Gebyar Literasi Bentuk Insan Literat

gebyar
1. Endang/Bengkulu Ekspress
Kantor Bahasa Bengkulu, menggelar Gebyar Literasi Bengkulu, dengan mengadakan lomba menulis cerita pendek, kemarin (24/8).

BENGKULU, Bengkulu Ekspress– Kantor Bahasa Bengkulu, menggelar kegiatan Gebyar Literasi Bengkulu. Berupa lomba menulis cerita pendek bagi siswa/siswi tingkat SLTP dan SLTA se-Kota Bengkulu. Kegiatan ini dilaksanakan guna menggelorakan semangat literasi dan membentuk insan literat di Kota Bengkulu.

“Diharapkan dengan lomba ini terbentuk budaya membaca yang lambat laun menjadi pembiasaan di Bengkulu,” ungkap Kepala Kantor Bahasa Bengkulu Karyono SPd MHum kepada Bengkulu Ekspress kemarin (24/8).

Lomba dibagi dalam dua kategori. Yaitu lomba tingkat SLTP dan SLTA. Lomba ini bertujuan menumbuh kembangkan budaya gemar membaca melalui berbagai bacaan dan media untuk pembentukan karakter remaja di Bengkulu. Karyono mengajak siswa/siswi Bengkulu untuk lebih intens dengan literasi. Literasi kedepan dapat dihadikan sebuah kebutuhan.

Lomba literasi mengintegrasikan beberapa kemampuan literasi para siswa antara lain literasi visual, literasi finansial, literasi digital dan literasi teknologi. Dengan mengangkat tema “Membangun Karakter Remaja Bengkulu melalui Gebyar Literasi” Selanjutnya, dalam lomba ini cerpen terbaik akan diberikan penghargaan, karya siswa akan dibukukan melalui antopologi cerita pendek. Ini sebagai penarik semangat siswa/siswi dalam berliterasi.

“Cerpen terbaik kita kumpulkan dan kita bukukan dalam antopologi cerpen. Siswa juga diberikan penghargaan,” jelasnya.

Ketua Panitia Pelaksana Gebyar Literasi Hellen Astria SPd menuturkan, lomba menulis cerita pendek diikuti 208 peserta. Rinciannya SLTP sebanyak 114 peserta dan SLTA 94 peserta. Jumlah ini lebih banyak dari yang ditargetkan.  Dijelaskan Hellen, lomba yang digelar sehari itu, merupakan murni karya siswa dan bukan saduran.

Pasalnya, sejak awal panitia telah mewanti-wanti para peserta untuk membawa perangkat, seperti handphone atau teknologi lain selama berkompetisi. Peserta juga diwajibkan menulis cerpen pada kertas yang telah disiapkan dan dilengkapu surat pernyataan keaslian karya.  “Para peserta diberikan subtema cerpen untuk masing-masing kategori dan ini diberikan beberapa menit sebelum lomba dimulai,” bebernya.



Selama berkompetisi, siswa/siswi diberi waktu 3 jam. Dengan panjang cerpen minimal 2 halaman kertas yang disediakan panitia. Karya siswa dinilai meliputi aspek judul dan ide cerita, kelengkapan unsur cerita, wawasan dan gaya bahasa.  “Para pemenang akan mendapatkan piala, piagam dan uang pembinaan,” imbuhnya.

Guru Pembina dari Sekolah Mahira Andi, sangat mengapresiasi adanya gebyar literasi lomba penulisan cerpen ini. Menurutnya, kegiatan seperti ini dapat memotivasi para siswa untuk mengeksplor bakat dalam menulis cerpen.  “Kegiatan ini bagus. Kami berharap kegiatan ini dapat digelar secara kontinu, inilah wadah bagi siswa/siswi untuk menghasilkan karya tulis,” pintanya.

Kegiatan ini, menurutnya, hendaknya tidak diberikan pada tingkat pendidikan SLTP dan SLTA, juga dilakukan pada tingkat SD. Karena literasi SD juga sudah ada. Jangan hanya sebatas menjalankan tugas semata. “Program ini jangan hanya sebatas melaksanakan kegiatan, tetapi bagaimana wadah ini mampu membentuk komunitas para siswa menjadi literat,” imbuhnya.

Sekolah Mahira, kata Andi dalam kegiatan ini mengirimkan tiga peserta, dan ini telah melalui seleksi matang dan memiliki potensi dalam tulis menulis di Sekolah.  “Harapanya kita juara, pun jika tidak juara mereka telah mengikuti proses pembelajaran selama lomba, ” tukasnya. (247)