Harga Tandan Buah Segar Kembali Anjlok

PENETAPAN HARGA SAWIT
Jos/Bengkulu Ekspress
Pemprov bersama Gapki menggelar sosialisasi Peraturan Menteri Pertanian tentang Pedoman Penetapan Harga TBS Kelapa Sawit produksi kebun di Hotel Rafflesia Bengkulu, kemarin (8/8).

Ditetapkan Rp 1.071/Kg

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bengkulu bersama Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Provinsi Bengkulu menurunkan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit. Penurunan cukup besar, dari harga Rp 1.200/Kg menjadi Rp 1.071/Kg.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura dan Perkebunan (DKPHP) Provinsi Bengkulu, Ir Ricky Gunawan mengatakan, harga tersebut masih ditolerasi 5 persen menjadi Rp 1.018 perkilonya.

“Penetapan harga ini berlaku untuk bulan Agustus saja. Harga Rp 1.200 itu untuk harga bulan Juli lalu,” terang Ricky kepada BE usai menggelar sosialisasi Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 01/Permentan/KB.120/1/2018 tentang Pedoman Penetapan Harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit produksi kebun di Hotel Rafflesia Bengkulu, kemarin (8/8).

Dijelaskannya, penurunan itu terjadi lantaran ada penurunan harga penjualan CPO di dunia. Sehingga memaksakan penuruanan harga kelapa sawit ditingkat masyarakat khususnya di Bengkulu. Meski demikian, harga tersebut hanya berlaku satu bulan. Sebab, pemprov dan Gapki akan kembali menggelar rapat untuk menetapkan harga sawit di untuk September mendatang.”Setiap bulan harga itu berubah. Bisa naik dan juga bisa turun, tergantung pasaran dunia,” jelasnya.

Harga tersebut harus dipatuhi oleh semua perusahaan perkebunan. Jika tidak mematuhi, maka pemprov akan memberikan sanksi berupa pencabutan izin yang akan dilakukan oleh bupati pemilik wilayah perkebunan sawit.



“Bulan lalu ada dua yang kita berikan sanksi, berupa teguran. Kalau ada yang bulan ini masih ada yang bendel, kita tetap berikan saksi tegas itu,” ujar Ricky.

Sementara itu, Ketua Gapki Provinsi Bengkulu, Jhon Siregar menjelaskan, keputusan ini harus dipatuhi oleh semua perusahaan pemilik pabrik sawit. “Silakan patuhi keputusan ini,” tutur Jhon.

Dikatakannya, penurunan harga TBS itu terjadi tidak hanya di Bengkulu, tapi juga di daerah lain. Bahkan, ekspor CPO juga terhambat.  Dijelaskan, di Indonesia ekspor CPO dilakukan di Dumai dan Belawan. Kondisi saat ini, ada sekitar 40 ribu ton CPO di Belelawan tidak terekspor dan di Dumai ada sekitar 48 ribu ton terhenti pengeskporannya.



“Ekspor CPO kita ini banyak ke Eropa. Tapi sekarang CPO kita tidak bisa lagi jual ke Eropa. Sebab, Eropa lebih memilih produk daerahnya bunga matahari sebagai bahan pengganti CPO,” ungkapnya.

Kondisi saat ini, menurut Jhon, harus menjadi perhatiaan semua pihak. Namun demikian, harga ini masih bisa terjadi naik dan turun setiap harinya. Untuk itu, bulan depan, pihaknya akan kembali menggelar rapat untuk menentukan harga sawit terbaru.
“Mudah-mudahan kondisi seperti ini bisa berakhir dan bulan depan bisa naik,” tandas Jhon. (151)