Gaji Guru Honor Tak Layak, Komitmen Pemerintah Dipertanyakan

PendidikanBENGKULU, Bengkulu Ekspress – Rendahnya gaji guru honorer menjadi perhatian serius Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Bengkulu. Persoalan inipun telah disampaikan ke Presiden RI, Joko Widodo dan Mendikbud, Muhadjir Effendy.

“PGRI sudah menghadap Presiden dan Mendikbud, tapi belum juga ada perubahan,” ungkap Ketua PGRI Kota Bengkulu, Hery Suryadi M.Pd, kemarin.

Ia menilai, pemerintah seakan tidak memiliki komitmen untuk mensejahterakan guru, padahal kebutuhan guru di Bengkulu, bahkan se-Indonesia mengalami hal yang sama, yaitu kekurangan guru PNS. Sehingga hampir semua daerah harus merekrut tenaga pendidik honorer.

Untuk diketahui, gaji guru honorer cukup memprihatinkan, yakni rata-rata Rp 200 ribu per bulan untuk jenjang SD, sehingga mereka harus mencari alternatif lain demi memenuhi kebutuhannya. Sementara beban yang diberikan kepada mereka untuk menyukseskan pendidikan tidak kalah besarnya dengan tenaga pendidik yang berstatus PNS.

Diakui Hery, kualitas guru merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan kualitas pendidikan, jika kesejahteraan sudah tidak terpenuhi, maka akan menancaman layanan pendidikan.

Demi menunjang penghasilan tenaga pendidik, pada tahun 2005 PGRI Kota telah mengusulkan pemberian insentif Rp 100 ribu/bulan dari APBD. Sayangnya, sejak kepemimpinan Helmi Hasan, dana insentif dicoret, bahkan penyaluran tunjangan tambahan penghasilan pun dibayarkan tidak utuh.

“Sayangnya nasib mereka masih dipenuhi ketidakpastian. Kalau sudah tidak ada komitmen terhadap guru, tunggulah kehancuran akan datang, ini sama dengan menelantarkan guru,” jelasnya.

Salah seorang tenaga pendidikan honorer, Ronal sangat mengharapkan adanya pengangkatan CPNS. Terlebih ia sendiri telah mengabdi sejak tahun 2005 lalu, dan masuk dalam CPNS K2, sayangnya saat pemberkasan ia bersama 200 rekannya gagal.

“Saya sangat berharap jika ada pengangkatan CPNS, tenaga kependidikan juga diprioritaskan, karena sekolah tanpa adanya staf administrasi juga tidak berjalan dengan imbang,” tukasnya.

Sementara itu, Kepala SMAN 7 Kota Bengkulu, Sarjono M.Pd menegaskan, di sekolahnya ada 30-an tenaga honorer yang digaji lewat dana komite. Besaran gajinya bervariasi tergantung dengan tingginya pendidikan. Tenaga honorer ini direkrut untuk memenuhi kekurangan tenaga pendidik seperti mata pelajaran kesenian.

“Semua gaji tenaga honorer dibayar lewat dana komite, karena dana BOS tidak diperkenankan untuk hal tersebut,” tukasnya. (247)