Gas Melon Langka

TANGERANG, 12/11 - IMPOR GAS. Seorang pekerja menyusun tabung-tabung gas tiga kilogram, di salah satu pabrik tabung gas, di Tangerang, Banten, Rabu (12/11). Pertamina akan mengimpor dua juta ton metrik gas hingga 2010 untuk memenuhi kebutuhan pasokan gas terkait dengan program konversi dari minyak tanah ke gas. FOTO ANTARA/Ismar Patrizki/ss/nz/08.
fOTO : ist

BINTUHAN, Bengkulu Ekspress – Para ibu rumah tangga (IRT) di Kota Bintuhan dan juga beberapa daerah lain di Kabupaten Kaur mulai menjerit. Mereka mengeluhkan sulitnya mendapatkan gas elpiji 3 Kg atau gas melon yang disubsidi oleh pemerintah. Bahkan sejumlah warung yang selama ini menyediakan gas, saat ini hanya terjejer tabung kosong yang tak ada isinya.

“Kadang saya sudah keliling di beberapa tempat, tapi sudah mulai sulit. Ada sebagian yang menjual tapi harganya mencekik leher,” kata Fika (36) warga Kaur Selatan, kemarin (31/3).

Dikatakanya, saat ini elpiji semakin melejit bahkan sejumlah warung manisan sudah berani jual hingga harga Rp 30 ribu dalam satu tabungnya. Padahal di Kota Bintuhan, Harga Eceran Tertinggi (HET) dan dijual oleh pangkalan harusnya hanya Rp 20 ribu. Rupanya dibalik itu sejumlah pemilik warung mulai bermain curang dengan cara mendatangi pangkalan membawa tabung gas dua sampai tiga buah sehingga stok gas di pangkalan ludes terjual. Kemudian diduga sejumlah warung nakal menyimpan elpiji menunggu kondisi langka dan menjualnya dengan harga tinggi.

Kondisi ini terjadi sejak beberapa bulan terakhir, semenjak pemerintah mengurangi jatah gas elpij untuk sejumlah daerah dan bakal mengalihkan ke gas non subsidi. Alhasil bukannya meringankan masyarakat namun sejumlah warung mulai menaikkan harga, sementara di pangkalan sendiri tak sampai 24 jam stok sudah habis diserbu pemilik warung yang ikut-ikutan antre bersama warga.



“Kalau di pangkalan tak ada lagi yang jual, paling satu hari berjejer, kita ini kan rumah tangga, nggak mungkin pas ada di pangkalan langsung beli, sedangkan gas masih ada di rumah, tunggu habis dulu baru beli, jadi kita dipaksa membeli dengan warung,” katanya.

Menyikapi hal ini Kepala Dinas Perindustrian Persaingan Koperasi dan UKM (Koperindag UKM) Kaur, Agusman Efendi MM mengakui saat ini pangkalan sudah dilarang untuk mengantar gas ke warung-warung. Bahkan bila kedapatan tentu akan disnangsi oleh distributor bahkan terancam diberhentikan pengiriman gas kepada pangkalan yang nakal. Pihaknya juga akan mengupayakan untuk dapat menggelar Operasi Pasar (OP) bila memang kondisi gas sangat langka.  “Nanti masalahnya para warung warung itu ikut antri di pangkalan bolak balik dan menyimpan tabung gas dijual ini yang sudah diatur,” ungkapnya

Ditambahkannya, aturan ini sudah disampaikannya kepada pengecer atau pangkalan alias sub agen saat menggelar sosialisasi yang sering dilakukan. Menurutnya pihaknya sudah menyampaikan dengan seluruh pangkalan tidak boleh menjual ke warung-warung apalagi diantar. Sebab ini menyalahi prosedur, terkait dengan adanya pemilik warung yang datang berulang-ulang dan ngantri tersebut, dia mengaku seharusnya hal itu menjadi perhatian serius sejumlah pangkalan.  “Kalau ada warga yang mengulang ngulang antri sebaiknya tidak diberikan gas. Hal ini mengingat masih banyak warga lain yang pada hari berikutnya membutuhkan gas datang ke pangkalan,” tandasnya.(618)