Hafal 30 Juz Al Qur’an, Pelajar Seluma Kuliah di Turki

Ahmed Afsel Al Afghani warga Pasar Tais Seluma bersama orang tuanya, Siswanto.

TAIS, bengkuluekspress.com – Buah manis dari tujuh tahun menuntut ilmu dengan mondok di pesantren tidaklah sia sia. Pasalnya, Ahmed Afsel Al Afghani (20), warga Pasar Tais, Kabupaten Seluma berhasil dan sukses menghafal 30 juz Al Qur’an. Dengan bekal itu, ia mendapat beasiswa kuliah di Turki University selama lima tahun ke depan dari Yayasan Sulaimaniyah Medan Syarief, United Islamic Cultural Center of Indonesia.  Bagai mana lika liku Ahmed dalam menghafal Al-Qur’an berikut cerita dan kisahnya kepada wartawan Bengkulu Ekspress, Jefrianto, SHum.

BANYAK yang tidak mengetahui keberadaan Ahmed Afsel Al Afghani (20) warga Pasar Tais Seluma, putra pertama dari Siswanto (47) ini, setelah ia tamat sekolah dasar (SD). Dan terbesit dalam dirinya untuk menuntut ilmu dan mondok di Pesantren Thawalib Putra, Padang Panjang, Sumatera Barat. Berawal dengan nawaitu mulai satu persatu belajar. Mulai dari huruf arab hingga tempat keluarnya huruf dibunyikan atau yang disebut dengan makhraj huruf.

“Dasar dan pondasinya adalah di Pesantren Thawalib Putra yang mulai mengenali ilmu. Termasuk mulai belajar membaca kitab kuning atau kitab gundul,” tegasnya kepada wartawan ini.

Berhasil mondok di Thawalib Putra, Ahmed mulai tertarik untuk masuk kembali mondok di Pondok Pesantren Syarief, Medan Sumatera Utara. Di pesantren ini, ia mulai belajar menghafal Al Qur’an. Namun tidaklah mudah, pasalnya bukan hanya sekadar menghafal saja, juga akan diimplementasikan dalam keseharian termasuk mempertangungjawabkannya. Hal ini mengharuskan dirinya untuk meminta petunjuk dan berdoa di setiap salat lima waktu dan salat sunnah Dhuha dan Tahajud setiap harinya.

“Akhirnya petunjuk ada dan langsung mulai dengan niat dan 30 juz ini membutuhkan waktu untuk menghafal selama 1 tahun 8 bulan,” tegasnya.

Untuk bisa menghafal 30 juz ini tidaklah mudah, pasalnya halangan dan rintangan kerap timbul di tengah jalan. Sehingga hal inilah yang menjadi cambuk untuk bisa mengalahkan rasa dan melawan halangan ini.

Dengan trik dan medote fokus metode Ustmaniah, ini menjadi harus dilakukan bagi seluruh penghafal Al Qur’an. Dimana metode menghafal yang belakang terlebih dahulu, barulah ke depan. Jika tidak, maka tidak akan bisa melewati rintangan dan halangan.

“Semua menggunakan metode fokus dan Ustmaniah saja dan tetap niat yang lebih penting,” sampainya.

Ditambahkan, sekalipun sudah menjadi penghafal Al Qur’an ini tidaklah mudah. Setelah satu persatu juga harus diimplementasikan dalam keseharian. Hafal Al-Qur’an tidak mungkin sekadar hafal saja. Tapi beserta arti dan makna sekalipun ikut harus mengerti maknanya.

“Jika sekadar hafal, percuma saja dan sulit sekali. Namun jika arti juga tahu, maka hafalnya sangatlah mudah dan terberatnya adalah juz 25 dan 27 yang begitu banyak rintangannya,” imbuhnya.

Diceritakan, Ahmed tidaklah sendiri berangkat kuliah di Turki, melainkan bersama dengan 212 orang dan wanita berjumlah 175 orang teman asal Sumbar, Medan, Aceh, Jambi. Beruntung sekali, Ahmed merupakan pelajar asal Seluma yang ikut mewakili Provinsi Bengkulu. Bukan itu saja, juga termasuk teman-temannya asal Singapura dan Malaysia.

“Kami mulai berangkat tanggal 5 Juli langsung ke Jakarta dan malam pukul 19.00 WIB langsung berangkat lagi,” sampainya.

Ahmed menceritakan, jika sesampainya di Turki jelas akan terlebih dahulu di karantina selama beberapa hari dan kemudian mengikuti pelajaran dan seminar bahasa terlebih dahulu.

”Terpenting saat ini sehat selalu dan kedepannya bisa mengikuti tahapan demi tahapan perkuliahan di Turki tersebut dan mohon doa kepada seluruh pembaca setia BE di manapun berada,” kata Ahmed.

Terpisah, orang tua Ahmed, Siswanto (47) yang seorang ASN di Seluma mengatakan, tidaklah ada cara khusus yang mengharuskan anak pertamanya ini bisa menghafal Al Qur’an, melainkan murni dari kemauan dan kemampuan sendiri. Termasuk memilih sekolah setelah tamat SD di Tais.

“Untuk mondok dia sendiri tidak ada paksaan dan Alhamdulillah ini merupakan bagian hasilnya,” imbuh Siswanto kepada BE.

Selain bersyukur Alhamdulillah, tidak ada perlakuan khusus lainnya. Melainkan kapan waktu libur dia pulang ke Bengkulu. Dan di rumah pun Ahmed juga ikut bergaul dengan teman sejawatnya. Namun tetap dia tahu waktu.

“Apapun kami keluarga tetap support sepenuhnya. Termasuk berangkat ke Turki ini dan mudah mudahan lancar dalam menuntut ilmu,” harapnya. (333)







    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*