Ekspor Pertanian Minim


Sawah
Foto : IST

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Nilai ekspor Bengkulu hingga April 2019 lalu mencapai US$ 17,08 juta. Meskipun nilainya cukup besar, namun nilai ekspor tersebut masih disumbangkan oleh komoditas pertambangan dan limbah produksi seperti batu bara dan cangkang sawit. Sementara komoditas pertanian masih minim memberikan kontribusi ekspor bagi Bengkulu.

Kepala Bea Cukai Bengkulu, Indriya Karyadi mengatakan nilai ekspor hingga April 2019 lalu belum disumbangkan oleh komoditas pertanian.  Jika komoditas pertanian menyumbangkan kontribusi ekspor, maka nilainya diperkirakan akan semakin tinggi.

“Butuh upaya bersama pemerintah agar komoditas pertanian bisa diekspor ke luar negeri,” kata Indriya, kemarin (12/6).

Menurutnya, komoditas pertanian seperti kopi robusta Bengkulu sangat digemari penduduk luar negeri karena memiliki citarasa yang khas. Untuk itu, pihaknya mendorong seluruh pihak agar bisa melakukan ekspor komoditas ini melalui Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu.

“Tentu kita ingin agar para petani bisa mendapatkan nilai tambah yang optimal, sehingga bisa menambah kesejahteraan petani dan membuka lapangan kerja baru di bidang pertanian. Makanya kita dorong agar bisa melakukan ekspor melalui Pelabuhan Pulau Baai,” ujarnya.

Ia mengaku, selama ini kegiatan ekspor yang dilakukan di Pelabuhan Pulau Baai baru sebatas batu bara dan cangkang sawit. Kontribusi masing-masing komoditas tersebut yakni sebesar 84,49 persen dan 15,51 persen.  Pihaknya berharap komoditas pertanian lainnya seperti kopi, pisang kepok, jagung, lada, dan beras juga bisa di ekspor dari Bengkulu. “Komoditas pertanian kita banyak, kalau semuanya di ekspor melalui Pelabuhan Pulau Baai maka akan berdampak besar terhadap perekonomian daerah,” tutup Indriya.

Sementara itu, Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Bengkulu, Ir Ricky Gunarwan menyambut positif saran yang diberikan oleh Bea Cukai Bengkulu.  Ia mengaku telah berusaha menggandeng beberapa pihak swasta untuk menggenjot ekspor komoditas pertanian. Bahkan, belum lama ini, pihaknya telah mengekspor kayu olahan ke China dan Thailand.

“Potensi pertanian di Bengkulu cukup besar, kita akan terus menggenjotnya untuk di ekspor ke luar negeri,” kata Ricky.

Beberapa potensi pertanian yang akan dimaksimalkan diantaranya, hasil tanaman holtikultura seperti sayur-sayuran, lada, pala, dan jahe. Bahkan negara tetangga seperti malaysia, singapura masih membutuhkan komoditas tersebut.  “Kita juga memiliki kekayaan holtikultura yang bagus dan berkualitas di wilayah Rejang lebong. Jika terkelola dengan baik dan kendala akses logistik teratasi akan sangat membantu menaikkan nilai ekspor daerah,” tutur Ricky.

Selain itu, Bengkulu juga memiliki potensi sarang burung walet, bahkan nilainya mencapai Rp 133,78 miliar pada 2017 dan meningkat menjadi Rp 170,889 miliar pada 2018. Hanya saja kebanyakan sarang burung walet masih dieskpor melalui provinsi di luar Bengkulu.

“Sarang walet potensinya besar, namun ekspornya belum bisa dilakukan secara langsung sebab masih akan diproses di pulau jawa. Jika Bandara dan pelabuhan Bengkulu meningkat statusnya, tentu akan membawa keuntungan bagi kemajuan perekonomian daerah,” tutupnya.(999)