Finger Talk Cafe, Pertama dengan Pramusaji Tunarungu Pesan Makanan dengan Gerakan Jari dan Tangan

081022_215215_Tuna_wicaraMemesan makanan biasanya dilakukan cukup dengan menyebutkan keinginan kita ke pramusaji. Namun, itu tidak berlaku di finger talk cafe di daerah Pamulang, Tangerang, Banten. Pengunjung diminta memanfaatkan tangan dan jari untuk berkomunikasi dengan pramusaji. Sebab, mayoritas adalah tunarungu.

Laporan Zalzilatul Hikmia, Tangerang

SEKITAR pukul 12.00 suasana kafe di Jalan Pinang, Pamulang Timur, Tangerang Selatan, itu begitu ramai. Wajar, memasuki waktu makan siang, orang-orang berbondong-bondong mencari rumah makan.

Tapi, suara ramai itu ternyata tidak hanya datang dari obrolan-obrolan atau riuh tawa para pengunjung. Suara tersebut juga muncul dari obrolan pengunjung dan pramusaji.

Di salah satu sudut, misalnya, terlihat seorang pengunjung yang tengah memesan makanan. Sambil menunjuk menu, dia mengucapkan kalimat dengan nada agak keras. Jika dipandang dari jauh, dia tampak seperti sedang marah-marah. Namun, itu bukan marah. Pembeli hanya mengucapkan pesanan dengan suara agak tinggi disertai gerakan mulut yang diperlambat. ”Sa-ya pe-san ini u-dang sa-tu. Sa-ma teh ta-rik sa-tu,” tutur perempuan itu.

Tapi, yang disampaikan rupanya belum juga ditangkap pramusaji. Sang pramusaji tersenyum sembari menyodorkan bolpoin beserta kertas. Dia meminta pengunjung menulis pesanan.

Ya, kafe itu memang terlihat agak berbeda dengan tempat-tempat makan biasa. Pengunjung tidak bisa membaca menu sambil menyebutkan seluruh pesanan dan dengan cepat akan dicatat pramusaji. Sebab, di situ hampir seluruh pelayannya memiliki keterbatasan dalam pendengaran atau tunarungu.

Hal serupa tampak di sudut bagian kanan. Dua perempuan yang tengah duduk di dekat jendela tampak tengah berusaha keras menyampaikan pesanan. Mereka sedang mengobrol dengan Frisca, salah seorang pramusaji. Nama Frisca bisa langsung diketahui dari seragam yang dikenakan. Di bagian belakang seragam memang sengaja dicetak nama pramusaji. Nama mereka juga digambarkan dengan bahasa isyarat yang menggambarkan setiap huruf nama mereka.

”Sa-ya ma-u lum-pia satu,” ujar Novi Rahayu, 27, sambil menggerakkan jarinya membuat angka satu. ”Sa-ya yang i-ni (menunjuk menu yang dipegangnya),” timpal Maisah Ayu, 26, dengan menggerakkan jarinya agar sang pramusaji melihat yang ditunjuk.

Berbeda dengan yang sebelumnya, Frisca tampak langsung mengerti pesanan Novi dan Maisah. Dengan gerakan tangan membentuk tanda oke, Frisca mencatat pesanan mereka. Dia pun tampak luwes menunjukkan menu lain kepada dua sahabat itu.

Setelah selesai, perempuan asal Bali itu pun langsung menuju dapur untuk menyampaikan pesanan kepada koki yang bertugas. Tak berselang lama, dia kembali dengan hidangan-hidangan yang dipesan Novi dan Maisah.

Novi dan Maisah mengaku coba-coba datang ke finger talk cafeitu. Sebab, konsep kafe tersebut berbeda dengan yang lain. Sang pemilik sengaja memberdayakan tunarungu untuk menjadi karyawan. ”Nice kok semuanya. Makanannya enak, pelayanannya juga ramah banget,” ungkap Novi.

Novi mengatakan, dirinya dan Maisah sempat khawatir akan pelayanan pramusaji saat akan datang untuk mencoba makanan di kafe yang baru dibuka kemarin (3/5) itu. Mereka takut tidak bisa berkomunikasi karena memang tidak menguasai bahasa isyarat.

”Akhirnya tadi kami pakai bahasa tubuh aja. Yang bisa digerakin(tangan dan jari), kami gerakin buat menyampaikan pesanan. Syukur, tidak ada masalah,” tutur Novi sambil menyantap makanan di depannya.

Malah, menurut Maisah, ketakutan mereka justru dipatahkan Frisca. Saat bilang tidak mengerti, mereka justru diajari Frisca beberapa gerakan bahasa isyarat. Misalnya, mengucapkan terima kasih serta sendok dan garpu. ”Kami malah jadi nambahilmu ini sih,” ujarnya.

Dissa Syakina Ahdanisa, pemilik kafe, cukup gembira dengan komentar pengunjung. Dia pun dengan sigap menghampiri dua sahabat tersebut dan menyampaikan terima kasih. Tak lupa, dia meminta mereka lebih bisa memahami jika komunikasi dengan pekerjanya membutuhkan waktu yang agak lama.

Perempuan berjilbab itu pun mendatangi meja-meja lainnya. Dia tampak sibuk membuntuti seluruh pekerjanya saat menjamu para pengunjung. ”Maklum, masih baru. Tidak semua berpengalaman,” tutur perempuan kelahiran Jakarta, 25 tahun lalu, itu.

Dissa harus bolak-balik mengecek para tamu. Dia mengaku tidak menyesal akan pilihannya membangun finger talk cafe itu. Sebab, hal tersebut adalah salah satu impiannya sejak masih sekolah.

