Gelar Sarjana Hadiah Terakhir Mahasiswa UMB Penti Gustini untuk Ayah dan Ibu

MENANGIS: Ibu Risnawati saat memegang foto anaknya pada prosesi Wisuda di Kampus 4 UMB Kota Bengkulu, Rabu (28/10).

Meski telah berpulang ke Rahmatullah, namun Mahasiswi Pendidikan Biologi Universitas Muhammadiyah Bengkulu, Penti Gustini berhasil memberikan hadiah terakhir untuk kedua orang tuanya. Sebuah gelar sarjana pendidikan yang selama ini menjadi harapan bagi orang-orang yang dicintainya.

Rewa Yoke D – Kota Bengkulu

Pagi itu, tepat pukul 09.30 WIB, suasana Wisuda di dalam Gedung Hasan Din Kampus 4 Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UMB) mendadak penuh isak tangis di saat  Risnawati dan  Agus Siharman harus mewakili anak tercintanya, Penti Gustini yang kini telah berpulang ke Rahmatullah pada 24 Agustus 2020 lalu.
Saat Rektor UMB, Sakroni MPd akan mewisuda Penti Gustini, kedua orang tua Penti harus menerima kenyataan pahit bahwa pada hari yang bahagia ini, toga kebesaran yang seharusnya dipakai sang anak, harus dipakai oleh sang Ibu.
Sambil meneteskan air mata,  Risnawati mengaku, bangga dengan prestasi dan kerja keras anaknya selama ini. Meskipun tidak bisa melihat anaknya wisuda, namun usaha anaknya untuk menjadi seorang sarjana bisa dirasakan oleh dirinya.
“Ibu senang dengan perjuangan Penti, semoga dia dimasukkan di surganya Allah,” kata Risnawati.

Penti Gustini semasa hidupnya merupakan sosok periang dan pekerja keras, bahkan demi memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, Penti rela bekerja sebagai pedagang Mie Ayam di Lapangan Sekundang Pasar Baru Manna, Bengkulu Selatan. Dan kegiatan itu dilakukannya sejak semester 3 dikala libur kuliah.
“Penti itu orangnya rajin dan selalu membantu kami, sejak usaha dagang beras kami bangkrut,” ujar Risnawati.

Namun, usaha Mie Ayam yang digeluti oleh Keluarga Penti harus kandas ditengah jalan, maklum saja persaingan usaha di Bengkulu Selatan dinilai Risnawati kurang sehat. Sewaktu usaha mie ayamnya sedang laris-larisnya ada saja pedagang yang iri hati. Bahkan, sampai memfitnah usaha mie ayam mereka menggunakan penglaris.
“Usaha mie ayam tidak kami jalankan lagi karena banyak orang yang iri,” tuturnya.

Melihat usaha mie ayam yang tidak berjalan lagi, membuat Penti tidak mati langkah. Dirinya mendaftar menjadi petugas Kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS). Pekerjaannya adalah mendata penduduk yang menjadi pemilih pada Pilkada 2020 ini. Penti mendapatkan tugas untuk mendata di 3 RT di wilayah kelurahan Pasar Baru. Meskipun honornya hanya Rp 1 juta, namun pekerjaan itu dilakukan oleh Penti dengan penuh tanggung jawab.
“Padahal kondisinya saat itu sedang sakit, tapi Penti tetap memaksakan diri untuk bekerja,” ujar Risnawati.

Penti didiagnosa oleh Dokter Rumah Sakit Umum Daerah Hasanuddin Damrah Manna Bengkulu Selatan menderita penyakit kanker darah (leukemia). Penyakit tersebut diketahui saat dirinya memeriksa kesehatan di rumah sakit tersebut sekitar 1 bulan sebelum beliau meninggal. Dokter menyarankan agar Penti dirujuk ke Rumah Sakit di Palembang atau Jakarta untuk mengetahui secara pasti penyakit yang diderita. Namun, karena keluarga tidak memiliki biaya, sehingga pengobatan hanya dilakukan secara tradisional dengan bantuan seorang dukun.
“Ibu sudah minta untuk dirawat di rumah sakit, namun karena biaya tidak ada makanya hanya mengandalkan pengobatan tradisional,” ungkapnya sambil menangis.

Menjalani pengobatan tradisional nyatanya tidak menunjukkan efek sembuh yang signifikan. Bahkan Penti setiap harinya terpaksa harus bekerja dengan kondisi bernafas melalui mulut. Karena tidak memungkinkan bagi dirinya untuk bernafas melalui hidung. Hal ini disebabkan mimisan yang terus menerus terjadi di rongga hidungnya.
“Ibu sudah peringatkan Penti untuk tidak bekerja, karena kondisinya tidak sehat, tapi dia tetap meyakini Ibu tidak apa-apa,” tuturnya.

Penti harus bekerja keras dikarenakan sejak usaha dagang beras milik ayahnya bangkrut, Ibunya saat ini harus bekerja sebagai tukang sapu jalan. Sementara masih ada 3 orang adiknya yang masih membutuhkan biaya pendidikan. Ditambah lagi, dirinya juga masih harus menyelesaikan kuliah.
“Ibu sekarang bekerja sebagai tukang sapu jalan, kalau berharap ke suami tidak mungkin dia hanya menganggur di rumah,” ujar Risnawati.

Namun, naas tepat 23 Agustus 2020 malam, tubuh Penti harus terbaring lemas di tempat tidur. Dirinya tidak bisa beraktivitas seperti biasanya. Aliran darah seakan-akan terhenti, denyut nadi mulai melemah. Melihat kondisi tersebut, pihak keluarga membawanya ke Rumah Sakit. Belum sampai di Rumah Sakit, Penti harus menghembuskan nafas terakhir.
“Semoga Penti tenang disana, dan terimakasih atas perjuanganmu dan kebaikan hatimu untuk keluarga nak,” tutupnya.(999)

    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*