Ekspor Kopi dan Ikan Minim

kopi
foto :IST

BENGKULU, bengkuluekspress.com – Meskipun Pemerintah Provinsi Bengkulu telah mencanangkan akan melakukan ekspor kopi dan ikan melalui Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu, namun belum terealisasi dengan optimal. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu mencatat kegiatan ekspor pada Desember 2019 tidak mencatat adanya komoditas kopi dan ikan yang diekspor ke luar negeri.

Kepala BPS Provinsi Bengkulu, Dyah Anugrah Kuswardani MA mengatakan, komoditas kopi dan ikan yang digaungkan oleh Pemerintah untuk go internasional ternyata belum begitu maksimal. Bahkan berdasarkan konfirmasi dari Bea Cukai Bengkulu tidak menemukan kegiatan ekspor sama sekali. Hal ini disebabkan masih banyak petani dan pengusaha ikan menjual komoditas tersebut ke pihak kedua.

“Pihak kedua ini yang mengekspornya keluar. Misalkan saja kopi Bengkulu dijual ke Lampung, lalu orang Lampung mengekspornya melalui Tanjung Priok dan tercatat di Bea dan Cukai sana sebagai komoditi asli sana,” kata Dyah, kemarin (3/2).

Tidak hanya komoditas kopi, begitu juga dengan ikan, komoditas ini juga tidak tercatat kegiatan ekspornya di Bea Cukai Bengkulu. Menurut keterangan pihak Bea Cukai Bengkulu, ditemukan eksportir ikan asal Bengkulu masih menjual ikannya ke Riau. Kemudian dari Riau baru di ekspor keluar luar negeri.

“Harapan kita eksportir kita ini, ekspor lah melalui Bea dan Cukai Bengkulu. Atau boleh melalui pelabuhan lain, tapi dia langsung yang mencatatkan ekspornya sebagai produk Bengkulu di Bea Cukai setempat. Dengan tidak tercatatnya ini, ya merugikan kita,” kata Dyah.

Ia mengaku, potensi Provinsi Bengkulu dapat dilihat oleh pihak luar melalui data statistik yang dirilis BPS dan Bea Cukai. Jika kegiatan ekspor komoditas asli Bengkulu tidak ada sama sekali yang tercatat maka banyak pihak luar tidak mengetahui potensi yang dimiliki oleh Bengkulu.

“Dengan tercatat di statistik, maka potensi yang ada di Bengkulu akan terpetakan. Sehingga pedagang beli produk kita dan mampu meningkatkan pendapatan produksi petani dan nelayan kita,” tutupnya. Seperti diketahui, pada Desember 2019 lalu, nilai ekspor Bengkulu mengalami peningkatan sebesar 81,02 persen jika dibandingkan dengan bulan November 2019 yang sebesar US$ 14,89 juta.

Ekspor Provinsi Bengkulu tercatat banyak melalui pelabuhan Pulau Baai Bengkulu mencapai US$ 7,61 juta, pelabuhan Teluk Bayur Sumatera Barat mencapai US$ 13,66 juta, pelabuhan Sungai Musi/Boom Baru Sumatera Selatan US$ 3,51 juta, pelabuhan Tanjung Priok DKI Jakarta mencapai US$ 2,18 juta, Soekarno Hata mencapai US$ 1,46 ribu, dan melalui Ngurah Rai Airport sebesar US$ 312,4.

Dimana ekspor terbesar adalah batu bara dengan negara tujuan ekspor meliputi Philipina, Spanyol, dan Jepang. Sementara itu, Kepala Bea Cukai Bengkulu, Indriya Karyadi mengaku kegiatan ekspor terbesar di Bengkulu masih disumbangkan oleh Batu Bara dan CPO.

Sedangkan beberapa komoditas lainnya seperti kopi dan ikan masih melalui Provinsi tetangga. Hal ini jelas mempengaruhi neraca perdagangan di Provinsi Bengkulu yang nantinya juga berdampak pada pertumbuhan ekonomi di daerah. “Kami berharap Pemerintah bisa melakukan trobosan yang baik sehingga komoditas kopi dan ikan tidak dieskpor melalui provinsi lain lagi,” tutupnya.(999)