Harga Ayam Mulai Turun

Foto : IST

BENGKULU, bengkuluekspress.com – Harga daging ayam ras di sejumlah pasar tradisional di Kota Bengkulu beranjak turun setelah sempat mencapai Rp 35 ribu per kilogram pada awal Januari 2020 lalu. Saat ini harganya hanya berkisar Rp 23 ribu per kilogram. Pedagang daging ayam ras di Pasar Tradisional Modern (PTM) Kota Bengkulu, Sunandar mengaku, harga ayam ras beranjak turun karena pasokan ayam ras saat ini cukup banyak. Hal ini akibat dari banyaknya peternak ayam ras yang sudah mulai panen sehingga menyebabkan pasokan ayam di Kota Bengkulu menjadi banyak.

“Saat ini pasokannya sudah cukup banyak, berbeda dengan beberapa waktu lalu yang jumlah pasokannya sudah sedikit, jadi wajar harganya mulai turun,”ujar Sunandar, kemarin (23/1).

Ia memperkirakan harga daging ayam ras akan berangsur turun dalam beberapa hari ke depan hingga akhirnya kembali normal pada kisaran Rp 22 ribu hingga Rp 20 ribu per kilogram.¬† Hal ini mengingat saat ini harga ayam di tingkat peternak juga cukup murah. Bahkan harganya hanya berkisar Rp 13.500 hingga Rp 14.500 per kilogram. “Perkiraan kami harganya akan terus turun seiring dengan murahnya harga ayam di tingkat peternak,” tutupnya.

Sementara itu, Pedagang daging ayam di Pasar Panorama Kota Bengkulu, Ari Anggara mengatakan, sejak beberapa minggu terakhir, harga daging ayam ras terus mengalami penurunan. Bahkan setiap hari penurunannya mencapai Rp 1.000 hingga Rp 2.000 per kilogram. Hal ini diakibatkan jumlah pasokan ayam yang cukup banyak ditambah harga ditingkat peternak yang cukup murah juga.

“Pasokan banyak, kemudian harga di tingkat peternak murah, harga juga turun,” tutupnya.

Di sisi lain, peternak ayam ras di Kota Bengkulu, Timan mengatakan, hingga saat ini, harga ayam hidup lepas kandang masih rendah jika dibandingkan dengan harga pokok produksi (HPP).Hal itu dipicu oleh berlebihnya pasokan ayam. Sehingga membuat harga ayam hidup lepas kandang saat ini berada di kisaran Rp13.500-14.500 per kilogram, sedangkan HPP masih berada di angka Rp17.500-18.000 per kilogram. “Sebetulnya jelang Natal 2019 lalu harganya sempat mendekati HPP, yaitu sekitar Rp17.000 per kilogram. Harapan kami paling tidak harga ini bisa bertahan hingga tahun baru, tetapi ternyata setelah Natal harga terus turun sampai sekarang,” katanya.

Ia mengatakan, dengan anjloknya harga tersebut, peternak rakyat terus mengalami kerugian. Bahkan saat ini saja pihaknya sudah rugi hingga ratusan juga rupiah. “Seperti saya saja, dalam satu bulan rata-rata bisa rugi sampai Rp200 juta. Kalau ini sudah berjalan selama 17 bulan, berapa besar kerugian saya,” tutupnya. (999)



    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*