Genjot Pertumbuhan Ekonomi, Investasi dan Neraca Ekspor Ditingkatkan

JOS HENDRI/Bengkulu Ekspress Pertemuan Forum Investasi Bengkulu (FMB) dalam rangka meningkatkan investasi dan neraca ekspor Bengkulu di Hotel Santika Bengkulu kemarin (16/11).
JOS HENDRI/Bengkulu Ekspress Pertemuan Forum Investasi Bengkulu (FMB) dalam rangka meningkatkan investasi dan neraca ekspor Bengkulu di Hotel Santika Bengkulu kemarin (16/11).

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Provinsi Bengkulu merupakan provinsi yang sangat menjanjikan sebagai tempat pilihan berinvestasi, bahkan Pemerintah Provinsi Bengkulu juga sangat terbuka untuk investor asing maupun dalam negeri untuk datang ke Bengkulu tujuannya sederhana yaitu meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Bengkulu.

Guna mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang signifikan tersebut, Pemerintah Provinsi Bengkulu akan meningkatkan pertumbuhan investasi dan neraca ekspor Bengkulu.

Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Bengkulu, Dr H Rohidin Mersyah MMA mengatakan, anggaran yang dimiliki Pemerintah Provinsi Bengkulu hanya sebesar Rp 3.1 triliun. Anggaran sebesar itu tidak akan mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi yang signifikan. Untuk itu diperlukan dua hal untuk membuat Bengkulu lebih maju yaitu dengan meningkatkan pertumbuhan investasi dan neraca ekspor.

“Kita harus meningkatkan neraca ekspor yaitu dengan membangun, memperbaiki, dan memperluas pelabuhan pulau baai dengan begitu angka investasi Bengkulu juga akan naik,” ujar Rohidin dalam Forum Investasi Bengkulu di Hotel Santika Bengkulu kemarin (16/11).

Pelabuhan Pulau Baai merupakan salah satu keunggulan yang dimiliki Provinsi Bengkulu, karena hanya Provinsi Bengkulu yang memiliki Pelabuhan dengan luas lahan mencapai 1.280 Ha di Sumatera. Selain luas, lokasi Pelabuhan yang juga strategis dan dekat dengan pusat Kota Bengkulu.

“Saya yakin 5 sampai 10 tahun mendatang Pulau Baai bisa menjadi pelabuhan terbesar di Sumatera dan mendorong perekonomian bagi Sumatera,” terang Rohidin.

Selain Pelabuhan, banyak potensi yang tersembunyi di Bengkulu masih bisa diangkat ke nasional salah satunya pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap berkapasitas 2×100 mega watt. Pembangunan pembangkit listrik tersebut nantinya mampu membangun dan menjadi infrastruktur pendukung untuk meningkatkan peran fungsi pelabuhan Pulau Baai. “2 atau 3 tahun mendatang, swasembada listrik akan segera terjadi, tidak hanya di Pelabuhan Pulau Baai, di Lebong saja pembangkit listrik akan segera difungsikan dan bisa mensuplai kebutuhan listrik nasional,” kata Rohidin.

Pemerintah Provinsi meyakini pertumbuhan ekonomi Bengkulu bisa berbeda dengan daerah lain, karena tidak perlu menunggu 10 tahun lagi sebab saat ini saja baru 5 bulan rencana pembangunan pelabuhan dibuka sudah berdatangan investasi dari luar daerah seperti Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu telah bekerjasama dengan balai karantina hewan dan dalam waktu dekat akan menjadi terminal hewan.

“Ada lebih dari 700 ribu ekor ternak akan datang sehingga kita juga akan membuat kawasan untuk pembuatan pakan dan kawasan lainnya,” jelas Rohidin.
Sementara itu, General Manajer PT Pelindo II Bengkulu, Drajat Sulistio mengatakan, Bengkulu adalah emas yang terabaikan. Banyak sekali yang bisa digali dari Bengkulu karena Bengkulu memiliki potensi lahan pelabuhan seluas 1.200 Ha.

