Duh, Kematian Bayi Capai Satu Pesawat

bayi-131205b

 IYUD DWI MURSITO
Kota Bengkulu

Miris. Ini perlu mendapat perhatian serius. Jumlah kematian bayi (Neonatal) 0-28 hari mencapai 295 bayi. Kematian ini sudah menyamai jumlah penumpang satu pesawat penerbangan.

KEMATIAN bayi (Neonatal) di Bengkulu sangat tinggi. Ini sangat miris dan perlu mendapatkan perhatian serius. Tahun 2015, sudah 295 bayi (neonatal) 0-28 hari mengalami kematian. Penyebab ini sangat komplek. Sehingga menjadi pekerjaan rumah bagi gubernur dan wakil gubernur baru, H Ridwan Mukti dan Rohidin Mersyah.

Jumlah kematian bayi tertinggi terjadi di Rejang Lebong 45 kasus, Mukomuko 41 kasus, Kota Bengkulu 36 kasus, Kepahiang 35 kasus, Bengkulu Tengah 27 kasus, Seluma 26 kasus, dan Kaur 20 kasus, serta Lebong 18 kasus.

“Ini seperti gunung es. Mungkin lebih dari ini, karena banyak kejadian tidak terdata,” ujar Kasi Kesehatan Ibu dan Anak, Dinas Kesehatan Provinsi, Nelly Alesa, MSi, Selasa (23/2) dalam pertemuan Koordinasi dengan Lintas Sektor dalam Rangka Penggalangan Komitmen Kebijakan Publik Berwawasan Kesehatan.

Sedangkan tingkat kematian ibu juga sangat memprihatinkan. Selama tahun 2015 terjadi 57 kasus kematian ibu saat melahirkan. Kejadian terbanyak di Kota Bengkulu 15 kasus, Mukomuko 8 kasus, Rejang Lebong 7 kasus, Bengkulu Utara 7 kasus, Kepahiang 6 kasus, Seluma 5 kasus, Bengkulu Selatan 3 kasus, Lebong 2 kasus, Bengkulu Tengah 2 kasus dan Kaur 2 kasus. “Ini data yang kita peroleh. Diperkirakan lebih banyak lagi, karena banyak tidak terdata,” ujarnya.

Penyebab kematian ibu antara lain pendarahan 24 kasus, Hipertensi dalam kehamilan 10 kasus, gangguan sistem peredaran darah, dan penyakit lainnya.

Diungkapkan Nelly Alesa, banyak faktor penyebab kematian ibu dan banyi. Belum adanya penerapan pelayanan kesehatan Ibu dan Anak (KIA) sesuai standar operasional Prosedur (SOP) termasuk SOP rujukan. 90 Persen kasus kematian ibu, bayi dan balita terjadi di rumah sakit. Kasus ini lebih banyak dialami masyarakat menengah ke atas dan tingkat pendidikan tinggi. “Masih kurangnya kemampuan teknis tenaga kesehatan di Puskesmasn dan rumah sakit dalam penanganan kegawat daruratan pada ibu dan bayi,” jelasnya.

Selain itu, kurangnya peran serta keluarga dan masyarakat dalam pendampingan dan pelayanan kesehatan ibu hamil, bayi dan balita. “Desa siaga dan Posyandi belum berjalan optimal, serta kurangnya ekpose tentang pelayanan,” tuturnya.

Namun, demikian Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bengkulu, mellui Dinas Kesehatan Provinsi, telah melakukan berbagai upaya untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi.

Saat ini, sedang di programkan pendampingan 500 ibu hamil resiko tinggi. Dinkes Provinsi Bengkulu bekerjasama dengan Poltekes Kemenkes Provinsi,. ” Ibu hamil akan didampingi 4 kali masa kehaimal, 3 kali masa nifas, untuk melihat kondisi bayi,” katanya.

Selain itu, saat ini juga sedang melakukan kampanye terhadap remaja. Melakukan kerjasama dengan sekolah, melakukan deteksi dini terhadap masalah reproduksi, deteksi penyakit, dan masalah kesehatan lainnya. “Kami melakukan penjaringan kesehatan pada anak usia sekolah, dan akselerasi UKS,” ujarnya.

Kabid Promosi Kesehatan Dinkes Provinsi, Pahlanasion, S.Sos, M.Kes mengatakan kedala utama saat ini adalah keterbatasan sumber daya manusia (SDM). Kurangnya pelatihan menyebabkan tenaga kesehatan di Bengkulu kurang mumpuni dalam melaksanakan tugasnya. “Tenaga Kesehatan butuh pelatihan, karena itu butuh anggaran. Kami berharap pihat pengambil kebijakan TPAD dan DPRD mengalokasikan anggaran ini peningkatan SDM tenaga kesehatan,” ujarnya.

Dia mengungkapkan selama ini ajuan anggaran baik di Provinsi dan Kabupaten/Kota dicoret saat pembahasan. Sehingga, peningkatan SDM tenaga kesehatan menjadi mandek. “Jadi, butuh dukungan semua pihak. Karena untuk menurunkan angka kematian ibu dan anak butuh anggaran. Terutama untuk meningkatan SDM tenaga kesehatan,” ujarnya. (**)