Hanura Tetapkan Kriteria Calon Walikota

Sekretaris DPC Partai Hanura Kota Bengkulu, Nurman Sohardi
Sekretaris DPC Partai Hanura Kota Bengkulu, Nurman Sohardi

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) Kota Bengkulu memiliki kriteria calon pemimpin sendiri, yakni yang berani membuat terobosan-terobosan untuk membuat pemerintahan menjadi lebih baik sehingga Bengkulu lebih berwibawa dan lebih bermartabat.

Idealnya adalah sosok yang berdedikasi, amanah,merakyat dan bertanggung jawab menjadi hal penting yang harus dimiliki seorang calon pemimpin.

Sekretaris Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Hanura Kota Bengkulu, Nurman Sohardi SE menegaskan, saat ini Kota Bengkulu butuh pemimpin yang mampu membenahi sitem pemerintahan yang dinilainya kacau. Selain itu, Kota Bengkulu juga membutuhkan pemimpin yang peduli akan nasib rakyatnya.

“Masih ada 72 ribu warga miskin di Kota Bengkulu. Persoalan kemiskinan menjadi salah satu konsen Hanura dalam memilih calon walikota,” ujar Nurman kepada Bengkulu Ekspress, kemarin (17/9).

Diungkapkan Nurman, Hanura mencari calon pemimpin yang mempunyai konsep pengentasan kemiskinan dan mampu mewujudkan pemerintahan yang bersih dan bertanggung jawab.

“Hanura adalah Hati Nurani Rakyat, itu misi pertama Partai Hanura. Jadi, Hanura mencari sosok pemimpin yang merakyat, dekat dengan rakyat dan tentunya menaruh perhatian khusus terkait permasalahan yang dihadapi masyarakat,” ungkap Nurman.

Lebih lanjut dikatakan Nurman, ada 72 ribu masyarakat kota yang masih miskin, karenanya Hanura mencari pemimpin yang mampu mengatasi persoalan kemiskinan. Bagaimana dia membenahi pendidikan dasar, kesehatan dasar, dan berbagai pesoalan mendasar lainnya.

“Kriteria seperti inilah yang dicari oleh Hanura untuk memimpin Kota Bengkulu dan pantas diusung untuk pemilihan walikota Bengkulu mendatang,” lanjut Nurman.

Selain pemimpin yang merakyat dan berdedikasi, ia juga mengatakan tengah mencari sosok pemimpin yang mampu membuat pemanfaatan teknologi yang memadai di seluruh kantor pemerintahan. Karena Hanura hanya menginginkan pemimpin yang bisa memberikan pemerataan pemanfaatan teknologi.

“Bahkan bila perlu memiliki sebuah ruangan khusus yang bisa memantau seluruh aktifitas organisasi perangkat daerah (OPD). Bagaimana serapan anggarannya, sudah berapa pembangunan yang sudah terprogram dan direalisasikan agar lebih terorganisir,” terang Nurman.

Terakhir Nurman mengungkapkan, Hanura mencari sosok pemimpin yang mampu belajar dari berbagai daerah yang lebih baik dari Bengkulu. Pemimpin yang mencontoh daerah yang lebih baik dan tetap amanah dalam menjalankan pemerintahan.

“Sosok pemimpin yang dicari adalah pemimpin bertanggung jawab, serta mau belajar untuk perbaikan dan tidak melupakan amanah yang diberikan kepada rakyat dan janjinya kepada rakyat untuk membangun Bengkulu,” tukasnya.

Untuk diketahui, Hanura sendiri memiliki 3 kursi di DPRD Kota Bengkulu dan masih membutuhkan 4 kursi lagi untuk bisa mengusung pasangan calon walikota dan wakil walikota pada Pilwakot 2018 mendatang.

Incumbent Bukan Jaminan

Sementara itu, Pengamat Politik dari Universitas Bengkulu, Drs Azhar Marwan MSi mengemukakan, popularitas pasangan incumbent H Helmi Hasan SE dan Ir Patriana Sosialinda saat ini bukan jamainan, karena mulai disusul oleh calon-calon lain. Hal ini dikarenakan ambisi calon-calon baru mulai menguat untuk mendapatkan pendukung.

“Artinya saat ini incumbent tidak bisa lagi duduk diam dengan popularitas yang sudah dibangun selama 5 tahun sebelumnya. Karena calon-calon baru ini terus berupaya mengambil alih masyarakat pendukung,” ujar Azhar, kemarin (17/9).

Ia menilai, langkah Helmi Hasan yang sampai saat ini belum memberikan kepastian untuk mencalon kembali, serta Ir Patriana Sosialinda yang saat ini juga masih belum gencar melakukan sosialisasi akan memberikan ancaman tersendiri. Selain itu, rekam jejak selama masa memimpin 5 tahun terakhir akan menjadi evaluasi tersendiri oleh masyarakat. Menurutnya, baik buruknya calon incumbent dalam memimpin Kota Bengkulu selama ini bisa menjadi bumerang, apalagi jika timbul provokatif-provokatif dalam penilaian kerja selama ini.

“Itu akan menjadi bumerang tersendiri jika yang bersangkutan tidak meningkatkan elektabilitas atau meningkatkan kepercayaan masyarakat di sisa-sia masa kepemimpinannya,” ungkap Dosen Ilmu Sosial dan Politik Universitas Bengkulu ini.

Ditambah lagi, lanjutnya, saat ini banyak kandidat yang akan memanfaatkan jalur perseorangan, dengan syarat minimal mengumpulkan 22 KTP yang tersebar di 5 kecamatan. Artinya, sebagian besar masyarakat pendukung bisa hilang jika masing-masing calon dari kader partai tidak mampu menjaga suara tersebut.

Pun demikian, ia memprediksi hanya ada 2 bakal calon yang lolos melalui jalur perorangan tersebut. Hal itu dikarenakan untuk melakukan pengumpulan KTP dukungan sebanyak 22 KTP tidak mudah, terlebih lagi proses verifikasi data di KPU nantinya akan lebih intensif.

“Akan terjadi persaingan yang cukup ketat antara calon perorangan dan calon dari jalur Partai Politik dalam Pilwakot ini. Hal tersebut dikarenakan calon perorangan maju berdasarkan dukungan langsung dari masyarakat,” pungkasnya. (805/999)