Eceran BBM Belum Ditetapkan

BENGKULU, BE – Pemerintah Kota (Pemkot) Bengkulu hingga saat ini belum menetapkan harga eceran tertinggi (HET) Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk wilayah Kota Bengkulu, meskipun harga eceran saat ini telah merangkak naik, mencapai Rp 7000/liter. Selain menetapkan HET yang saat ini telah mulai melambung, pemerintah kota belum juga menetapkan HET pasca kenaikan 1 April mendatang. “Untuk kondisi saat ini kami belum tetapkan HET BBM, tapi hanya mengeluarkan imbauan agar pengecer tidak terlalu tinggi menjual BBM,” kata Asisten I Pemkot, Dra Rosmidar. Ia menjelaskan menjelang kepastian kenaikan BBM, pengecer hanya dibolehkan menjual tidak terllau tinggi dari harga SPBU, maksimal Rp 5.500/liter. Namun jika ada yang menjual diatas harga tersebut, maka akan tindak oleh Satgas yang telah dibentuk beberapa hari lalu. “Kan sudah ada Satgas, jika terbukti mengecer jauh di atas harga SPBU, maka Satgas bisa menindak pengecer tersebut meskipun pemerintah belum menetapkan HET-nya,” katanya.Sanksi yang dapat diberikan kepada pengecer, yakni berupa tidak dibolehkan lagi mengecer BBM, disita BBM-nya dan dicabut izinnya bagi yang memiliki izin mengecer BBM. Tapi kendala yang dihadapi pemerintah saat ini ialah pengecer BBM di Kota Bengkulu tidak memiliki izin untuk menjual BBM. “Mereka (pengecer) tidak memiliki izin dari pemerintah untuk menjual BBM,” ujarnya.

Naik Rp 7 Ribu
Sementara itu, harga BBM saat ini telah cukup tinggi dari harga SPBU yakni Rp 7 ribu. Harga tersebut terdapat di berbagai tingkat pengecer, seperti di kawasan Pantai Panjang, Kebun Beler, Pematang Gubernur dan berbagai tempat lainnya. Salah seorang pengecer di Pematang Gubernur yang enggan menyebutkan namanya mengatakan, sengaja menjual bensin jauh di atas harga SPBU, karena mendapatkannya sangat susah dengan ikut mengantre selama 3-4 jam. “Gimana mau jual murah, cara memperolehnya sangat sulit,” cetusnya. Senada juga disampaikan pengecer Kebun Beler, Simajuntak (50). Ia mengatakan dengan menjual rp 7 ribu/liter, sudah sebanding dengan jerih payah yang dikeluarkan untuk mendapatkan BBM. “Sama-sama tahu lah sekarang bagaimana keadaannya, saya rasa harga Rp 7 ribu ini sudah pas dan tidak terllau mahal,” kata Simajuntak dengan nada bataknya yang khas. (400)