Empat Bule Amerika Tenggelam, Satu Nyawa Tak Terselamatkan

Bengkulu
Suasana pencarian korban tenggelam Timothy Allen (35) WNA Amerika dilakukan oleh Basarnas Bengkulu di Pantai Panjang Bengkulu, kemarin (4/3)

BENGKULU, Bengkulu Ekdpress -Pantai Panjang kembali memakan korban jiwa, kali ini Warga Negara Asing (WNA) asal Amerika bernama Timothy Allen (35) tewas tenggelam, Sabtu (4/3) sekitar pukul 14.15 WIB. Sebelum tenggelam, Tim berenang dengan tiga orang WNA lainnya, Toni (19), Daniel (7) dan Ben (10) di Pantai Belakang Bengkulu Indah Mal (BIM).

Kondisi cuaca saat mereka berenang cerah, ombak tidak begitu tinggi karena pantai sedang surut. Kepanikan terjadi saat mereka sudah berenang sekitar 30 menit. Kaki mereka sudah tidak bisa merasakan menapak pasir, tidak lama setelah itu empat orang WNA  panik karena terseret arus air. Toni, Ben dan Daniel berhasil selamat, sementara Timothy tidak berhasil diselamatkan.

Dari keterangan Toni, dia sudah berusaha semaksimal mungkin menarik Timothy saat mereka terseret arus air. Tetapi usaha itu sia-sia karena, Toni juga kesulitan menahan tubuh Daniel dan Ben. Beruntung warga sekitar yang mengetahui kejadian tersebut, berlari kemudian memberikan pertolongan. Hanya saja, tubuh Tim tetap tidak bisa diselamatkan.

“Sudah tidak bisa kepegang tangan Timothy lagi setelah kami panik karena kaki tidak lagi merasakan menapak di pasir. Saya hanya bisa berusaha mengangkat Daniel dan Ben, beruntung ada warga yang membantu,” ujar Toni yang mengaku datang ke Bengkulu untuk Study Tour bersama dengan Tim teman satu kampusnya.

Toni mengaku tidak tahu seluk beluk Pantai Panjang. Karena kondisi cuaca bagus dan ombak tidak begitu tinggi, mereka tidak ragu untuk berenang. Toni juga mengaku tidak ada warga yang mengingatkan untuk tidak mandi di lokasi tenggelam. Dia datang ke pantai sebenarnya lima orang. Satu orang saudara Timothy tidak berenang, dia dipinggir pantai menjaga baju.

Bengkulu
RIZKY/Bengkulu Ekspress. Toni WNA asal Amerika memberikan keterangan setelah dirinya berhasil selamat setelah diseret ombak Pantai Panjang

“Kami ke sini tadi lima orang, yang mandi 4 orang. Tidak ada yang melarang mandi,” jelas Tim yang mengaku dari salah satu Universitas di Virginia, Amerika.

Ujang (41), pemilik warung di sekitar pantai yang pertama kali masuk kedalam air menyelamatkan WNA mengungkapkan, dirinya sudah tidak lagi melihat tubuh Tim saat masuk kedalam air menolong WNA tersebut. Dia hanya melihat Toni memegangi tubuh Daniel dan Ben.

Dibantu warga lainnya, tiga WNA itu akhirnya bisa dievakuasi keluar dari laut. “Saat saya masuk, tubuh WNA yang namanya Tim itu sudah tidak kelihatan lagi. Saya hanya lihat tiga orang WNA kepanikan minta tolong,” jelasnya.

Masih dikatakan Ujang, lokasi pantai WNA tersebut berenang memang dikenal jarang ada orang berenang. Karena di lokasi itu ada palung cukup dalam. Jika sudah masuk kedalam palung sulit keluar, karena ditarik arus laut. Meski cuaca sedang bagus dan air laut surut, jika sudah berada didalam palung tetap akan susah keluar. Ujang meyakini jika jenazah Tim, tidak akan jauh dari lokasi dia tenggelam. “Di lokasi mereka berenang ada palung cukup dalam. Saya tahu, karena sering pasang jaring dilokasi ini,” jelas Ujang.

Sekitar 30 menit dikabarkan ada orang tenggelam, Basarnas, kepolisian, BNPB langsung mendatangi lokasi. Setidaknya empat unit perahu karet bermesin diturunkan menyisir pesisir pantai panjang menemukan tubuh korban.

