Hari Kedua PPDB di Kota Bengkulu Diterpa Isu Jual Beli Kursi

Bengkulu Ekspress
ENDANG/Bengkulu Ekspress PROTES: Sejumlah walimurid menyampaikan protes terkait tak kunjung diumumkannya perankingan siswa yang diterima di SMAN 4 Kota Bengkulu, kemarin (4/7).

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Hari kedua Pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di Kota Bengkulu diterpa isu tak sedap, yakni praktik jual beli kursi sekolah. Peristiwa yang selalu mencuat setiap PPDB itu besarannya pun beragam, terendah berkisar Rp 800 ribu/siswa hingga jutaan rupiah.

Informasi yang dikumpulkan Bengkulu Ekspress, praktek dugaan jual beli bangku sekolah melibatkan oknum sekolah, modusnya oknum sekolah menawarkan kepada calon siswa atau siswa pindahan yang ingin masuk ke sekolahnya.

Salah satu walimurid MR , warga Kota Bengkulu membenarkan jika telah ditawari oknum guru dengan nilai tersebut di salah satu SD di Kota Bengkulu. “Saat itu saya mendaftar di SDN xx, tapi kartu antriannya habis. Kemudian ada guru yang menawari dan kalau mau pasti masuk bayar Rp 800 ribu, ” ujarnya menirukan.

Permintaan oknum itu belum digubris MD, ia masih memilih mendaftarkan anaknya melalui prosedur yang benar.

Sementara Tri, warga Panorama yang telah mendaftarkan anaknya di salah satu SMPN di kota Bengkulu juga telah ditawari oleh oknum, tarif untuk bisa masuk lewat belakang cukup membayar Rp 5 juta/anak.

“Kalau masuk pake kursi belakang bayar Rp 5 juta,” akunya.

Terkait isu jual beli kursi tersebut Kepala SDN 19 Kota Bengkulu, Matsuri Efendi menyatakan, membenarkan adanya isu jual beli kursi itu, namun ia menyatakan hal itu tidak terjadi sekolahnya.

Ia mengaku, memang pernah ada walimurid yang menawarkan uang dan memaksa agar dirinya bisa menerima anaknya diterima di SDN 19 kota Bengkulu, namun dengan tegas ia menolaknya.

“Memang hari pertama ada walimurid yang bersedia mengeluarkan uang, tapi saya tegaskan PPDB tahun ini sesuai dengan prosedur dan Juknis PPDB, ” katanya.

Menurut Matsuri, sistem PPDB yang diterapkan di sekolahnya murni zona/rayon yang ditetapkan Dikbud, dengan menggunakan Kartu Keluarga. Sehingga orang tua yang diluar zona tidak bisa diterima di sekolah yang dipimpinnya itu.

Pendaftaran dilakukan melalui sistem zona, sehingga tidak bisa lagi untuk bermain-main, terlebih pendaftaran menggunakan kartu Keluarga. “Kita ingatkan walimurid yang lewat jalur belakang, siswanya tidak terdaftar dalam dapodik dan tidak mendapatkan bantuan operasional sekolah,” katanya.

Selain itu, Matsuri menyatakan, jika sampai ada siswa lewat jalur belakang, yang dirugikan anak didik sendiri. “Siswa tidak akan bisa mengikuti ujian, karena tidak terdaftar dan tidak memiliki Nomor Induk Siswa,” terangnya.

Panitia SMPN 4 Di Protes
Sementara itu, Hari kedua pelaksanaan PPDB di SMPN 4 Kota Bengkulu sempat memanas. Aksi protes terjadi di SMPN 4 Kota Bengkulu sekitar pukul 14.00 WIB. Pasalnya pihak sekolah sudah dua hari tak kunjung mengumumkan perangkingan siswa yang diterimanya.

Sekolah dituding telah melanggar petunjuk teknis PPDB dan prosedur operasional standar PPDB sekolah dengan menahan perangkingan siswa yang diterima tiap harinya. Seperti yang diumumkan pada Pos PPDB pada Poin II Pelaksanaan PPDB angka 4 berbunyi rangking pendaftaran dilakukan setiap hari mulai pukul 14.00 WIB. Pos PPDB itu sebelumnya ditempel pihak sekolah, namun entah kenapa pasca diprotes pengumuman Pos PPDB hilang.

