Elektabilitas Jokowi Kalahkan Mega

062000_308420_Jokowi_megaCapres Paling Potensial dalam Hasil Survei Terbaru

JAKARTA – Bursa capres-cawapres pada Pilpres 2014 diperkirakan memunculkan tokoh baru. Satu tahun menjelang Pilpres 2014, elektabilitas Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo sebagai bakal capres melejit.

Dalam survei yang dilakukan Pusat Data Bersatu (PDB), Jokowi bahkan jauh melampaui figur sentral di PDIP Megawati Soekarnoputri.

PDB adalah lembaga survei baru yang digawangi Didik J. Rachbini, pengusaha Peter F. Gontha, dan mantan Menteri BUMN Tanri Abeng. Ada pula nama politikus Theo L. Sambuaga, mantan Gubernur Lemhanas Muladi, dan beberapa nama lainnya.

“Jokowi muncul sebagai tokoh baru yang berhasil menyita perhatian publik,” kata Didik Rachbini saat memaparkan hasil survei lembaganya di Hotel Kempinski Jakarta kemarin (6/2).

Mantan wali kota Solo itu berada di posisi puncak di antara 29 tokoh potensial capres yang dijaring. Elektabilitas Jokowi mencapai 21,2 persen. Posisinya menggeser dominasi Prabowo Subianto (17,2 persen) dan Megawati (11,5 persen) yang selama ini terus memimpin survei-survei capres yang ada. “Selisih Jokowi dengan Ibu Mega itu bisa dikatakan cukup jauh, hampir dua kali suaranya Ibu Mega,” kata Didik.

Selain memunculkan nama Jokowi di posisi puncak, survei PDB memunculkan tokoh baru di posisi empat besar. Tingkat keterpilihan pedangdut Rhoma Irama yang juga telah menyatakan siap maju capres berada tepat di bawah Megawati. Raja dangdut itu dianggap layak oleh 10,4 persen responden.

Menyusul di bawahnya Aburizal Bakrie (9,7 persen), Jusuf Kalla alias JK (7,1 persen), Mahfud M.D. (3,3 persen), Wiranto (3,2 persen), Dahlan Iskan (2,0 persen), Hatta Rajasa (1,8 persen), dan Surya Paloh (1,4 persen). Sementara itu, elektabilitas tokoh-tokoh yang lain masih di bawah 1 persen.

“Ini rakyat yang bicara. Inilah realitas pilihan rakyat saat ini,” tegas Didik yang juga mantan wakil direktur Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES).

Saat disimulasikan dengan hanya 13 tokoh potensial capres, Jokowi juga tetap unggul. Perbedaan yang muncul dengan simulasi sebelumnya tidak terlalu signifikan. “Bahkan, untuk tokoh potensial, cawapres Jokowi tetap unggul,” beber Didik.

Di bagian lain hasil survei, Jokowi berada di posisi teratas dengan didukung 16,6 persen. Menyusul berikutnya Prabowo (9,8 persen), JK (8,5 persen), Rhoma Irama (7,3 persen), Aburizal Bakrie (6,2 persen), Megawati (5,1 persen), Wiranto (4,7 persen), Dahlan Iskan (4,7 persen), dan Mahfud M.D. (3,6 persen).

Muncul pula nama Hatta Rajasa (2,8 persen), Akbar Tandjung (2,8 persen), Chairul Tanjung (2,1 persen), Surya Paloh (1,6 persen), Sri Sultan (1,2 persen), Hidayat Nur Wahid (1,2 persen), dan Din Syamsuddin (1,2 persen). Nama-nama lainnya masih berada di bawah 1 persen.

“Jika tidak ada hal khusus selama setahun mendatang, Jokowi ini kalau tidak diambil PDIP pasti diambil partai-partai lain untuk diusung,” tegas Didik.

Menanggapi hasil survei tersebut di tempat yang sama, peneliti senior Lembaga Survei Indonesia Burhanudin Muhtadi menyatakan, hasil survei soal capres yang diungkap PDB adalah gambaran dari fenomena hukum besi demokrasi. “Bahwa, mohon maaf sebelumnya, suara profesor itu nilainya sama dengan yang hanya lulusan SD,” kata Burhan.

Atas munculnya Jokowi mengungguli calon kandidat capres lainnya, dia menganggap hal itu sebagai penegas bahwa masyarakat sedang dahaga akan hadirnya figur alternatif. Kebetulan, lanjut Burhan, di antara sekian alternatif yang ada, Jokowi lah yang memiliki popularitas paling baik.

“Bagi tokoh-tokoh lama, fenomena Jokowi seperti membesarkan anak macan. Tokoh-tokoh itu yang membawa Jokowi dari kampungnya di Solo, yang kemungkinan besar nanti memakan induknya,” paparnya. (dyn/c6/agm)