Kepala Basarnas Provinsi Bengkulu, Anggolo mengatakan, timnya terus berusaha semaksimal mungkin melakukan pencarian. Selain menurunkan perahu menyisir, dari pesisir pantai beberapa tim juga memantau dari kejauhan. Untuk kendala, menurut Anggolo kendalanya berada pada informasi yang diberikan korban selamat. Kendala bahasa dan korban yang masih trauma menjadi kendala. Karena tidak bisa memberikan informasi lokasi tenggelam secara akurat. “Kita terus berusaha melakukan pencarian semaksimal mungkin. Empat unit perahu kita turunkan melakukan penyisiran. Ada sedikit kendala, mereka kan orang luar sehingga kendala bahasa menjadi faktor utama,” pungkas Anggolo.

Pantauan di lapangan, tenggelamnya WNA asal Amerika ini menjadi daya tarik tersendiri bagi warga Bengkulu yang kebetulan sedang berada di Pantai Panjang. Keluarga dan sahabat korban tenggelam Tim terlihat memantau perkembangan terbaru hasil pencarian dari pinggir pantai.  Dua orang korban selamat langsung dibawa keluarga ke rumah sakit, karena mereka mengalami trauma. Sementara Toni masih berada dilokasi, dia terlihat trauma setelah menyaksikan rekannya tenggelam.

Ditemukan Tadi malam

Setelah tenggelam dan terombang-ambing di kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu selama 5 jam lebih, sekitar pukul 19.20 WIB akhirnya jenazah warga Amerika Serikat bernama Timothy Allen (35) di temukan menepi ke pinggir pantai, sekitar 60 meter dari awal korban tenggelam.

Kepala Basarnas Provinsi Bengkulu, Agolo Suparto, mengatakan ditemukannya korban sendiri berawal pihaknya bersama tim gabungan memutuskan untuk menyisir kawasan Pantai Panjang dikarenakan tidak memungkinkan untuk mencari ke tengah laut. Selang beberapa waktu melakukan penyisiran, warga bersama tim pencari menemukan korban  yang telah menepi di pinggir laut di kawasan depan Sport Center.  “Karena korban orangnya tinggi dan besar, sehingga korban cukup mudah ditemukan,” jelasnya ketika dihubungi Bengkulu Ekspress tadi malam (4/3).

Pada saat ditemukan, korban telah terbujur kaku. Namun masih menggunakan baju kaos berwarna coklat dan celana olahraga berwarna hitam garis biru. Selanjutnya untuk kepentingan penyelidikan, tim Basarnas langsung menyerahkan korban ke DVI Polda Bengkulu untuk dilakukan visum. “Setelah diketemukan, kita langsung menyerahkannya ke pihak DVI,” sampainya.

Sementara Ps Kaur Dokpol RS Bhayangkara, Ipda Suratno yang ikut melakukan visum pada korban mengatakan bahwa, dalam kejadian ini setelah dilakukan visum, korban mengalami beberapa luka yang diduga terbentur dengan karang laut.  “Kita lihat korban mengalami luka di bagian pelipis mata, tangan dan kaki. Namun tidak ada luka yang harus dijahit,” ujarnya.

Setelah dilakukan visum, sementara waktu korban akan dititipkan ke RS M Yunus Bengkulu. Untuk menunggu Otopsi mengetahui penyebab pasti kematian korban. Selain itu, Otopsi dilakukan karena salah satu syarat agar korban bisa diterbangkan ke kampung halamannya di Amerika Serikat.  “Karena pihak pesawat, tidak mau menerima jika tidak ada keterangan kematian dari korban,” ujarnya.

Selama di RS Bhayangkara, terlihat seorang warga Amerika yang merupakan teman korban bernama Petrik bersama giatnya bernama Andrian yang terus menunggu korban dan untuk berkonsultasi dengan pihak DVI maupun kepolisian. Dalam penjelasan Andrian, bahwa korban Timothy Allen yang masih kuliah di salah satu universitas di Amerika Serikat, sudah berada di Provinsi Bengkulu selama 1 bulan ini. Dirinya melaksanakan Global Studi di kabupaten Rejang Lebong, Curup.

“Sementara dia baru 3 hari ke Bengkulu hanya sekedar jalan-jalan,” sampainya.

Untuk korban sendiri, kemungkinan tidak akan dilakukan otopsi karena pihak keluarga telah menunggu agar bisa di makamkan kekampung halamannya. Akan tetapi diperkirakan angota Duta Besar Amerika yang ada di Indonesia akan datang ke Bengkulu. “Tetapi kemungkinan pihak korban hanya akan meminta surat kematian saja,” ucapnya.(614/167)