“Dari kemarin kita bolak balik ke sekolah untuk melihat perankingan, sampaia hari ini (kemarin-red) tidak juga ditempel, saat ditanya ditunda besok terus,” ungkap walimurid yang tidak mau disebut identitasnya.

Ditegaskan ibu itu, mestinya sekolah bersikap transparan, jika anaknya tidak diterima di sekolah itu, semestinya diumumkan, dan kembalikan berkas . Apa yang dilakukan sekolah justru menimbulkan kecurigaan. Terlebih sekolah lain pun telah mengumumkan hasil perankingan siswa barunya.

“Kami maunya jelas, anak tidak diterima berkasnya dikeluarkan, supaya kami bisa mendaftar ke sekolah lain, bukan malah ditahan-tahan. ” cetus walimurid lainya.

Terkait persoalan itu, Kepala SMPN 4 Kota Bengkulu, Mala Hartati enggan ditemui wartawan. Hanya saja anggota panitia PPDB Zulfar saat dikonfirmasi membantah jika sekolah sengaja menunda-nunda pengumuman perankingan.

Menurutnya keterlambatan dalam mengumumkan perankingan dikarenakan panitia kesulitan dalam memilah-milah berkas yang telah masuk. “Karena perankingan dilakukan berdasarkan jarak tempat tinggal, jadi agak lambat mengerjakannya, ” ujarnya.

Zulfar menjelaskan, berbeda dengan sistem perangkingan nilai angka yang telah masuk dalam sistem komputer, begitu data dimasukkan dalam komputer langsung inklud, beda dengan sekarang mengukur jarak dulu, maka jadi telat meranking.

Zulfar mengakui keterlambatan perankingan itu telah menyalahi Pos PPDB yang telah diumumkan sekolah. Namun demikian panitia PPDB sekolah telah berupaya maksimal.

Hingga hari kedua PPDB ini berkas yang sudah diterima sebanyak 300 berkas, sementara kuota yang akan diterima zona 90% adalah 230 siswa, sementara jalur prestasi dan pindah rayon sebanyak 26 siswa. Dari berkas yang telah masuk tersebut, tentu tidak semua akan diterima, melainkan diseleksi persyaratannya dan jarak terdekat.

Wajib Bawa Orang Tua

Sedangkan PPDB jenjang Sekolah Menengah kejuruan (SMK) bebas zonasi. Hal ini memberikan peluang bagi siswa untuk masuk ke sekolah kejuruan sangat tinggi. Peminat siswa SMK terbanyak dari luar daerah.

Pantauan Bengkulu Ekspress di SMKN 1 Kota Bengkulu, sekolah rujukan nasional itu sudah membuka pelayanan PPDB sejak pukul 08.00 wib, dengan disiapkan lima loket untuk lima kejuruan.

Roni salah satu walimurid menuturkan, seleksi bebas zonasi yang diterapkan tahun ini sangat menyita waktu. Terlebih seleksi di SMKN 1 kota Bengkulu, salah satu syarat wajib mendaftar harus didampingi walimurid selain berkas seperti ijazah, akta dan lainya. “Saya sudah dua hari mengikuti prosesi PPDB ini, sehingga saya harus tidak bekerja,” ujar pria yang mengaku berprofesi security itu.

Ia berharap ha-hal seperti ini tidak dilakukan, karena tidak semua orang memiliki kemampuan finansial yang sama, masih banyak orang tua yang tidak bekerja hanya untuk mendampingi anaknya.

Sementara itu Kepala SMKN 1 Kota Bengkulu, Dra Hj Evriza MPd bersyukur minat siswa masuk SMK tinggi. Dihari pertama PPDB sudah lebih 100 peserta yang mendaftar. Dan kebanyakan dari luar kota Bengkulu, sehingga masih banyak siswa yang baru pindah rayon.

Ia berharap dalam PPDB tahun ini semua calon masyarakat SMKN 1 Kota Bengkulu yang berminat bersekolah disini dapat memenuhi sesuai dengan prosedur operasional standar PPDB.(247)