Dia ingin mengikuti jejak sang ibu untuk bisa membantu kaum tunarungu. Jadi, meski telah memiliki karir cemerlang di bidang perbankan, Dissa ingin mewujudkan impian untuk bisa membangun ”sesuatu” bagi para deaf atau tunarungu.

”Puas banget. Bersyukur, alhamdulillah bisa buka juga akhirnya,” tutur dia. Dissa mengungkapkan, keinginan itu sempat redup karena minimnya pengetahuan bisnis. Tak punya koneksi dengan komunitas deaf juga membuat dia susah untuk diterima pada awalnya. Sebab, menurut dia, ada sebagian yang membedakan pergaulan. Mereka menyebut yang normal dandeaf akan susah untuk bersama.

Tapi, rasa sosial untuk memberikan sesuatu bagi para tunarungu kembali muncul saat dia menjadi sukarelawan di Nikaragua, Amerika Tengah, pada 2004. Di sana dia menemukan sebuah kafe dengan seluruh pekerjanya tunarungu dengan pemilik hearing (seorang normal yang mengerti dan bisa bahasa isyarat). Kemesraan bos dan para pekerjanya tersebut seolah membangun rasa percaya diri Dissa untuk berani melangkah mewujudkan cita-cita yang sempat terpendam.

Setelah kembali ke Indonesia, Dissa dikenalkan dengan seorangdeaf, Pat Sulistyowati, 65, pada 2014. Pat menyambut baik niat sulung di antara empat bersaudara itu dan langsung menyanggupi untuk membantu. Caranya, berkomunikasi dengan komunitas dan anak didiknya. Pat adalah guru keterampilan. Dia membuka les jahit di rumahnya khusus untuk tunarungu.

Dengan bantuan tersebut, ternyata jalan Dissa untuk menembus komunitas deaf tidak semulus dugaan awal. Dissa harus menunggu hingga lima bulan, sejak Desember 2014, untuk bisa bertemu dengan seluruh karyawannya saat ini.

Mereka satu per satu harus didekati dengan cara khusus untuk menyampaikan maksud Dissa. Usaha tersebut pun membuahkan hasil. Enam deaf berhasil diyakinkan untuk bergabung. ”Bahkan, yang Frisca datang baru minggu kemarin dari Bali,” ungkap alumnus Universitas New South Wales, Australia, itu.

Setelah Dissa berhasil merekrut para tunarungu, perjuangan tidak serta-merta berhenti. Dia harus belajar agar dapat menemukan pola kerja sama yang pas dengan pekerjanya. Sebab, mereka dinilai memiliki perasaan yang lebih sensitif ketimbang karyawan yang normal.

Saat tidak nyaman dalam suatu keadaan, misalnya, raut wajah mereka akan langsung jelas menggambarkan hal tersebut. Untung, sebelum memutuskan terjun dalam dunia bisnis itu, Dissa belajar dari Pat. Dia belajar bahasa istyarat, memahami sifat-sifat mereka, serta cara berkomunikasi dengan baik kepada mereka. Karena itu, saat pembukaan kemarin, Dissa selalu menanyakan kondisi mereka.

”Harus pinter-pinter baca situasi. Kalau raut muka sudah tidak baik lagi, langsung samperin, ajak ngobrol. Tenangin,” jelasnya.

Dissa sadar, dengan merekrut mereka, pekerjaannya pun mungkin akan semakin berat. Dia tidak hanya menjaga moodpelanggan, tapi juga anak buahnya. Tapi, itu tidak sedikit pun mengusiknya. Jiwa sosial untuk dapat membantu menyejahterakan mereka menjadi alasan kuat. ”Lagian, saya tidak sendiri. Banyak yang membantu dan mendukung saya,” ungkap perempuan yang jago main gitar itu.

Perjuangan berat ternyata juga dirasakan sang karyawan, Fatri Nurul Andriyani, 20. Status fresh graduate dari salah satu sekolah luar biasa (SLB) di Bandung tentu bisa menggambarkan minimnya pengalamannya dalam dunia kerja. Nurul mengaku kadang susah mencerna maksud pembeli. Bahkan, dia sempat salah menyajikan makanan. Pesanan meja nomor 6 dia sajikan di nomor 3. Dia pun mendapat komplain dan harus menukar pesanan.

Karena itulah, seusai melayani pelanggan, dia selalu bertanya kepada Frisca tentang apa yang menjadi masalah. ”Masih pusing,” ujarnya dengan terbata sambil menggerakkan tangan ke arah kepala.

Namun, tidak demikian halnya dengan Frisca. Pemilik nama lengkap Frisca Carolina itu sudah sangat enjoy. Sebelumnya dia memang bekerja di bidang tata boga ataupun pekerja rumah tangga. Tapi, kesulitan justru muncul dari teman-temannya. Problem tersebut muncul lantaran bahasa isyarat yang mereka gunakan agak berbeda. Untuk Bali, bahasa isyarat cenderung mengambil dari Amerika Serikat. Sebaliknya, Bandung memiliki gerakan khas sendiri, begitu pun Jakarta.

Untuk menyampaikan kata belajar, misalnya, Frisca akan menggerakkan tangan kanan di atas tangan kiri seolah mengambil sesuatu, kemudian diarahkan ke kepala. Sebaliknya, Nurul menyampaikannya dengan menopangkan satu tangan ke dagu. ”Tapi, kami tertolong dengan pulpen dan kertas,” ujarnya, lantas tertawa.

Keduanya pun mengaku senang dapat bekerja dengan Dissa. Mereka berharap pekerjaan itu dapat berlangsung lama. Sebab, menurut keduanya, hingga kini mereka masih sangat sulit untuk diterima baik dalam pergaulan maupun pekerjaan. (*/c10/end)