Ekonomi Diprediksi Tumbuh 5,4 Persen

Pada Triwulan II 2018

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Kinerja ekonomi Provinsi Bengkulu pada triwulan IV 2017 lalu, menunjukan perlambatan dimana hanya tumbuh 4,6 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan III 2017 4,90 persen (yoy) dengan indikator terjadi pada konsumsi rumah tangga, pengeluaran konsumsi lembaga non profit (NPRT) dan investasi. Namun demikian, melihat kondisi saat ini, ekonomi Bengkulu 2018 diprediksi tumbuh mencapai 5,4 Persen.

Anggota Komisi XI DPR RI, dr Anarulita Muchtar mengungkapkan, realisasi pendapatan terhadap pagu anggaran APBD tahun 2017 hanya sebesar 99,29 persen, atau lebih rendah dibandingkan realisasi tahun 2016 mencapai 106,03 persen. “Realisasi pagu 2017 menurun karena didorong penurunan pendapatan perimbangan atau transfer,” ujar Anarulita, kemarin (15/4).

Realisasi investasi Bengkulu juga rendah, khususnya karena stagnannya perkembangan harga-harga komoditas sehingga menyebabkan pertumbuhan ekonomi Bengkulu yang melambat. Secara keseluruhan, perekonomian Provinsi Bengkulu tahun 2017 tumbuh 4,99 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan kondisi nasional yang tercatat sebesar 5,07 persen. “Secara keseluruhan pertumbuhan ekonomi Bengkulu masih dibawah ekonomi nasional,” sambung Anarulita.

Adapun dari sisi belanja, realisasi terhadap pagu tahun 2017 mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya, dengan realiasi mencapai 82,14 persen pada tahun 2017 dan tahun 2016 sekitar 86,58 persen.

“Penurunan realisasi belanja terhadap pagu 2017 terjadi pada semua belanja, yakni belanja operasi, modal dan transfer,” lanjut Anarulita.

Sementara untuk perkembangan ketenagakerjaan hingga Agustus 2017 lalu, menunjukan tingkat pengangguran mengalami peningkatan, dengan jumlah penduduk yang bekerja mengalami penurunan. Namun perkembangan kemiskinan hingga September 2017 yang tercatat menurun dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. “Meskipun pengangguran meningkat, namun kemiskinan tercatat menurun ang mencerminkan perbaikan ekonomi masyarakat,” tutur Anarulita.

Lebih lanjut dijelaskan Anarulita, secara keseluruhan ekonomi Bengkulu pada 2017 lalu mengalami kenaikan didukung oleh kenaikan permintaan konsumsi rumah tangga dan kegiatan investasi. “Untuk keseluruhan di tahun 2017 lalu terjadi peningkatan ekonomi di Bengkulu,” imbuhnya.

Melihat tumbuhnya perekonomian Provinsi Bengkulu ini, dirinya memprediksi setidaknya pada triwulan II 2018, ekonomi Bengkulu diperkirakan tumbuh pada kisaran 5,1 sampai 5,3 persen dengan tren meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya. “Perekonomian 2018 tumbuh lebih baik dibandingkan tahun 2017, dengan kisaran 5,2 sampai 5,4 persen, atau lebih tinggi pencapaian tahun 2017 sebesar 4,9 persen,” terang Anarulita.

Guna mencapai hal ini, dirinya menilai perlunya tindak lanjut pemerintah dimana diharapkan terus mendorong pertumbuhan Kredit Usaha Rakyat (KUR), Ultra Mikro (UMI), Dana transfer daerah dan Dana Desa, meningkatkan program bantuan sosial Bank Indonesia (BSBI) dan kinerja tim pengendalian inflasi daerah. “Agar tercapainya pertumbuhan ekonomi sesuai target tersebut maka pemerintah harus memperhatikan berbagai program yang pro rakyat guna membangkitkan pertumbuhan ekonomi masyarakat,” terang Anarulita.

Terakhir, dikatakan Anggota DPR RI dari Dapil Bengkulu ini berharap, pemerintah tetap fokus pada pembangunan yang berkelanjutan pada kesejahteraan masyarakat, termasuk ketersediaan infrastruktur dan peningkatkan daya saing perekonomian dan tercapainya target pengentasan kemiskinan dan peretasan ketertinggalan.

“Pemerintah harus fokus dan tetap berupaya maksimal mewujudkan berbagai program yang sudah disusun untuk mengembangkan ekonomi Bengkulu kedepannya,” tutup Anarulita.

Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, Endang Kurnia Saputra mengatakan, Bank Indonesia optimistis pertumbuhan ekonomi pada semester II 2018 akan lebih baik dibandingkan semester I dan bisa mencapai 5,4 persen. Proyeksi bank sentral tersebut didasarkan pada sejumlah faktor yang akan mendorong ekonomi ke arah yang lebih positif.

“Jadi, semester dua, kalau harga komoditas stabil saja, berarti permintaan pengeluaran rumah tangga akan tumbuh lebih baik. Terus investasi juga akan ‘recovery’, pertumbuhan kreditnya juga ‘recovery’, dan anggaran pemerintah semester dua juga selalu lebih baik dari semester satu,” singkat Endang.(999)