Harga Sawit Anjlok, Ekonomi Lesu

TAIS, BE– Anjloknya harga tandan buah segar (TBS) sawit di tingkat petani sejak sebulan terakhir berimbas terhadap kondisi ekonomi masyarakat Seluma. Usaha mikro milik masyarakat dalam bentuk usaha perdagangan kecil-kecil menjadi lesu. Terutama pada usaha perdagangan kuliner, sampai pada sandang dan papan hingga perdangan elektronik. Beberapa pekan terakhir, harga TBS di tingkat petani sempat turun hingga ke titik terendah Rp 400 per kg. Namun, rata-rata harga TBS hingga kini hanya bertengger pada angka Rp 600 sampai dengan Rp 800 per kg. Kondisi harga tersebut jauh dari keadaan normal yang biasanya harga TBS di tingkat petani diatas Rp 1.000 per kg. Sedangkan saat iniĀ  petani Seluma sudah lebih dari 70 persen mengandalkan komoditas sawit.

“Sepi nian jualan sekarang ini, mungkin karena harga sawit sedang murah. Biasanya kalau harga sawit sedang nomal, pendapatan kami berjualan lumayan untuk kebutuhan sehari-hari,” ungkap pemilik Pondok Tongseng di Kelurahan Sidomulyo Kecamatan Seluma Selatan, Sterno (34).

Hal serupa dituturkan salah seorang tukang bangunan warga Seluma Timur, Kedok (26). Menurutnya, dari pengalaman selama ini, ketika harga sawit anjlok, dirinya dan kawan-kawanya sesama profesi tukang merasakan sulit mencari kerja tukang, karena umumnya masyarakat yang sedang membangun rumah maupun bangunan lainnya menghentikan sementara waktu. Alasannya juga karena harga sawit sedang anjlok.”Biasanya kalau harga sawit turun, imbasnya cukup besar karena orang mengalami kesulitan pendanaan,” tuturnya. (444)\