Harga Beras Harus Disesuaikan Daya Beli Rakyat Miskin

Seorang pekerja mendorong kereta beras di sebuah industri penggilingan beras premium di Kelurahan Jongbiru, Kediri, Jawa Timur, Selasa (6/1).JAKARTA – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengingatkan sensitifnya harga pangan. Berbicara pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) dan Perhimpunan Penyuluh Pertanian (Perhiptani), SBY menekankan bahwa harga beras yang menjadi makanan pokok harus disesuaikan dengan kemampuan beli rakyat miskin.

SBY mengatakan jika harga beras melambung tinggi di atas kemampuan daya beli masyarakat miskin tentu menjadi permasalahan yang serius. Makanya kata dia, untuk mengantisipasi adanya lonjakan harga, ketersediaan beras harus ditingkatkan.

“Jika ketersediaan beras ke depan semakin baik, maka kemiskinan akan berkurang. Pembangunan dan kemiskinan adalah satu kesatuan yang harus kita pecahkan bersama,” kata SBY dalam Rakernas bertajuk “Peran Strategis Otonomi Daerah Dalam Mewujudkan Ketahanan, Kemandirian dan Kedaulatan Pangan” di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta (20/2).

Turut pula dalam Rakerna ini Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi, Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Djoko Suyanto, Ketua DPD RI Irman Gusman dan diikuti oleh seluruh Bupati dan Penyuluh Pertanian seluruh Indonesia.

Apkasi sendiri siap mendukung program pemerintah surplus beras 10 juta ton pada 2014. Ketua Umum Apkasi Isran Noor menyatakan pihaknya sudah komitmen dan mempersiapkan penanganan ekstra dalam pencapaian target program swasebada beras.

Isran yang juga menjabat selaku bupati Kutai Timur mengungkapkan bahwa diperlukan langkah yang inofatif dalam mewujudkan ketahanan dan kemandirian pangan sehingga Indonesia akan dapat memiliki tata pangan yang berdaulat. “Dalam mewujudkan hal tersebut, akan didukung oleh Perhiptani yang merupakan sebuah organisasi para penyuluh pertanian yang sudah berperan penting dalam mendukung swasembada pangan sejak sekitar 25 tahun yang lalu,” katanya. (awa/jpnn)