EMPAT DAERAH RAWAN

BENGKULU, BE – Psikologis masyarakat Bengkulu masih mengalami kecemasan akibat gempa 5,9 skala richter, Rabu lalu (1/2). Trauma 2 gempa dahsyat selama era milenium (4 Juni 2000, 7,3 SR dan 12 September 2007 7,9 SR) kembali muncul. Apalagi gempa susulan terus mengancam. Kerusakan bangunan baik fasilitas umum maupun milik warga juga dilaporkan terus bertambah. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah menetapkan tiga daerah di Provinsi Bengkulu sebagai daerah rawan bencana dan tsunami. Ketiga daerah itu adalah Kota Bengkulu, Kabupaten Bengkulu Utara, dan Kabupaten Mukomuko. “Tiga daerah itu rawan,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, tadi malam. Dari kajian BNPB, Kota Bengkulu, Kabupaten Bengkulu Utara, dan Kabupaten Mukomuko rentan bencana khususnya kategori gempa dan tsunami, karena berada di pertemuan lempeng aktif Indoaustralia dan Eurasia. Kajian serupa juga dilakukan Badan Program Pembangunan PBB (United Nation Development Program) dan non governmental organization (NGO) asing asal Swiss terhadap Bengkulu. Namun jumlah titik rawan mencapai disebutkan mencapai 9 titik menyisiri Kabupaten Mukomuko, Bengkulu Utara, Bengkulu Tengah, Kota Bengkulu, Kabupaten Seluma, dan Kabupaten Kaur yang berada di sepanjang pesisir pantai barat Sumatera. Penetapan status itu lantaran daerah tersebut berada di lempeng samudera pantai barat dan lempeng benua sepanjang Bukit Barisan.
Dari kajian itu juga dinyatakan intensitas tinggi gempa bumi terjadi di Kota Bengkulu, Muara Aman, Mukomuko, Curup, Manna, Bintuhan, Tais, Kepahiang, Seginim, Linau dan Pulau Enggano. BNPB juga belum mendapatkan laporan pasca gempa yang terjadi di Bengkulu. Namun dari koordinasi yang dilakukan ke daerah belum ada dampak signifikan dari gempa 5,9 SR itu.”Dampaknya nihil,” tuturnya. Plt Gubernur H Junaidi Hamsyah telah memerintahkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi untuk memonitor secara serius kerusakan pasca gempa 5,9 SR. Selain itu berkoordinasi dengan kabupaten/kota untuk meningkatkan kewaspadaan akan bencana gempa yang mengancam. “Sudah ada perintah untuk memonitor terus kondisi pasca gempa,” kata jubir Pemprov Ir Ali Berti LN, kemarin, menambahkan Plt Gubernur kini tengah berada di Palembang untuk menerima penghargaan dari pemerintah pusat atas kesuksesan Bengkulu mampu memerangi penyakit sapi yang mematikan dan menular pada manusia. Penghargaan diberikan bersama daerah tetangga lainnya yaitu Sumatera Selatan, Lampung, dan Babel. BPBD Provinsi sendiri mengaku belum menerima laporan resmi kerusakan dari kabupaten/kota. Plt Kabid Tangap Darurat BPBD Provinsi, Djamin Tuasalamony sangat menyesalkan tidak adanya dari kabupaten/kota tersebut. Pihaknya sudah menghubungi 4 daerah meliputi Kaur, Bengkulu Selatan, Kota Bengkulu, dan Mukomuko. “Kabupaten lainnya tidak bisa terhubung. Antisipasi juga sudah disiapkan dengan menyiapkan jalur evakuasi dan gudang logistik. Ironisnya, BPBD tidak tahu berapa jumlah pasti jalur evakuasi, dan titik logistik.”Kita tidak mengeatahui berapa jumlah pastinya,” tukasnya.

Pasien Nginap di Lobi

Kecemasan warga terlihat jelas di RSUD Curup. Pasca gempa, puluhan pasien di ruang kebidanan, bedah, raflesia dan pasien kelas III enggan tidur di kamar perawatan. Mereka lebih memilih tidur di lobi dan teras rumah sakit lantaran khawatir jika gempa susulan terjadi. “Kita berupaya memberikan pengertian kepada para pasien dan keluarga, agar mereka kembali ke ruangan perawatan,” tutur Plt Direktur RSUD Curup Desma Heryana SKM kemarin. Terkait evakuasi pasien selama di ruang lobi, Desma menjami seluruh pasien mendapatkan pelayanan dan akomodasi yang cukup. Pihak RSUD Curup bahkan harus memindahkan beberapa peralatan medis seperti tabung oksigen, ranjang pasien, serta perlengkapan medis lainnya ke teras RSUD Curup untnuk para pasien yang masih memilih berada di teras rumah sakit. “Kita tidak bisa memaksa, karena secara psikis para pasien panik saat gempa besar,” terang mengutarakan tenda bantuan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan PMI akan tetap dipasang hingga 2 hari kedepan, untuk antisipasi dan evakuasi pasien.

