Ekonomi Bengkulu Tumbuh Negatif, Tertinggi di Usaha Transportasi dan Pergudangan

Foto IST/ BE – Kepala BPS Provinsi Bengkulu Ir. Win Rizal, M.E, saat rilis berita resmi BPS, Rabu (5/8).

BENGKULU, bengkuluekspress.com – Seperti yang sudah diproyeksikan, banyak pihak pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami kontraksi akibat wabah pandemi virus corona atau Covid-19. Salah satunya yang mengalami dampak pandemi itu yakni Provinsi Bengkulu.

Ekonomi Provinsi Bengkulu triwulan II-2020 (y-o-y) tumbuh negatif sebesar 0,48 persen, bila dibandingkan triwulan II-2019 yang tumbuh positif sebesar 5,00 persen. Perekonomian Provinsi Bengkulu pada triwulan II-2020 yang diukur berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp 17,96 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp 11,45 triliun.

“Dari sisi produksi, pertumbuhan negatif tertinggi dicapai oleh lapangan usaha transportasi dan pergudangan sebesar 11,17 persen dan perdagangan besar dan eceran sebesar 4,32 persen. Sedangkan dari sisi pengeluaran, seluruh komponen mengalami kontraksi, dimana kontraksi tertinggi dicapai oleh komponen pengeluaran konsumsi LNPRT, yakni sebesar 13,94 persen,” kata Kepala BPS Provinsi Bengkulu Ir. Win Rizal, M.E, saat rilis berita resmi BPS, Rabu (5/8).

Dijelaskan Win Rizal, ekonomi Provinsi Bengkulu triwulan II-2020 (q-to-q) tumbuh negatif sebesar 2,98 persen dibandingkan triwulan I-2020. Sisi produksi, pertumbuhan negatif tertinggi dicapai oleh lapangan usaha transportasi dan pergudangan sebesar 14,50 persen.

Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan negatif tertinggi pada komponen ekspor barang dan jasa sebesar 8,52 persen. Struktur perekonomian Provinsi Bengkulu triwulan II-2020 masih didominasi oleh lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 28,99 persen.

“Dari sisi pengeluaran masih didominasi oleh komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga serta impor barang dan jasa yang masing-masing sebesar 64,06 persen dan 61,31 persen,” pungkasnya

Ia menambahkan, dibandingkan dengan provinsi lain di Pulau Sumatera, Provinsi Bengkulu merupakan provinsi dengan kontraksi pertumbuhan ekonomi (y-on-y) terkecil, yakni sebesar 0,48 persen. Sedangkan, provinsi dengan kontraksi terbesar di Pulau Sumatera adalah Kepulauan Riau sebesar 6,66 persen dan Kepulauan Bangka Belitung sebesar 4,98 persen. (HBN)