Gagal Umrah, Jamaah BMP Lapor Polda

1
1. Budhi//Bengkulu Ekspress
Para jemaah umrah yang mendatangi Mapolda Bengkulu, untuk melaporkan travel BMP terkait gagalnya mereka berangkat umroh.

BENGKULU, Bengkulu Ekspress– Belum hilang dari ingatan kasus travel yang mencatut nama Madina Iman Wisata (MIW) beberapa waktu yang lalu. Terkait kasus gagalnya jamaah berangkat umrah. Padahal sudah menyetorkan uang. Kini kasus yang sama kembali terulang. Kali ini jamaah BMP (Bumi Minang Pertiwi) Travel Cabang Bengkulu, yang gagal berangkat umrah. Pada Selasa siang (3/7), sebanyak 6 orang warga asal Kota Bengkulu, jamaah BMP mendatangi dan melapor ke Polda Bengkulu. Enam orang yang melapor itu diantaranya, Slamet Raharjo bersama istri Darwani, Meli Iswanti, Elvis, Nunung, dan Kamila.



“Waktu kami ditawarkan itu nama pimpinan BMP cabang Bengkulu H Nanang Darmawan dan informasi yang kami dapat lainnya dia juga merupakan PNS di salah satu instansi vertikal di Bengkulu,” ucap Meli Iswanti, warga Padang Harapan Kota Bengkulu, yang juga salah satu korban yang melapor ke Polda, kemarin (3/7).

Dijelaskannya, mereka tidak tahu siapa yang menggunakan uang yang sudah mereka setorkan ke manajemen BMP sehingga mereka gagal diberangkatkan. Rata-rata mereka menyetorkan uang ke manajemen BMP untuk berangkat umroh itu pada Maret 2018. Dengan perjanjian pemberangkatan pada April 2018. Namun janji yang mereka lontarkan saat perekrutan jamaah itu hingga saat ini tidak ditepati.

Mirisnya lagi, kantor BMP cabang Bengkulu yang ada di kawasan Jalan Fatmawati Simpang Lima Ratu Samban itu pun sudah tutup sejak 2 bulan terakhir. Jadi para jamaah yang sudah menyetorkan uang untuk pemberangkatan itu seperti orang kehilangan arah dan tidak tahu harus apa, sehingga masing-masing korban membawa kasus itu ke ranah hukum dengan melaporkannya ke Polda Bengkulu.

“Kalau saya bertiga ya Pak, bersama dengan kedua orang tua saya menyetor Rp 23,5 Juta untuk satu orang dan dikali tiga orang sekitar Rp Rp 70 jutaan saya sudah setorkan. Saat penyerahan uang itu mereka (pihak BMP, red) mengatakan jika kami diberangkatkan pada 24 April 2018, namun hingga sekarang tidak ada,” jelasnya kepada Bengkulu Ekspress.

Korban lainnya, Kamila, dijanjikan berangkat pada 16 April 2018, tetapi hingga saat ini dirinya pun belum juga diberangkatkan padahal sudah menyetorkan uang sebesar Rp 23.5 juta. “Kami belum juga ada yang diberangkatkan, termasuk saya sendiri yang selalu diberi-beri janji-janji palsu hingga sekarang ini,” tuturnya.

Masih diungkapkan Kamila, setelah mereka gagal berangkat pada April 2018 itu, manajemen BMP kembali membuat janji kepada para korban. Saat itu, manajemen BMP mengatakan, para jamaah diberangkatkan pada Ramadan lalu. Dengan syarat masing-masing korban harus menyetor Rp 6 juta lagi. Korban yang memiliki itikad yang kuat untuk berangkat ke tanah suci ini pun percaya. Mereka pun langsung mengiyakan permintaan tersebut.

Namun, setelah mereka menyetorkan uang tambahan sebesar Rp 6 juta, hingga saat ini mereka belum juga ada kepastian kapan diberangkatkan. Sementara semua uang permintaan dan persyaratan untuk berangkat umroh sudah dipenuhi para korban. “Setelah menyetor Rp 23,5 juta itu, saya nambah lagi Rp 6 juta. Dengan harapan agar bisa diberangkatkan pada bulan puasa itu. Ternyata janji yang mereka katakana itu juga tidak jadi dan palsu,” ucapnya.

Sementara itu, korban lainnya Slamet Raharjo, saat membuat laporan di Polda kemarin juga mengatakan, jamaah yang menjadi korban dalam pemberangkatan umroh ini bukan hanya mereka yang membuat laporan hari ini (kemarin, red). Masih banyak korban lain yang diprediksikan mencapai ratusan orang yang berasal dari wilayah Provinsi Bengkulu.

