian, saya akan langsung mencari dan memasukkannya ke database,” paparnya.
Mei 2014 aplikasi tersebut sudah diluncurkan. Saat pertama, aplikasi hanya menawarkan scan produk makanan halal di Jepang, referensi restoran halal Jepang, dan fitur seperti Alquran harian dan arah kiblat. Namun, reaksi dari netizen cukup hangat. ”Banyak yang bilang jangan hanya di Jepang, tapi untuk seluruh negara,” ucapnya.
Berangkat dari respons tersebut, kini tim Agung sedang mengembangkan HalalMinds versi 2.0 dengan fitur lebih. Dalam versi ini, Agung berencana memperluas jangkauan ke negara lain. Misalnya ke Korea Selatan, Taiwan, dan Tiongkok. Negara-negara tersebut menjadi prioritas karena aksaranya yang berbeda.
”Memang sulit mencari database di sana. Sampai sekarang belum terlihat progres yang signifikan dari mereka,” katanya. Agung berencana menambahkan scan e-number. Itu kode untuk produk makanan di Eropa. ”Ini sudah pasti ada di versi terbaru Agustus,” ucap pria yang diwisuda September nanti tersebut.
Selain itu, Agung tengah mengembangkan sistem rating hotel halal. Sistem tersebut diklaim menjadi yang pertama yang ada di dunia. Dalam rating tersebut, pihaknya bakal menilai sebuah hotel cocok dengan konsumen muslim atau tidak. ”Dimulai dari apakah fasilitas tempat salat ada. Apakah makanan yang disajikan halal atau dekat dengan restoran halal. Lalu, bagaimana manajemennya,” perincinya.
Dengan sistem ini, Agung berharap bisa membangun komunitas muslim di negara-negara minoritas. Serta mendorong industri pariwisata muslim dunia. Sebab, saat ini memang sudah banyak negara yang mulai melirik industri tersebut. ”Populasi muslim di dunia mencapai 1,8 miliar jiwa, tapi kebutuhan yang terpenuhi baru 20 persen. Jadi, pasti banyak negara yang mengincar,” ujar dia.
Tak perlu jauh-jauh, kota tempat tinggal Agung saat ini, Fukuoka, sudah mulai mencuri start. Dia mengaku saat ini sedang dimintai bantuan pemerintah kota untuk menciptakan citra kota ramah muslim (moslem friendly city). ”Baru saja dibangun masjid kedua di Bandara Fukuoka. Dalam waktu dekat pemerintah juga akan membangun masjid ketiga,” ungkapnya.
Agung menjelaskan, hal tersebut disebabkan memang banyak turis muslim yang berkunjung ke Jepang. Meski hanya ada 150– 180 ribu umat Islam yang menetap di Jepang, sekitar 1 juta muslim diketahui berkunjung ke Negeri Matahari Terbit itu. Hal tersebut tentu saja dinilai sebagai potensi yang besar.
”Dengan adanya aplikasi ini, muslim yang ingin berkunjung ke Jepang tentu merasa lebih mudah. Dengan begitu, juga mendorong pariwisata muslim. Jadi, semuanya ada timbal baliknya,” tutur pria yang mengaku sedang rindu kampung halaman itu. (**)