Duh! LGBT Penyebab HIV/AIDS Tertinggi

Ilustrasi LGBT
Ilustrasi LGBT

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Bengkulu, H Herwan Antoni SKM M.kes MM mengatakan, perilaku lesbianisme, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) menjadi penyebab utama tingginya penyakit menular mematikan HIV/AIDS. Dalam dekade 15 tahun terakhir saja, ada 1.000 lebih masyarakat Bengkulu menderita penyakit HIV/AIDS. Rata-rata penyebab utamanya perilaku menyimpang masyarakat berhubungan sesama jenis.

“Hasil analis kami, penyakit seksual (LGBT) menjadi penyebab utama penularan HIV/AIDS,” ujar Herwan kepada Bengkulu Ekspress, kemarin (28/1).

Perilaku menyimpang LGBT, secara umum memberikan dampak bahaya bagi kesehatan dan juga kehidupan sosial. Di dalam kesehatan akan terdapat berbagai penyakit berbahaya yang beresiko tinggi terkena pada para pelaku LGBT salah satunya HIV/AIDS.

Herwan menegaskan, secara naluri atau fitrahnya, manusia diciptakan untuk saling berpasangan antara pria dan wanita. Kehidupan yang sesuai fitrah dan sehat akan sangat penting dalam menjalani hidup dengan nyaman dan tentram.

Jika di luar tersebut, maka bisa dipastikan orang-orang yang melakukannya, akan berdampak buruk.

“LBGT ini sangat berbahaya, jadi memang harus dihindari dan kita tegaskan kita sangat menolak adanya LGBT,” paparnya.

Dikatakanya, LGBT akan sangat rentan terkena virus, tidak hanya HIV, penyakit sifilis, hepatitis, dan infeksi Chlamydia juga akan mudah menyerang. Disamping itu, penyakit yang pasti akan diderita, mulai dari kanker anal (dubur), kanker mulut, meningitis (radang selaput otak), kanker pada lesbian, dampak sosial, dampak pendidikan dan dampak keamanan.

“Masih banyak penyakit lain yang bakal akan diderita sipelaku LGBT,” tambah Herwan.

Untuk menghindarinya, tidak lain dengan perilaku keseharian untuk tetap mengutamakan hal positif. Kemudian, ketahanan keluarga, agama dan lingkungan sekitar sangat berperan efektif, prilaku menyimpang itu tidak terjadi.

“Ini yang harus terus kita kuatkan secara bersama-sama,” imbuhnya.

Secara pemerintah, Dinkes Provinsi juga terus memberikan sosialisasi secara penuh kepada masyarakat dan generasi muda untuk tidak terjebak dalam lingkaran LGBT. Tidak hanya sosialisasi, pengecekkan kegiatan secara rutin, baik itu ditingkat sekolah, pemerintahaan dan swasta akan terus digelar. Termasuk menguji melalui tes urine kepada para pengujung hibran malam, panti-panti pijat, dan tempat-tempat yang diduga sebagai gudang prostitusi. Kaum-kaum waria juga dilakukan pengecekan secara rutin. Namun tersulit, menurut Herwan menembus kelompok-kelompak pria menyukai sesama jenis. Sebab tim harus terlibat langsung atau masuk ke lingkaran tersebut.

“Ini yang menjadi kesulitan kita, biasanya meraka (pria suka sesama jenis) hidupnya berkelompak. Ini yang sulit terdeteksi keberadaanya, untuk itu kita minta masyarakat untuk saling sama-sama mengawasi,” tegas Herwan.

Sementara itu, Anggota DPD RI Riri Damayanti John Laitef menegaskan, pemerintah pusat bersama DPR RI sedang menggodok Rancangan Undang-Undang terkait LGBT. Dalam RUU tersebut nantinya akan diatur terkait diperbolehkan atau tidak LGBT hadir di Indonesia.

Riri mengaskan, dirinya sangat optimis RUU LGBT itu dibahas dan ditetapkan untuk melarang LBGT itu dilegalkan. Sebab jika dibebaskan, maka hal tersebut jelas akan meracuni bangsa Indonesia, khususnya generasi penerus bangsa.

“Kita akan terus dorong, agar RUU terkait LGBT itu tetap dilarang. LGBT tidak boleh hadir di Indonesia,” tegas Riri.

Meski nantinya dilarang, namun tetap orang-orang berperilaku LGBT itu jangan sampai dijauhi dari lingkungan sosialnya. Sebab menurutnya perilaku LGBT itu banyak faktor bisa terjadi. Baik itu faktor keluarga, lingkungan dan faktor lainnya. Untuk itu tetap dirangkul dan diberikan sosialisasi, agar perilakukan menyimpang itu dapat diobati.

“Mereka (LGBT) juga manusia yang harus dihormati secara manusiawi. Kita rangkul agar hal itu tidak lagi terjadi,” tandasnya. (151)