Gigitan Semut Tewaskan Perempuan 65 Tahun

131029_748982_Semut_geniGEORGIA – Ungkapan bahwa semut bisa mengalahkan gajah boleh jadi memang muncul karena binatang kecil itu tidak boleh dianggap remeh. Di Amerika Serikat, seekor semut api dengan gigitan beracunnya dilaporkan telah menewaskan seorang perempuan.

Jenny Pomeroy, perempuan berusia 65 tahun asal Georgia, dilaporkan tewas setelah digigit seekor semut api. Gigitan tersebut memicu reaksi alergi yang sangat parah pada perempuan yang bekerja di sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Prevent Blindness Georgia itu.

Gigitan tersebut terjadi pada pekan lalu, saat Pomeroy sedang berada di kondominium miliknya. Menyusul gigitan semut itu, Pomeroy mengalami reaksi alergi berupa shock anafilaksis -shock yang terjadi secara akut- akibat reaksi alergik atau reaksi hipersensitif yang sangat mengancam jiwa. Ia meninggal beberapa hari kemudian setelah mengalami komplikasi.

“Jika anda mengalami sensitivitas alergi terhadap racun semut api, anda bisa mengalami reaksi alergi yang dalam kasus terburuk bisa menyebabkan anafilaksis,” kata ahli alergi dari American College of Allergy, Asthma and Immunology, Dr Stanley Fineman, seperti yang dilansir laman ABC NEWS, Minggu (21/7).

Dr Fineman menyarankan orang yang punya alergi untuk selalu waspada. Jika perlu, sebaiknya selalu menyediakan injeksi ephinephrine untuk dipakai sendiri dalam kondisi darurat.

Gigitan maupun sengatan serangga, termasuk juga semut api, tiap tahun mencapai 500.000 kasus di seluruh Amerika Serikat. Menurut data dari American College of Allergy, Asthma and Immunology itu, sedikitnya 40 orang meninggal tiap tahun karenanya.

Untuk menghindari gigitan serangga berbahaya, American College of Allergy, Asthma and Immunology memberikan beberapa saran. Di antaranya hindari pemakaian sandal atau telanjang kaki saat berjalan di rerumputan, selalu bersepatu dan mengenakan sarung tangan saat berkebun, hindari gundukan tanah sarang semut, serta bawa selalu injeksi ephinephrine jika memang memiliki riwayat alergi gigitan serangga.(fny/jpnn)