Harga TBS Anjlok Sampai Rp 400

TAIS, BE – Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Seluma semakin anjlok. Setelah sebelum ini harga di tingkat petani jatuh sampai ke angka Rp 600 per kg, kemarin TBS makin melorot sampai ke titik terendah Rp 400 per kg. Akibatnya, petani sawit di Seluma makin terhimpit padahal saat ini pabrik CPO di Seluma sudah bertambah 1 unit lagi menjadi 3 unit.

“Kami tadi (kemarin. 18/11, red) jual sawit tinggal Rp 400 per kg. Sebelumnya Rp 600 per kg. Payah nian kami petani, sudah musim hujan susah mengeluarkan hasil panen dari kebun, harganya kecil sekali,” tutur salah seorang petani wanita, Erhadijah (46) warga Semidang Alas.
Lebih lanjut, Erhadijah mengeluhkan masalah disaat harga TBS makin anjlok, harga sembako terutama produk pabrikasi malah merangkak naik di pasar di tengah amsyarakat petani. Seperti gula, beras, minyak sayur dan sebagainya.

Dikatakannya, dirinya maupun petani lainnya berharap agar harga TBS segera normal kembali yakni, diatar Rp 1.000 per kg.
Sementara itu, salah seorang pedagang pengumpul TBS di Semidang Alas, Iwan (32) mengakui anjloknya harga sawit tersebut. Namun, menurutnya harga beli bagi pengumpul di tingkat petani saat ini bervariasi, kita TBS kualitas super masih Rp 700 per kg, tapi kalau TBS kualitas rendah memang bisa tinggal Rp 400 per kg. “Harga sawit ini tergantung kualitasnya. Kalau yang bagus, tidak pula terlalu rendah nian harganya,” katanya.

Hal serupa diungkap salah seorang toke atau penyalur TBS dari pengumpul ke pabrik, Novi (32) warga Kelurahan Pasar Tais Kecamatan Seluma. Menurutnya, naik turunnya harga beli pedagang terhadap TBS di tingkat petani itu tergangtung harga pabrik. Jika harga di tingkat pabrik turun, maka pedagang pun akan menurunkan harga. ”Sekarang harga sawit memang sedang turun-turunnya, pedagang tidak mau rugi,” katanya.

Kondisi anjloknya harga TBS tersebut seakan menampakkan pengaruh negatif dari hadirnya pabrik sawit di Seluma. Sebagaimana diketahui, pabrik CPO yang sudah lama ada di Seluma yakni di Desa Pring Baru Kecamatan Talo Kecil milik PTPN VII Talo-Pino dan di Air Periukan milik PT Agri Andalas. Sedangkan pabrik CPO yang baru beroperasi yakni di Desa Tumbuan Kecamatan Lubuk Sandi, milik PT Agro Indah Persada. (444)