Genjot Investasi Pelumas Nasional Melalui Omnibus Law

JAKARTA, bengkuluekspress.com – Kementerian Perindustrian menjelaskan mempermudah perizinan investasi pada induatri pelumas nasional harus dilakukan. Hal ini sebagai langkah meningkatkan ekspor dan mengurangi ketergantungan pada impor.

Oleh karena itu penyederhanaan perizinan melalui sebuah UU yang dibentuk dan isinya mencakup sejumlah peraturan perundang-undangan yang saling berkaitan (omnibus law) sangat diperlukan.

Pernyataan ini disampaikam Muhammad Khayam, Dirjen Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil Kementerian Perindustrian RI dalam diskusi ‘Industri Pelumas Indonesia di acara peluncuran produk grease terbaru Balmoral kemasan pouch di Jakarta, Selasa (17/12).

Ia menegaskan, pemerintah berupaya keras memperbaiki iklim investasi melalui penyederhanaan prosedur perizinan lewat omnibus law.

Omnibus law tersebut saat ini sedang diperjuangkan di DPR. “Peraturan kita permudah lagi agar tidak ada tabrakan kepentingan di antara peraturan-peraturan itu lewat omnibus law.”

“Kebijakan kita di sektor industri, kita mengenal kebijakan fiskal dan non fiskal seperti super deduction tax. Ini untuk perbaiki iklim usaha dan iklim investasi,” ungkap Muhammad Khayam.

Sementara itu gagasan omnibus law juga didukung Fithra Faisal Hastiadi, pengamat ekonomi UI, Direktur Eksekutif Next Policy. Ia berharap omnibus law dapat digolkan oleh DPR untuk mempermudah investasi nasional.

Ia melihat tren menurunnya ekspor Indonesia harus diantisipasi dengan meningkatkan ekspor ke negara tujuan ekspor non tradisional atau non traditional partner seperti negara-negara di Afrika.

Saat ini menurut Muhamad Khayam dalam industri pelumas kapaaitas terpasang industri nasional mencapai 2 juta kilo liter per tahun dengan 44 perusahaan.

Namun, Khayam mengatakan, utilisasi kapasitas produksi di bawah 1 juta. Sebagian produksi pelumas nasional ini diekspor ke sejumlah negara dengan nilai ekspor hampir 147 juta dolar AS.

“Ekspornya antara lain ke China. Sementara impor pelumas kita terbesar dari Singapura dan Jepang,” jelasnya.

Dia menegaskan, Kemenperin akan terus mendorong diberlakukannya regulasi regulasi teknis untuk melindungi konsumen pelumas nasional dari ancaman pelumas impor yang kualitasnya di bawah standar.

“SNI pelumas wajib saat ini baru tujuh. SNI wajib untuk pelumas ini diperlukan untuk melindungi konsumen dan juga demi efisiensi di sektor otomotif dan non otomotif,” tandasnya.

“Saat ini kita masih bisa menjaga investasi, meski terjadi pelambatan ekonomi dunia. Industri pelumas ini menarik, terutama sejak kita berlakukan SNI wajib,” imbuhnya.

Pemerintah juga telah memberikan insentif investasi berupa tax allowance untuk industri pelumas kecil dan menengah.

“Kita menyasar industri kecil menengah. Kita juga merevisi peraturan agar iklim investasi kita semakin menarik. Kita juga memberikan insentif di bidang sumber daya manusia. Juga untuk sektor industri yang melakukan riset riset yang bersifat implementatif,” imbuhnya.

Dia menyatakan, data impor komoditi di lingkungan Ditjen Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil Kemenperin saat ini mencapai 40 miliar USD.

“Untuk kimia saja hampir 24 miliar. Target kita impor ini bisa ditekan di bawah 10 miliar USD melalui investasi baru (di dalam negeri) yang kita perkirakan bisa mencapai 5 miliar dolar dalam 5 tahun ke depan, baik investasi baru maupun ekspansi,” jelasnya.

Grease Kemasan Pouch

Seperti hanya pelumas, permintaan produk grease untuk industri, perkapalan dan otomotif saat ini masih berasal dari impor. Namun pemain lokal berskala menengah seperti PT Balmer Lawrie Indonesia (BLI) tetap bisa eksis di pasar dengan menggarap ceruk-ceruk baru.

Seperti diumumkan kemarin, melalui brand Balmerol Lubricants, perusahaan ini meluncurkan grease kemasan pouch Licom EP 3 ukuran 100 gram dan 200 gram.

Direktur PT BLI Takwa Fuadi Samad mengatakan, Balmerol Licom EP 3 menyasar segmen ritel seperti penggunaan rumah tangga dan bengkel kendaraan termasuk untuk kebutuhan awak transportasi yang tidak membawa mekanik, dengan kemasannya yang praktis.

“Saat ini, kebutuhan konsumen pada perawatan yang praktis semakin tinggi. Bukan hanya untuk kebutuhan otomotif, tapi juga berbagai keperluan pelumasan bagian pintu, hingga pagar rumah. Dalam dua bulan terakhir sebelum meluncurkan kemasan pouch 100 gram dan 200 gram, kami telah sosialisasi di bengkel mobil dan motor area Jabodetabek,” ujarnya, saat peluncuran Balmerol Licom EP 3 di Jakarta, Selasa (17/12).

Grease Licom EP 3 memiliki kekentalan (konsistensi) mengacu pada standar NLGI nomor 3 (National Lubrication Grease Institute).

Produk diproduksi dengan menggunakan Lithium Complex dan membuatnya tahan panas, dengan titik leleh (melting point) mencapai 260 derajat celcius.

Rekomendasi operasinya bisa mencapai temperatur 160 derajat Clcelcius dengan tingkat Extreem Pressure (AP) additive, sehingga cocok untuk aplikasi beban berat serta tahan pengujian 4 ball weld load hingga 315 Kg.

Untuk aplikasi di kendaraan, produk grease ini berfungsi melumasi bearing roda, puli cvt, komstir, serta swing arm. Grease Licom EP 3 juga bisa dimanfaatkan untuk melumasi komponen kendaraan roda empat terutama bearing roda, engsel pintu, as kopling, cv joint, joint arm dan tierod.

Sementara kendaraan niaga seperti bus dan truk, Grease Licom EP 3 bisa diaplikasikan pada bearing roda, as kopel, joint arm, engsel pintu/kabin, as kopling, gandengan/ trailer, bushing per daun, bushing hydraulic cylinder.

Rudy Issudiman, Heda of Retail, Sales & Marketing PTBLI mengatakan, rata rata konsumsi greasi 0,1 kg per kendaraan per tahun.

“Kita menjadi yang pertama kali kenalkan grease kemasan pouch untuk segmen ritel yang bisa digunakan oleh rumah tangga kemasan pouch 100 dan 200 gram,” ungkap.

Rudy menyatakan, produk ini akan dipasarkan di kota kota kunci seperti di jaringan supermarket dan modern trade di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Saat ini BLI mampu memproduksi grease sebanyak 6.000 MT/tahun dan oli pelumas 3.000KL/tahun serta Bituminous Compound 3.000MT/tahun dalam satu shift produksi di pabriknya di Cikande, Serang, Banten.

Pihaknya menargetkan bisa meraih volume produksi hingga 10.000 MT di tahun-tahun mendatang.(edo)