Eks Lokalisasi Masih Operasi, Sebulan Ada Seribu Pengunjung

Eks lokalisasiBENGKULU, BE – Praktik prostitusi di Bengkulu ternyata masih marak. Bahkan, hingga saat ini eks lokalisasi berlokasi di Pulai Baai masih ramai didatangi pengunjung. Hal ini disampaikan langsung oleh Merly Yuanda, Direktur Yayasan Kantong Informasi Pemberdayaan Kesehatan Adiksi (Kipas), ditemui BE, kemarin.

“Dari data lapangan yang diperoleh Kipas, dalam tempo satu bulan saja, diperkirakan ada sebanyak 900-1000 orang pengunjung datang. Kalkulasinya adalah, ada sekitar 25-30 orang pengujung untuk setiap malamnya,” aku Merly.

Kendati demikian, menurut Merly, angka ini tak berlaku untuk setiap malam. Keramaian para pengunjung ini juga dipengaruhi oleh beberapa faktor. Diantaranya, penghasilan serta nilai harga komoditi yang melonjak. “Jika harga komoditi sedang mahal atau awal bulan, biasanya pengunjung akan ramai. Sebaliknya, jika sedang musim paceklik, pengunjung di tempat tersebut akan berkurang,” imbuhnya.

Lebih lanjut disampaikan Merly, pihaknya mendukung penuh upaya pembrantasan prostitusi yang disepakati oleh Forum Koordinasi pemerintah daerah (FKPD) Provinsi Bengkulu. Hanya saja, ia mengungkapkan bahwa salah satu upaya yang tepat adalah dengan melakukan pengendalian terhadap para PSK maupun para lelaki hidung belang tersebut.

Merly menilai, melakukan penutupan tempat prostitusi tersebut bukanlah sebuah cara yang tepat untuk membrantas praktik prostitusi.

“Menutup secara langsung tempat eks lokalisasi bukanlah solusi. Yang perlu diterapkan adalah pengendalian secara berkesinambungan. Pengendalian ini dalam artian adalah memberikan pemberdayaan/pelatihan kepada para pekerja seks komersi (PSK), mempersulit izin usaha. Selain itu, hendaknya pemerintah juga terus melakukan sosialisasi berupa pemahaman religi kapada masyarakat agar tak lagi mendatangi PSK,” terangnya.

Dijelaskannya, dengan menutup tempat prostitusi tersebut, maka dikhawatirkan akan menimbulkan polemik baru di Provinsi Bengkulu yang tentu saja akan lebih sulit dalam mencari solusi penyelesaiannya. “Prostitusi ini sudah ada sejak dahulu, jika ditutup justru akan menambah peolemik baru. Mereka (PSK,red) dikhawatirkan akan membuat tempat prostitusi di tempat lain secara terselubung. Ini akan lebih sulit melakukan pengawasan,” jelas Merly.

Ditambahkannya, dengan menyebarnya PSK ini tentu saja akan berimbas pada peningkatan jumlah para penderita penyakit kelamin berupa HIV. Berdasarkan data yang dihimpun Kipas, hingga tahun 2015 ini, ada sebanyak 732 orang yang terinveksi penyakit tersebut. Para penederita ini tersebar di seluruh Kabupaten/Kota di Provinsi Bengkulu.

“Tak ada satu kabupaten pun yang terlepas dari HIV. Hendaknya Pemerintah dan pihak terkait serta pengelola hiburan malam dapat duduk bersama mencari solusi memecahkan permasalahan ini. Jika prostitusi menyebar secara tersebelubung, maka tentu saja akan mempersulit dalam melakukan pengawasan,” demikian Merly.(135)