Dwi Pratomo Juniarto

GM Telkom Bengkulu Dwi Pratomo Juniarto
Kerja Ikhlas dan Jaga Hubungan Baik

dfa RIO-FIGUR MANAJER TELKOM (10)SOSOK Dwi Pratomo Juniarto mengawali karir di PT Telkom sejak 1996, setelah ia menamatkan pendidikan di STT Telkom. Sebelum masuk ke STT Telkom, ia sempat dihadapkan pada pilihan rumit, karena saat  bersamaan ia juga diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI).
Dianggapnya sulit, karena ia sejak kecil bercita-cita menjadi dokter. Namun, setelah dipertimbangkan dengan matang, akhirnya ia memilih STT Telkom. Alasannya, STT Telkom masih terikat dinas dengan PT Telkom, hingga  pilihan dijatuhkannya ke Telkom sampai mengantarkan kesuksesaannya. Kini ia General Manajer PT Telkom Bengkulu yang merupakan pimpinan tertinggi Telkom di Provinsi Bengkulu.
“Dulu saya dihadapkan pada pilihan yang sulit. Tapi, akhirnya saya memilih STT,” ungkap bapak dua orang anak ini.
Ia mengawali karir di PT Telkom sebagai General Transmisi PT Telkom Area Kalimantan Selatan di Kota Banjarmasin sampai 2004. Setelah itu, ia dipromosikan ke Kantor Pusat Telkom di Jakarta dengan menepati Divisi Unit Telekomunikasi. Belum genap setahun di Jakarta, kemuadian ia dipindahkan ke Bandung sebagai Assisten Manager Submarine dan Fiber Optics Development Sub Divisi Teresterial Telkom hingga 2007.
Selama 2 tahun berkarir di Bandung, Dwi Pratomo ditugaskan ke Pulau Borneo. Jika sebelumnya ia hanya di Telkom Area Kalimatan Selatan saja, namun kali itu ia membawahi semua Telkom yang ada di Pulau Kalimantan. Yakni, sebagai Manager Neetwork Development Network Regional Kalimantan hingga 2009.
Tugas Dwi Pratomo kembali lagi ke Kantor Telkom Pusat di Bandung. Ia menjadi Manager NMS dan CME Development Program Bidang Infrastruktur Development hingga April 2010. Kemudian ia  dipromosi menduduki jabatan Manager Transport Development Program, Bid Infrastructure Development. Hingga awal 2013, laki-laki yang akrab disapa Tomy ini menginjakkan kakinya di Bumi Rafflesia, dipercaya menjadi General Manager (GM) Telkom Bengkulu.
Kariernya yang gemilang itu, dijalani Tomy seperti air mengalir, namun bukan berarti tanpa tujuan. “Semua orang setiap melangkah pasti mempunyai tujuan. Dalam mencapai tujuan tersebut berbeda-beda,” ujar pria yang ramah dan murah senyum ini.
Hal utama yang selalu ia pegang dalam menggapai karir, dijalaninya dengan selalu bekerja ikhlas dan banyak berhubungan dengan masyarakat. Dituturkannya, kerja ikhlas yang ia maksud, melakukan pekerjaan dengan sepenuh hati tanpa mengharapkan imbalan apapun termasuk promosi. Menurutnya promosi yang ia peroleh selama ini berkat kerja ikhlas yang ia jalani. Bagi Tomy, menjadi hal berbeda jika melakukan pekerjaan dengan niatan untuk mendapat promosi. Karena jika hanya mengejar promosi saat promosi tersebut tak didapati, kemudian akan kecewa. Berbeda dengan kerja ikhlas, apapun hasilnya akan ia terima.
“Menjaga hubungan baik itu sangat penting dimana saja dan kapan saja. Karena sepintar apapun kita, jika tidak diketahui orang dan tidak berhubungan baik, maka akan sia-sia,” kata Tomi.
Pengalaman yang ia dapat selama bekerja di lapangan dikala menapaki karier, dijadikannya sebagai guru paling berharga bagi dirinya. “Jika kita pernah turun ke lapangan, maka kita akan tahu apa yang dialami bawahan. Ketika mereka menemukan kendala, kita bisa memberikan solusi,” ujarnya.(Ari)

