Ekspor Sarang Walet ke Taiwan

REWA/Bengkulu Ekpress Kepala Badan Karantina Pertanian, Ir Ali Jamil MP PhD didampingi Asisten bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Provinsi Bengkulu, Yuliswani SE MM saat melihat produk yang akan di ekspor ke Taiwan, kemarin (27/6).

BENGKULU, Bengkulu Ekpress– Kementerian Pertanian melalui Badan Karantina Pertanian mengapresiasi langkah Pelaku Industri Sarang Walet di Provinsi Bengkulu dalam mendorong kegiatan ekspor. Bahkan mereka berhasil melakukan ekspor sarang burung walet ke Taiwan dengan nilai 4.138 USD.Kepala Badan Karantina Pertanian, Ir Ali Jamil MP PhD mengatakan, sangat bersyukur karena Bengkulu telah berhasil melakukan ekspor komoditas pertanian yaitu sarang burung walet. Hal ini sejalan dengan komitmen Bengkulu untuk terus membuat kegiatan ekspor komoditas pertanian meningkat.

“Alhamdulillah, ini kita dorong terus, dari sistem pelayanannya maupun jaminan kesehatannya, sesuai persyaratan negara tujuan,” kata Ali, pada acara Apresiasi Pelaku Usaha Agribisnis sekaligus melepas ekspor berbagai komoditas pertanian di Pelabuhan Pulau Baai Kota Bengkulu, Kamis (27/6).

Ia mengaku, sebelumnya kegiatan ekspor sarang walet dari Bengkulu dilakukan melalui tempat lain seperti Jakarta atau Semarang. Hal tersebut dikarenakan belum adanya rumah walet dan tempat produksi yang tersertifikasi, juga belum adanya penerbangan internasional langsung dari Bengkulu.



Sehingga pihaknya berkomitmen dan berkomunikasi dengan instansi dan pemerintah daerah agar akses logistik internasional dapat dipersingkat dan disederhanakan. “Saat ini sarang walet asal Bengkulu diekspor ke Taiwan melalui kantor pos atau jasa titipan. Ini bisa jadi alternatif sementara, lewat jasa titipan atau bandara internasional terdekat, intinya kita dorong agar bisa langsung lewat Bengkulu, dan pastinya harus disertifikasi Karantina agar sesuai persyaratan negara tujuan,” ujar Jamil.

Selain sarang walet, Bengkulu juga melakukan ekspor cangkang sawit ke Thailand senilai Rp 7,15 M dan karet lempengan ke Amerika Serikat senilai Rp 2,17 miliar. Ini dilakukan sesuai dengan komitmen Karantina Bengkulu untuk meningkatkan nilai ekspor di Bumi Rafflesia.

“Sebelumnya, Bengkulu berhasil mengirim kayu olahan ke China dan Thailand, semua itu dilakukan agar ekspor komoditas pertanian di Bengkulu semakin meningkat,” tutupnya.

Sementara itu, Kepala Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Bengkulu, Mochamad Ischaq SP MSi mengaku, berdasarkan data 2018, kegiatan ekspor komoditas pertanian di Provinsi Bengkulu mencapai Rp 162,65 miliar. Dimana hingga Juni 2019, nilainya sudah mencapai Rp 117,45 miliar. Adapun komoditas unggulan diantaranya karet lempengan, kayu karet dan sengon, cangkang sawit, kulit kayu manis dan kopi dengan negara mitra dagang meliputi Amerika Serikat, Tiongkok, India, Kanada, Afrika, Thailand, Taiwan, Vietnam, Malaysia, Swiss dan Jepang.

“Selama ini nilai ekspor kita dari komoditas pertanian sudah besar, namun sarang walet belum begitu dimaksimalkan, padahal harganya mencapai Rp 25 juta per kg dan di Tiongkok harganya sudah Rp 40 juta per kg. Bahkan pada 2018 lalu, ekspor sarang walet Indonesia ke Tiongkok nilainya mencapai Rp 40,6 T, jadi potensinya begitu besar,” kata Ischaq.

Sementara itu, Gubernur Bengkulu, Dr H Rohidin Mersyah MMA melalui Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Provinsi Bengkulu, Yuliswani SE MM mengapresiasi, inisiasi dan program Kementan yang mendorong produk lokal nusantara agar dapat tembus ke pasar manca negara. Ia berkomitmen akan terus mendukung dengan melakukan kerjasama lewat Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang ada dilingkungannya.

“Saya sangat mengapresiasi program Kementan dalam mendorong produk lokal di nusantara termasuk Bengkulu bisa diekspor ke luar negeri, kami dari Pemprov Bengkulu mendukung hal tersebut,” tutupnya.(999)