Forum Kecewa dengan DPRD

BENGKULU, BE – Forum Panorama Raflesia (FPR) yang diketuai Jailani Wadis mulai gerah dengan statmen-statmen yang disampaikan anggota DPRD Kota. Utamanya tentang persoalan dana penyeragaman lapak yang difasilitasi FPR untuk pedagang di Pasar Panorama. FPR menganggap DPRD kota cenderung memprovokasi keadaan, tanpa memberikan bantuan yang bersifat konstruktif. “Pelataran PK5 memang gratis dan tidak dipungut uang sepeserpun, dan hal itu sangat kami dukung. Kami pun telah minta diberikan atap dengan rincian anggaran ke anggota dewan, namun tidak ada tindak lanjut sampai kini,” sesal Jailani. Ketua FPR tersebut sangat menyayangkan pernyataan anggota dewan yang sering memojokkan forum dan pedagang. Padahal wakil rakyat yang terhormat tersebut tidak melihat langsung yang terjadi di lapangan. Diterangkannya bila dewan marah-marah, seharusnya mereka ada andil di dalam kelayakan pembangunan PPN Panorama. Sebaliknya FPR akan bertanya langsung, kemana anggaran yang selama ini diminta dan kenapa harus pedagang yang melakukan swadaya untuk menjadikan PPN Panorama menjadi layak dan representatif? “DPRD dan Pemkot seharusnya malu tanpa mau berbuat apa-apa dan hanya melihat rakyatnya yang berusaha dengan dana gotong royong. Paling tidak berilah support kepada masyarakat paling bawah ini,” kata Jailani. Jailani pun mengusulkan bila DPRD mau menganggarkan buat penyeragaman lapak di PPN Panorama maka uang yang dikumpulkan pedagang untuk dana penyeragaman akan dikembalikan sehingga DPRD diharapkan dapat menganggarkan lewat APBD perubahan atau semacamnya. “Kalau DPRD berpihak dengan pedagang kaki lima Panorama, maka anggarkan agar tempat tersebut menjadi layak dan representatif,” ujar Jailani.

Pembayaran Tetap Berlangsung
Sementara itu pembayaran dana penyeragaman lapak di sekretariat FPR yang besarannya telah diumumkan dan disetujui sebagian besar pedagang masih terus dilakukan. Walaupun perlahan, terlihat pasti bahwa pedagang memang benar menginginkan lokasi tersebut. Terlepas dari adanya pernyataan pelataran akan diganti dengan pedagang lain atau akan disewakan dikemudian hari. Seperti yang dikatakan Summi pedagang sayur, walaupun sedikit berat namun dia menyerahkan keputusan terbaik untuk pedagang kepada forum sehingga sampai sekarang Summi masih mengumpulkan uang hasil dagangan sayurannya untuk melakukan pembayaran pertama. “Saya akan membayar tidak lama lagi, namun sekarang masih dikumpulkan hingga tercukupi dana lapak dan modal lagi,” tutur Summi yang meneruskan dagangan ibunya tersebut.
Senada diucapkan Diyen pedagang daging ayam, “Kalau tidak ada halangan Senin (hari ini) saya mulai membayar, dari hitung-hitungan biaya lapak memang berkisar demikian,” ucap wanita muda tersebut. (cw3)