Elektabilitas Incumbent Mendominasi

Foto :IST

BENGKULU, bengkuluekspress.com – Berdasarkan hasil survei dilakukan oleh Lembaga Survei Politik Indonesia (LSPI), elektabilitas Rohidin Mersyah masih cukup tinggi di Provinsi Bengkulu. Hal ini tentu saja akan membuat beberapa calon kandidat Pilgub 2020 cukup kewalahan dibuatnya. Peneliti LSPI, Chaerul Sholeh mengatakan, dari sekian banyak aspek yang ditanyakan ke 800 responden terkait tingkat keterpilihan atau elektabilitas dan popularitas yang paling dinantikan banyak pihak, terkhusus para kandidat, terbukti Rohidin Mersyah masih menempati urutan teratas di Bengkulu. Bahkan jika sebelumnya Agusrin M Najamudin yang sempat digadang-gadang memiliki elektabilitas tinggi masih kalah dengan Gubernur Bengkulu Petahana.

“Ada dua nama kuat yang muncul berdasarkan top mind hasil survei. Pertama Rohidin Mersyah, Gubernur Bengkulu petahana dengan tingkat elektabilitas 16.3 persen. Kedua Agusrin Najamuddin dengan tingkat popularitas 12.1 persen,” kata Chaerul, kemarin (23/12).

Tidak hanya tingkat elektabilitas yang tinggi, bahkan Rohidin Mersyah juga memiliki tingkat popularitas yang cukup baik sebesar 70 persen. Bahkan, popularitas Rohidin Mersyah lebih baik dibandingkan beberapa kandidat calon gubernur lainnya. “Dari elektabilitas dan popularitas hasil survei menunjukan Rohidin Mersyah merupakan calon kandidat Gubernur Bengkulu terkuat di Bengkulu,” tuturnya.

Ia menambahkan, meskipun Rohidin Mersyah memiliki elektabilitas dan popularitas yang cukup tinggi. Namun, persaingan antara calon kandidat Gubernur Bengkulu pada 2020 masih terbuka lebar. “Persaingan masih terbuka lebar, jadi kemungkinan calon lain untuk menjadi Gubernur Bengkulu juga masih ada,” tutupnya.

Pengamat Politik Universitas Bengkulu, Drs Heri Supriyanto MSi mengatakan, untuk di Bengkulu masih dominan Incumbent cukup sulit untuk dikalahkan, sulit dikalahkan oleh lawan-lawan politiknya. Fenomena banyaknya Incumbent menang di pemilu kepala daerah (Pilkada) disebabkan beberapa hal. Faktor popularitas selama lima tahun menjadi modal calon petahana ini meraih sukses lanjut dua periode. “Dari sisi kompotisi, umumnya belum ada yang gagal, karena selama petahana memimpin tentunya memilik banyak sekali modal. Modal artinya, petahana sudah banyak berkarya, bekerja, mulai dari pembangunan fisik dan non fisik,” ujar Heri.

Untuk non fisik dijelaskan, petahana selama kepemimpinanya sudah banyak menjalin komunikasi dengan masyarkatnya, organisasi, pemuda, tokoh agama, tokoh mayarakat dan lain-lain. Sementara dari pembangunan fisik, petahana sudah bekerja melakukan pembangunan, baik itu infrastruktur dasar jalan, pendidikan dan kesehatan. “Itu adalah modal yang sangat luar biasa,” terangnya.

Ia mengaku, selama kepemimpinan petahana, mulai dari sebelum ia memimpin hingga selama ia memimpin ada perubahan atau tidak. Kalau petahan berhasil, maka itu salah satu faktor petahan sulit dikalahkan. “Faktor lainnya dari pemenangan incumbent adalah kemampuannya menggerakkan tokoh informal maupun formal,” katanya.

Dia juga pastinya mampu menjangkau masyarakat luas. Jika selama kepemimpinanya banyak sekali perubahan, baik pembangunan fisik dan non fisik cukup signifikan sulit di kalahkan, untuk penantang. “Mereka harus dengan cepat membangun kepercayaan masyarakat, pendekatan dan jalin komunikasi,” tutupnya.(999)