Edi Hendra S.Sos.i

Menggali Potensi Anak, dengan  Sekolah Alam

edi hendar 1 sedEdi Hendra S.Sos.i adalah kepala sekolah Alam  di Mahira, Kota Bengkulu.  Dia dipercayakan sejak enam bulan lalu sebagai kepala sekolah.  Namun ia telah empat tahun mengabdikan diri di sekolah alam  tersebut. Sebelumnya, ia sebagai guru honor di salah satu sekolah swasta di Kota Bengkulu, sebagai guru Pendidikan Agama Islam.
Sosok ini adalah  jebolan dari Sekolah Tinggi Agama Islam  Negeri Bengkulu, yang saat ini berubah menjadi Institut Agama Islam Negeri Bengkulu (IAIN). Kemudian, dia memilih menjadi guru di SAB  (Sekolah Alam Bengkulu), karena dirinya tertarik bergabung. Akhirnya ia mencoba melamar pekerjaan itu ke SAB  hingga akhirnya diterima.
Banyak kendala menuju kesana, putra dari  Bustil dan Rasni itu harus bersaing dan mampu memberikan pengajaran, yang sesuai dengan  konsep SAB sendiri. Mengajar di SAB jauh berbeda dengan sekolah lainya.  Di sekolah ini satu guru harus multi talenta, dan harus berinovasi.
Konsep kurikulum  di SAB,  60 persen pada pembentukan akhlak, yang didalamnya mengajarkan  leadership, ramah lingkungan. Dicontohkan Hendra, setiap pagi anak-anak, setelah bel berbunyi harus membersihkan WC, dan kebersihan WC itu masuk dalam kurikulum.  Bukan hukuman, ini untuk melatih dan cinta kebersihan pada diri anak.
“Semua guru harus multitalenta, siap menari, siap bertanding sains, siap bela diri, dan siap akadmik,” katanya.
Diceritakanya, dia bukanlah perintis berdirinya SAB, namun bapak satu anak ini menerangkan bahwa dibukanya sekolah mahira. Karena melihat saat ini orang tua lebih dominan  memberikan beban pada anak-anaknya, untuk meraih mimpi orang tuanya. Tanpa mengindahkan sebenarnya apa yang menjadi impian anaknya. “Saya terpanggil untuk membahagiaan anak-anak, dengan cara bebas berekspresi. Selama ini kurikulum sangat membebani anak, dan orang tua, orang tua juga jarang memperhatikan potensi yang ada pada anak, justru orang tua  lebih senang untuk bisa bahasa inggris. Nah, SAB mengubah itu semua, dengan tanpa mengkotak-kotakkan dengan akademik. Sekolah sambil bermain,  kadang main kelereng, main layang-layang, dan  camping, ” katanya.
Seraya menambahkan, bermain itu mencerdaskan mental, empati, menahan diri, sportif.  Lalu akan menjadi pertanyaan, kenapa anak-anak tidak dibolehkan bermain. Larangan bermain saat kecil dapat berdampak terhadap anak dimasa remaja. contohnya saja kebut-kebutan, lari narkoba dan banyak lagi.
Diakuinya, konsep ini awalnya kurang mendapat respon dari Dinas Pendidikan dan kebudayaan namun dengan keluarnya kurikulum 2013 ini, justru sejalan dengan konsep yang selama ini dilakukan SAB. “Akademik yang disampaikan pada umumnya, sama namun bagaimana kita mengemas  pembelajaran itu disampaikan kepada anak didik lebih menarik,” jelasnya.
contohnya belajar  tentang pengukuran,  tidak perlu banyak menyampaikan teoritis, tapi  kita langsung dengan menggunakan media dan mengalikasikan langsung, “hal ini anak-anak lebih senang,” katanya.
Tak hanya menerima anak  formal, tak banyak yang tahu kalau sekolah ini juga  menerima anak  difabel (autis) yang disebut anak Spesial.
Hal ini mendorong anak untuk berempati dan sekaligus mengajarkan anak difabel dihargai mereka dan mampu beradaptasi terhadap teman-temanya.  “Setiap kelas kita tempatkan satu anak spesial bersama dengan anak sebayanya dan lain sebagainya, realitas anak difabel justru berkembang cepat dan mampu bersaing,” terangnya.
Selain mampu dalam mengelola  SAB, suami dari Murni Ati ini ternyata pakar dalam membuat robotik. Sehingga, ayah dari satu anak ini dalam satu tahun ini menyabet juara I robotik tingkat Kota Bengkulu. Berbagai prestasi yang diraihnya  tak sedikit seperti akreditasi pelatih karate tahun 2008,  dan juara I media pembelajaran ditahun 2012 lalu, dan banyak prestasi lainya.
Dengan prestasinya itu, ia tak hanya bangga pada dirinya namun, ia sangat berterimakasih atas keluarganya yang sangat memberikan suport  hingga mengharumkan nama sekolahnya.
Menurutnya Menjadi kepala sekolah adalah sebuah amanah   tak hanya dilihat dari  kemampuan akademik saja, namun pengelolaan manajerial sekolah agar lebih berkualitas lagi dan melahirkan banyak prestasi. Disamping itu juga sebagai motivasi bagi guru dan kepsek lainnya untuk berprestasi.  Diakuinya sekolah alam mahira walau telah lama didirikan  masih membutuhkan sosialisasi agar lebih dekat dimasyarakat,tentunya untuk memunculkan itu perlu ada dorongan motivasi.  Melalui apresiasi diberikan setiap prestasi yang didapat guru maupun kepsek agar dapat memacu semangat yang lainnya. Berlomba-lomba mengejar prestasi lebih baik lagi.
Edi Berharap, kekompakan guru  atau para pendamping  supaya bisa saling mencari tahu dan saling bertransformasi pengalaman.  Untuk memajukan diri dan mengharumkan nama sekolah, tandasnya. (endang)