Frans, Miliuner Furnitur yang Berjuang dari Jurang

Gagal dua kali membangun bisnis, kerap kali membuat pebisnis pemula tanpa kegigihan besar mundur dan akhirnya menyerah. Kamus itu tampaknya tak berlaku bagi Frans S Pekasa. Kegagalan usaha yang pernah dialaminya justru menghantarkan Frans menjadi pebisnis beromset miliaran rupiah per tahun.

“Jika orang-orang membangun usaha dari nol, saya mulai dari minus, harus berjuang dari dalam jurang,” kata Frans saat ditemui di sela Trade Expo Indonesia 2012.

Frans, pebisnis yang bergerak di bidang furnitur, mengisahkan kegagalan pertama dialami keluarganya pada krisis moneter 1998. Kala itu, usaha kontraktor orang tuanya jatuh bangkrut karena tumpukan utang. Kondisi ini membawa usahnya terpaksa menjadi ‘pasien’ Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN).

Tak mau menyerah dengan keadaan, Frans memutar otak untuk menyelamatkan ekonomi keluarga. Dengan pengalaman magang di salah satu perusahaan furnitur di Surabaya, Frans melihat potensi bisnis furnitur Indonesia sangat besar.

Bisnis baru Frans ini bukalah pabrik furnitur. Dia hanya membuat situs yang menjajakan produk-produk mebel Indonesia, khususnya dari rotan dan kayu jati.

“Pada 1999 lalu saya sudah membuat situs untuk jualan mebel dan sudah main Search Engine Optimization (SEO),” katanya.

Usahanya ternyata membuahkan hasil. Order dari luar negeri kerap kali berdatangan. Ia meneruskan order-order dari pembeli luar negeri itu kepada para pengrajin furniture. Dari kerjasama ini, Frans hanya mengambil komisi 10-15 persen untuk setiap satu peti kemas mebel yang diekspor.

“Saat itu satu kontainer senilai Rp200 juta, saya bisa dapat Rp30 juta,” katanya.

Bisnis perantara melalui situs yang dikembangkan Frans terus berkembang. Hingga pada tahun 2000, keluarganya bisa keluar dari BPPN tanpa ada satupun aset yang disita.

Sayang, musibah tak bisa diterka. Bisnis Frans kembali tersandung masalah saat rekan kerjanya mulai menipunya sekitar 2004 lalu . Seluruh aset dari pabrik hingga karyawan diambil oleh rekan kerjanya. Lagi-lagi Frans kembali menanggung utang besar dari bank.

Terjatuh dua kali sempat membuat Frans dan istri stres. Kali ini, seluruh aset baik rumah dan mobil disita. Frans harus rela menumpang di rumah mertua.

Dukungan kuat istri akhirnya menggiringnya kembali bangkit. Bermodalkan kepercayaan, Frans memberanikan diri meminjam modal kepada para pengrajin.

“Nama baik dan kepercayaan merupakan modal utama. Saya datang ke para pengrajin dan saya bilan saya punya order kalian mau bantu tidak? Akhirnya mereka mau meminjami saya hingga Rp11 miliar secara bertahap. Itu sangat besar,” katanya.

Menggandeng 130 pengrajin kayu, usaha Frans kini meningkat pesat. Empat buah pabrik mebel yang fokus pada produk furnitur kayu luar ruangan dimilikinya. Tak lupa, Frans tetap fokus menawarkan produknya melalui internet dari situs pribadinya teak123.com.

Strategi penjualan ini terbukti membawa produk furnitur Frans menembus hingga 45 negara dari Asia Pasifik, Eropa, Amerika Serikat, hingga Amerika Latin.

Dengan kapasitas keempat pabriknya yang mencapai 30 kontainer per bulan, Frans kini mengantongi omzet hingga US$5 juta atau Rp47 miliar (kurs Rp9.400) per tahunnya.

Bukti kejayaan Frans masih terlihat manakala dia mulai mengembangkan bisnis dengan membuka toko furniture di Nanning, China. Bisnis mancanegaranya ini sudah berjalan sekitar setahun.(**)