Untuk menggali semua potensi yang ada, Pelindo sudah berencana membangun pelabuhan secara komprehensif dan hal ini sudah diajukan ke pemerintah pusat. “Rencana membangun kawasan industri juga sudah disetujui. Terminal Hewan pada 2017 ini dilokalisir di satu tempat sebagai pusat karantina Indonesia sehingga kalau ada yang mau impor sapi harus melalui Pulau Baai Bengkulu,” terang Drajat.

Tak hanya terminal hewan, terminal batu bara juga akan dibangun di Pelabuhan Pulau Baii. Ditargetkan sebanyak 50 Juta ton batu bara akan dikirim dengan kereta api dari kota Bengkulu ke Kota Padang. Tak hanya itu, rencananya juga akan dibangun terminal Coconut Palm Oil (CPO) di Pelabuhan Pulau Baai.

“Perizinan sudah diurus semua dan dalam waktu dekat akan segera dirilis dan dilakukan. Hal ini akan meningkatkan perekonomian Bengkulu,” tukas Drajat.

Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI), Endang Kurnia Saputra mengatakan, Provinsi Bengkulu memerlukan daya dan upaya untuk membangun menjadi Provinsi yang lebih baik lagi mengingat potensi ekonomi Bengkulu yang sangat banyak tetapi belum tereksplorasi dengan baik. Untuk itu perlu dilakukan pembenahan dan pembangunan infrastruktur di Bengkulu agar pertumbuhan ekonominya semakin baik. “Menurut ekonomi makro pertumbuhan ekonomi Bengkulu mencapai 5.01 persen dengan inflasi 3.8 persen kalau dikurangi maka pertumbuhan ekonomi hanya mencapai 1.21 persen,” jelas Endang.

Pertumbuhan ekonomi Bengkulu bisa tercapai maksimal mengingat posisi Bengkulu yang berada tepat di bagian barat langsung menghadap ke Samudera Hindia. Meskipun 42 persen Provinsi Bengkulu dipenuhi hutan lindung tetapi jika investor menaman investasi di Bengkulu maka nilai investasinya akan tumbuh menjadi 1.8 persen atau pertumbuhan aset dan kesejahteraan secara makro menjadi meningkat. “Kalau menanam investasi di pelabuhan Pulau Baai maka cukup plug n play, karena apa yang direncanakan Pelindo untuk membangun kawasan industri di Pelabuhan Pulai Baai sudah tepat. Kami yakin jika investor berinvestasi di Pelabuhan Pulau Baai maka aset investor akan tumbuh,” sambung Endang.

Untuk mewujudkan hal tersebut, BI Perwakilan Bengkulu mendatangkan 48 investor dari Jakarta. Selain itu BI juga ikut menghadirkan berbagai perbankan untuk dapat saling bertemu dengan para Investor. Hal ini dilakukan mengingat investor tidak memakai uang sendiri tetapi bankable sehingga bank diharapkan bisa turut membantu Investor dalam mengembangkan Pelabuhan Pulau Baai nantinya.

“Pertumbuhan Ekonomi Bengkulu sekitar 5 persen, jika ditambah investasi di Pelabuhan Pulau Baai maka pertumbuhan ekonomi Bengkulu bisa meningkat hingga 0.7 persen sehingga menjadi 5.7 persen,” tukas Endang.

Sementara itu, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Bengkulu, Ir Hendri Poerwantrisno mengatakan, pertumbuhan Investasi di Provinsi Bengkulu sudah mulai terasa, hal ini terbukti dari realisasi investasi se-Indonesia dan menempatkan Provinsi Bengkulu pada triwulan III Bengkulu berada urutan ke 24 dari 34 Provinsi di Indonesia.

“Realisasi investasi tingkat nasional Bengkulu naik ke peringkat 24 dari sebelumnya di peringkat 32 dan realisasi investasi di Sumatera berada di urutan 8 dari 10 Provinsi,” terang Hendri.

Pihaknya percaya, jika Pelindo Bengkulu dan Instansi terkait bisa mengelola kawasan ekonomi khusus atau kawasan industri menjadi lebih baik maka hal ini bisa terwujud di Provinsi Bengkulu dan akan membawa perubahan lebih baik lagi. “Jika hal ini terjadi maka perekonomian Bengkulu bisa meningkat,” tukas Hendri. (999)