Fokus Modernisasi Jaringan
RIO-FIGUR MANAJER TELKOM (9)Tugas sebagai GM Telkom Bengkulu, beberapa hal akan Tomy lakukan. Salah satunya, mengembangkan Speedy dengan meningkatkan intensitas internet. Selain itu, ia juga akan memodernisasi jaringan yang ada di Bengkulu, karena menurutnya modernisasi ini seharusnya sudah berjalan 2 atau tiga tahun lalu, namun mungkin karena ada kendala sehingga belum dilaksanakan.
“Meskipun sepertinya terlambat namun kita akan melakukan modernisasi jaringan internet di Bengkulu ini,” ungkap pria kelahiran Surabaya 28 Juni 1972 ini.
Selain itu, Tomy juga memiliki tantangan tersendiri terhadap jumnlah pengguna internet yang ada di bengkulu, karena berdasarkan data yang mereka miliki Internetdensitas atau rasio jumlah penduduk Bengkulu dengan jumlah pemakai internet baru 0,9 persen. Telendensitas ataua rasio pengguna telepon dengan jumlah penduduk juga kecil, masih 1,3 persen, padahal menurutnya idealnya dari kedua rasio tersebut 20 persen dari jumlah penduduk.
Upaya mengejar rasio tersebut, paparnya, salah satu yang akan dilakukan yakni memasang Indonesia Wifi di beberapa titik yang strategis, dan saat ini masih mereka kembangkan di Kota Bengkulu. Saat ini, ungkapnya, sudah ada 29 titik Indonesia Wifi di Kota Bengkulu, 24 titik diantaranya adalah tempat-tempat umum seperti Pantai Panjang, sisanya berada di kampus.
Menurutnya, dalam waktu dekat ini Telkom Bengkulu juga akan mengembangkan target ke daerah Bengkulu Tengah dan Rejang Lebong.
“Kedepannya kita akan mengakses seluruh Bengkulu. Saat ini jika daerah lain mengajukan ingin dipasang Indonesia Wifi, jika kita nyatakan layak maka akan kita pasang,” tambahnya.
Dijelskan Tomy, dengan Indonesia Wifi, orang akan memiliki banyak kesempatan untuk terkoneksi dengan internet. Terlebih lagi Indonesia Wifi memiliki radius sekitar 60 meter.
Selain Indonesia Wifi, program lainnya, IndiSchool. Tahun ini, ungkapnya, Telkom Bengkulu akan memasang IndiSchool di 774 sekolah yang ada di Provinsi Bengkulu termasuk Pulau Enggano.
“Kegiatan IndiSchool ini merupakan bagian dari kontribusi telkom unutk memajukan atau meningkatkan pendidikan,” paparnya.

Keluarga dan Moge

Di balik kesibukannya bekerja dengan kondisi jauh dari keluarga, pria yang dibesarkan di tanah Betawi ini, selalu meluangkan waktunya berkumpul dengan keluarga. Walau keluarganya tinggal di Bandung, ia selalu menyempatkan diri jalan bersama dan berkumpul bersama. Namun, di balik semua itu, ia mengakui ia merupakan tipikal orang yang tidak bisa meninggalkan keluarga.
Tomy mengaku akan bisa bertemu dengan keluaraganya saat ia memastikan pekerjaan selesai. Bahkan ia selalu mengontrol pekerjaan sambil dalam perjalanan ke Bandung. Terlebih lagi saat ini Telkom Bengkulu menurutnya masih kekurangan tenaga. Karyawan hanya 59 orang, padahal idealnya minimum 80 orang atau jika ingin kekuatan penuh maksimal 120 orang.
“Saya selalu meluangkan waktu untuk jalan atau berkumpul saat bertemu dengan keluarga,” terangnya.
Tomy memiliki hobi  jalan-jalan menggunakan motor gede alias Moge. Menurutnya, keinginannya memiliki motor gede sudah ada sejak  ia duduk di bangku SMP. Namun, keadaan ang tidak memungkinkan karena orang tuanya yang hanya pegawai negeri sipil di Derektorat Zeni angkatan darat dan  ibunya seorang guru Matematika membuatnya harus memendam keinginannya memiliki Moge ketika masih belia.
Ketika menginjak kuliah, Tomy sempat dikompori teman-temannya agar memiliki Moge. Namun,  ia melihat kondisi keluarganya yang belum memungkinkan, sehingga ia harus kembali memendam impiannya ketika itu. Sejak mulai bekerja, ia pun menargetkan dirinya memiliki gede. Ternyata targetnya itu baru tercapai setelah ia berusia 30 tahun. “Saya memang dari lecil sudah hobi naik motor, tapi masih motor yang biasa,” kenang Tomi.
Menurut Tomy, ada sensasi yang berbeda ketika menggunakan Moge. Kesan kebebasan itu benar-benar dirasakannya. Dengan Moge, ia bisa menikmati angin menerpa di jalanan atau lika liku tikungan. Namun demikian, Tomy tidak suka berkompoi motor dengan pengawalan polisi, karena menurutnya itu terlalu formal dan menimbulkan kesan kurang baik di mata masyarakat.
“Kalau pakai Patwal kesan kebebsan itu akan hilang. Karena, sensasi berkendara pun akan berbeda, karena jalan yang kita lalui nyaris tanpa hambatan,” ungkapnya. (Ari)