Harga Sawit Makin Perkasa

DOK/BE
Produksi kelapa sawit mengalami penurunan, sedangkan harganya kian melambung.

BENGKULU, bengkuluekspress.com – Harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di Provinsi Bengkulu dalam dua bulan terakhir terus menunjukan kenaikannya, bahkan kini mencapai Rp 1.850 per Kg. Namun sayangnya kenaikan harga tersebut tampaknya belum mampu mendongkrak ekonomi petani, lantaran saat ini terjadi penurunan produksi panen. Ketua DPW Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Provinsi Bengkulu, A Jakfar mengatakan, saat ini harga TBS terus mengalami kenaikan. Di sisi lain, produksi atau hasil panen petani terus mengalami penurunan. Alhasil, petani belum mampu menikmati harga tinggi lantaran produksi sawit menurun sehingga pendapatan juga tidak bergerak.

“Memang harga sawit terus mengalami kenaikan, tapi produksi menurun. Terjadinya penurunan produksi sawit diperkirakan dampak kemarau panjang pada 2019 lalu dan siklus masa produksi sawit,” kata Jakfar, kemarin (26/1).

Meski produksi menurun, dalam satu bulan pengusaha sawit di Bengkulu mampu membeli sawit 100 ton dari petani. Namun, angka tersebut tidak begitu masksimal jika dibandingkan pada tahun-tahun sebelumnya yang mampu memproduksi diatas 100 ton dalam seminggu. “Memang tren penurunan produksi TBS ini diperkirakan sampai akhir bulan ini. Sedangkan untuk kenaikan harga TBS tidak terlalu fantastis, namun setiap hari harga TBS mengalami kenaikan kisaran Rp 30 sampai 40 rupiah per Kg,” tuturnya.

Ia menjelaskan, level terkini di petani harga TBS kelapa sawit sudah mencapai Rp 1.850. Kenaikan TBS sawit, kata dia, akibat naiknya harga CPO dalam dua bulan terakhir dan diprediksi akan terus mengalami kenaikan.”Kenaikan harga sawit ini menjadi harapan petani kelapa sawit setelah bertahun-tahun mengalami kemerosotan,” ungkapnya. Sementara itu, Ketua Serikat Tani Bengkulu, Muspani mengaku kenaikan harga TBS nyaris tidak dapat dinikmati para petani sawit. Alasannya, di saat harga TBS naik, produksi kelapa sawit menurun. Sehingga dampaknya tidak begitu terasa di masyarakat.

“Jika sebelumnya petani mampu menghasilan 1 ton sampai 1,5 ton TBS dalam satu hektare, kini merosot hingga 40 persen bahkan mungkin lebih. Ya sama saja, harga turun produksi melimpah. Harga naik produksi menurun,” keluhnya.

Bahkan, berdasarkan data BPS Provinsi Bengkulu NTP subsektor tanaman perkebunan rakyat tercatat sebesar 82,10. Artinya sektor kelapa sawit di daerah ini masih mengalami defisit. Ketika sektor tersebut defisit maka kenaikan harga sawit tersebut belum mampu memberikan kesejahteraan bagi para petani di daerah.”Kalau kita lihat dari NTP sektor tanaman rakyat pada Desember 2019 lalu, nilainya masih di bawah 100, artinya harga TBS sawit belum begitu mensejahtera petani di Bengkulu,” tutupnya.

petani-karet
Foto : IST

Kebun Karet Terancam
Sementara itu, anjloknya harga karet, ditambah serapan bahan baku karet untuk industri masih minim membuat petani kareta menjerit. Jika kondisi demikian terus berlangsung tidak kemungkinan petani karet akan beralih profesi. Bahkan ke depan, kebun karet di Bengkulu diperkirakan akan lenyap. Ketua Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Bengkulu, Azwardi Prasetia mengatakan, pada 2019 lalu, produksi karet nasional mencapai 3,55 juta ton, sementara serapan hanya mencapai sekitar 600 ribu ton. Ditambah lagi harga karet hanya USD1,4 per kilogram (kg) atau anjlok dari tahun-tahun sebelumnya. Padahal, pada 2011 silam harga karet sempat mencapai USD5 per kg. Melihat hal tersebut, ia memperkirakan petani karet akan beralih profesi.

“Serapan dan harga karet yang rendah akan membuat petani karet beralih profesi dan membuat pohon karet juga lenyap nantinya,” kata Azwardi, kemarin (26/1).

Ia mengaku, saat ini banyak petani karet yang mengeluhkan atas kondisi tersebut. Bahkan saat ini sudah banyak petani yang berencana beralih profesi.”Pesimistisnya petani, ganti pohon karet ke kelapa sawit. Takutnya nanti karet alam di Bengkulu hilang. Sedangkan Laos, Vietnam, Kamboja masih kembangkan karet. Suatu saat kita akan impor karet jika terus seperti ini,” ujar Azwardi.

Kondisi demikian diperparah dengan pohon karet yang kerap berpenyakitan. Sehingga membuat petani sulit mendapatkan keuntungan, karena harus merawat pohon miliknya. Oleh karena itu, tanpa bantuan pemerintah kondisi petani karet akan terus menderita, bahkan nantinya tidak akan ada lagi yang akan menanam pohon karet.”Kami berharap pemerintah bisa menggunakan karet alam lokal sebagai bahan baku aspal. Dengan begitu, produksi karet akan berkembang dan petani akan mengalami keuntungan,” ungkapnya. Ia menambahkan, tidak hanya sebagai bahan baku aspal, karet juga diharapkan juga bisa digunakan untuk blok-blok di pelabuhan. Pasalnya Bengkulu saat ini sedang mempersiapkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Pelabuhan Pulau Baai.

“Tidak hanya digunakan sebagai bahan baku aspal, karet juga bisa untuk blok anti gempa, blok-blok untuk pelabuhan dan lainnya,” tuturnya.

Bahkan pihaknya akan mengirim surat ke Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dan Menteri Riset dan Teknologi (Menristek). Harapannya agar Presiden Joko Widodo menerima usulan tersebut demi masa depan petani karet di daerah.”Kami melakukan itu agar kita nanti suatu saat tidak impor karet,” tutupnya.

Sementara itu, Ketua Kamar Dagang Indonesia Provinsi Bengkulu, Ade Tarigan mengatakan, serapan karet harus ditingkatkan dengan maksimal. Sehingga dapat meningkatkan ketahanan para petani di Bengkulu. Apalagi potensi pasar karet Indonesia menurun tajam hingga 70 persen. Selain karena faktor kualitas karet Indonesia yang buruk, juga munculnya produsen negara baru yang menghasilkan karet, yakni Vietnam, Kamboja, Laos, dan Myanmar. Sehingga diperlukan kebijakan nasional untuk menangani hal itu.”Perlu kebijakan nasional yang mampu secara masif, dan cepat menyerap hasil panen kebun untuk penuhi kebutuhan domestik seperti sebagai bahan baku minyak nabati atau aspal,” tutupnya.(999)



    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*