 Inventarisir Kerusakan

Kabupaten Bengkulu Utara termasuk daerah yang bangunannya banyak rusak akibat gempa. Dari hasil inventarisir yang BPBD Bengkulu Utara, setidaknya sekitar 10 gedung dan rumah yang mengalami kerusakan ringa. ” Sejauh ini masih dalam tahap laporan sementara mengenai jumlah kerusakan akibat gempa kemarin, ” ujar Kepala BPBD Bengkulu Utara Drs Rahmad Riyanto melalui Sekretaris Sudiro SSos. Tidak hanya melakukan pengumpulan data melalui tim yang diterjunkan ke lapangan, BPBD Bengkulu Utara juga mengumpulkan informasi dari para camat di masing-masing kecamatan untuk pendataan tingkat kerusakan yang terjadi. Pasalnya data tersebut nantinya akan dilaporkan kepada pemerintah pusat. Mengenai jumlah kerugian yang ditimbulkan belum bisa ditaksir berapa kepastiannya. “BPBD masih terus melakukan monitoring terkait gempa kemarin. Keberadaan pos siaga saat ini akan terus disiagakan untuk mengantisipasi jika terjadi gempa susulan, ” tukasnya. Kantor Camat Bang Haji Bengkulu Tengah dilaporkan mengalami kerusakan cukup parah. 75 persen dindingnya retak sehingga rawan roboh. Tak ayal untuk melakukan kegiatan rutin, aparatur setempat terpaksa mendirikan tenda untuk melakukan pelayanan. “Beruntung saat gempa tidak ada siapa-siapa,” jelas Camat Bang Haji Isemudin SH. Parahnya kerusakan bangunan kantor camat itu, kata dia, tak lepas dari kondisi bangunan yang rapuh lantaran dibangun asal-asalan. Itu ditandai dengan banyak ditemukannya bekas sampah pakaian dan kertas bekas di dalam kolom praktis tiang penyangga bangunan. “Sewaktu kami korek sisa-sisa dinding yang retak, ditemukan banyak kain bekas dan kertas penyumpal kolom tiang. Kami menduga pekerjaan bangunan ini tidak dilakukan secara sempurna,” jelas Isemudin. Ditambahkan Isemudin, selain kain bekas dan kertas yang ditemukan hampir di seluruh tiang kolom mengecek besi cor yang ditiang ditemukan besi cor tidak sesaui standar, yakni besi cor ukuran 8. Semestinya untuk bangunan starndar minimal harus dipasang besi cor ukuran 10. “Ada juga kami temukan hasil penyemenan yang dibuat gampangan, yakni seperti bubuk sewaktu ditekan pakai jari,” jelas Isemudin menambahkan bangunan tersebut diserahterimakan 2011 lalu. Terkait fisik bangunan, Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Benteng, A Razak Kabri ST sewaktu mengecek ke lokasi, membenarkan bila kualitas pembangunan kantor Bang Haji rendah. “Apa yang disampaikan pak Camat itu benar. Memang diakui, mutu kantor rendah. Dan pembangunan terkesan mencari untung dengan mengganti dengan bahan material yang lebih murah,” kata A Razak.

Intensif Pantau

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terus melakukan pemantauan situasi pasca gempa. Kepala Seksi Observasi dan Informasi BMKG, Sudiyanto SP mengungkapkan tsunami dapat dideteksi dengan alat koordinat seismograph sehingga dapat diketahui bila tsunami terjadi. Namun gempa memang tidak bisa diprediksi tetapi kemungkinan tsunami bisa dilihat bila dari jarak waktu setelah gempa, yaitu 10 – 20 menit. “BMKG akan tetap memantau tsunami yang diakibatkan gempa hingga 1 jam setelahnya,”katanya. Dituturkan Sudiyanto, biasanya tsunami diakibatkan gempa besar seperti gempa Aceh dengan kekuatan yang diatas 8 skala richter. Ciri-ciri tsunami ialah air laut tiba-tiba surut setelah gempa, dan tiba-tiba air naik ke permukaan dengan cepat seperti gelombang di pantai yang berangsur-angsur tetapi dalam skala besar. Di Kota Bengkulu sendiri BMKG memasang dua alat pemantau gempa dan tsunami yang sewaktu-waktu bisa berbunyi bila terjadi gempa yang mengakibatkan tsunami. “Kita ada dua alat pemantau, satu di Sport centre dan satunya lagi di belakang Kesbang Linmas kantor gubernur,” ungkap Sudiyanto yang menyatakan alat BMKG tersebut masih berfungsi dengan baik. Kondisi ini dibenarkan Marzuki Effendi (50) warga RT 9 Kelurahan Lempuing, Kota Bengkulu alat tersebut masih berfungsi. Ini ditandai setiap bulan pada tanggal 26 pukul 10.00 wib dan alat tersebut dibunyikan oleh BMKG Kepahiang atau bisa juga BMKG Jakarta. “Kami diberitahu oleh petugas BMKG Kepahiang yang datang melihat tower agar jangan khawatir bila berbunyi setiap tanggal 26 karena memang sengaja dilakukan sebagai tes alat,” ujarnya. Selain itu dikatakan Marzuki alat tersebut tidak akan berbunyi bila gempa tidak besar dan tidak berpotensi tsunami. “Kami juga diterangkan kalau alat tidak bunyi bila tidak berbahaya, seperti gempa kemarin tidak berbunyi karena dianggap kecil dan tidak berpotensi tsunami,” ungkapnya. (tim)

  • rumah dijual 8 Februari 2012 at 11:30

    turut prihatin atas terjadinya musibah gempa yang menimpa daerah bengkulu dan sekitarnya.