Gagal Diperkosa, IRT Ditikam Hingga Tewas

IST/Bengkulu Ekspress Pelaku penikaman IRT hingga tewas diamankan di Mapolsek Talang Empat, Kamis (3/5).
IST/Bengkulu Ekspress Pelaku penikaman IRT hingga tewas diamankan di Mapolsek Talang Empat, Kamis (3/5/2018).

TALANG EMPAT, Bengkulu Ekspress – Peristiwa berdarah terjadi di Desa Lagan Bungin, Kecamatan Talang Empat, Kabupaten Bengkulu Tengah (Benteng). Salah seorang ibu rumah tangga (IRT) berinisial Ni (22) akhirnya meninggal dunia akibat ditikam oleh tetangganya sendiri, AK (28) yang berniat melakukan pemerkosaan.

Peristiwa tersebut terjadi di rumah korban sekitar pukul 10.00 WIB, Kamis (3/5/2018). Kala itu, korban sedang sendirian di dalam rumahnya. Sedangkan suaminya yang berprofesi sebagai petani sedang bekerja di kebun. Sementara ayah korban, IS (45) sedang berada di luar rumah.

Diduga sudah lama melakukan pengintaian terhadap korban, pelaku diam-diam masuk ke dalam rumah korban melalui pintu samping rumah yang saat ini memang dalam keadaan terbuka.

Mengetahui korban sedang mencuci pakaian di dalam kamar mandi, pelaku pun langsung menghampiri korban dan berniat untuk melampiaskan nafsu bejatnya. Akan tetapi, korban yang menyadari niat buruk pelaku, langsung melakukan perlawanan dan berteriak meminta pertolongan kepada warga sekitar.

“Melihat korban berteriak membuat saya panik dan langsung mengeluarkan sebilah pisau,” kata pelaku saat diamankan di Mapolsek Talang Empat, sore kemarin.

Ketika dikonfirmasi, Kapolres Bengkulu Utara (BU), AKBP Ariefaldi Warganegara, melalui Kapolsek Talang Empat, Iptu Kaisar Ariadi Pradesa SIK membenarkan adanya peristiwa tersebut dan telah berhasil mengamankan pelaku.

Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan pada tubuh korban, Kapolsek menjelaskan bahwa korban mengalami 6 luka tusukan yang tersebar di bagian leher, lengan dan kepala.

“Peristiwa ini pertama kali diketahui oleh orang tua korban yang mendengar adanya teriakan. Setelah dilakukan pemeriksaan di dalam rumah, diketahui korban sudah terkapar di lantai dapur dengan posisi telungkup. Melihat putri kesayangannya bersimbah darah, pelapor langsung membawa korban ke Puskesmas terdekat untuk mendapatkan pertolongan,” jelas Kapolsek.

Akan tetapi, sambung Kapolsek, karena korban mengalami pendarahan hebat, pihak rumah sakit akhirnya mengeluarkan rujukan agar korban dibawa ke RSMY Bengkulu guna mendapatkan perawatan yang lebih intensif.

“Korban meninggal dunia di RSMY Bengkulu. Sementara ini, kami masih melakukan penyelidikan terhadap motif sebenarnya. Sebab, pisau yang digunakan pelaku sudah dibawa dari luar rumah korban,” terang Kapolsek.

Presedium Wilayah Komisi Perempuan Indonesia (KPI) Bengkulu, Juminarti mengharapkan agar aparat penegak hukum (APH) bisa memberikan hukuman setimpal kepada pelaku.

“Dari informasi yang kami dapat, pelaku merupakan residivis perampokan. Kami akan memantau perjalanan kasus ini dan meminta agar pelaku dihukum seberat-beratnya. Kami juga akan memberikan penguatan psikologis kepada keluarga korban yang ditinggalkan,” ungkap aktivis pemerhati anak dan perempuan ini.(135)