“Bukan kami saja yang menjadi korban, mungkin ada sekitar 100 orang yang menjadi korban dalam penipuan pemberangkatan umroh ini. Kami melapor ini bukan atas nama jamaah tetapi atas nama pribadi, masing-masing kami membuat laporan. Mungkin nanti ada lagi korban lain yang melapor,” demikian kata dia.

Ia mengatakan, jamaah membuat laporan ini dengan harapan agar pihak kepolisian dalam hal ini Polda Bengkulu, bisa membantu mereka, baik masalah keberangkatan ataupun agar travel BMP mengembalikan uang mereka yang sudah disetorkan tersebut. “Walaupun nantinya kami gagal berangkat umroh tidak masalah, asalkan uang kami bisa dikembalikan lagi nantinya,” ucapnya.

Ia menyebutkan, jamaah membuat laporan ini bukan tertuju kepada nama pribadi atau seseorang tetapi kepada perusahaan travel BMP sehingga jika laporan ini ditindaklanjuti, pusat BMP yang berada di Sumatera Barat (Padang) bisa datang ke Bengkulu dan menjelaskan semuanya. “Kami berharap pimpinan BMP di Padang bisa bertemu kami. Karena dialah yang tahu kemana larinya uang kami ini,” bebernya.

Sementara itu, terkait laporan yang masuk ke Polda Bengkulu dan diterima oleh penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum (Reskrimum), Dir Reskrimum, Kombes Pol Pudyo Haryono SH mengatakan, penyidik terlebih dahulu mempelajari dan mendalami laporan korban dan meminta keterangan para korban, yang jelas laporan sudah masuk ke pihaknya sekarang ini.

“Saya belum bisa berkomentar banyak, yang jelas laporan memang ada dan sedang kita pelajari, semuanya nanti kita panggil dan periksa. Jika berkas laporan ini sudah selesai dipelajari, pada prinsipnya setiap laporan yang masuk pasti akan kita tindaklanjuti secara profesional, apalagi ini menyangkut penipuan dan korbannya banyak,” tutupnya kepada Bengkulu Ekspress.

Sementara itu, ketika dikonfirmasi BE, Manajer BMP Bengkulu Arzain Zamhari menuturkan, pada Jumat (29/6), para jamaah yang sudah menyetorkan uang keberangkatan umrah menemui dirinya. Jamaah mempertanyakan perihal keberangkatan mereka yang belum juga dilaksanakan. Saat itu, selaku manajer Arzain, telah menjelaskan, uang jamaah yang disetorkan ke BMP Bengkulu, semuanya langsung disetorkan ke rekening BMP Pusat Padang, Sumatera Barat. Setoran yang lunas maupun yang masih berupa down payment atau uang muka. BMP Bengkulu terus mengupayakan agar para jamaah yang sudah menyetorkan uangnya bisa diberangkatkan. Dengan terus berkoordinasi ke manajemen BMP di Padang Sumatera Barat.

”Kepada para jamaah saat pertemuan itu sudah saya jelaskan. Hasil koordinasi kita dengan BMP Padang, jamaah kemungkinan bisa diberangkatkan sekitar Oktober nanti. Saat itu jamaah mengatakan bila tidak juga diberangatkan maka jamaah akan memberi somasi dan kita terima itu. Saya tidak tahu kalau hari ini ternyata ada jamaah yang melapor ke Polda, baru tahu saat dikonfrimasi media inilah,” katanya.

Arzain mengakui, jumlah jamaah BMP yang sudah menyetorkan uangnya cukup banyak mencapai ratusan orang. Semua uang itu langsung disetorkan ke rekening BMP Padang, Sumatera Barat. Karena sifatnya BMP Bengkulu selaku cabang hanya menjalankan rekruitmen marketing.

Arzain pun menuturkan, dirinya siap memberikan keterangan bila nantinya dipanggil oleh Polda Bengkulu. Karena uang jamaah itu tidak ada yang terpakai oleh manajemen BMP di Bengkulu. Dia pun terus berusaha mendesak BMP Padang Sumatera barat untuk memberikan solusi atas masalah jamaah Bengkulu ini.

”Kita menunggu langkah dari BMP Padang. Hasil koordinasi terakhir BMP bakal memberangkatkan 30 orang jamaah. Untuk siapa-siapa yang masuk daftar diberangkatkan akan kita lihat data yang ada dulu. Kami pun berharap mudah-mudahan masalah ini cepat selesai dengan baik,” imbuhnya. (529)