drh Emran Kuswadi

ddSOSOK drh Emran Kuswadi mengawali karirnya didunia kedokteran hewan setelah menamatkan pendidikan dokter hewan di Universitas Gajah Mada pada tahun 1981.  Ia mengikuti seleksi menjadi Pegawai Negeri Sipil di Kementrian Pertanian. Saat  lulus, ia langsung mendapat tugas ke Provinsi Bengkulu.  Karirnya diawali sebagai Satgas Ifad Dinas Peternakan dan Kesehatan (Disnakwan) Provinsi Bengkulu.

Saat menjadi Satgas ifad, selama tiga tahun di Ketahun, Bengkulu Utara (BU).
Ia beserta timnya ditugaskan untuk menyebarkan sapi di Provinsi Bengkulu khususnya di daerah Ketahun. dan sapi yang mereka perkenalkan kepada masyarakat adalah sapi lokal Indonesia, yaitu  jenis Sapi Bali. Namun masyarakat tidak mudah menerimanya karena sapi bali tergolong jenis sapi berbadan kecil, namun berkat kerja keras mereka melakukan penyuluhan tentang keutaman Sapi Bali  yaitu meskipun badannya kecil namun dagingnya banyak karena tulangnya kecil. Berbeda dengan sapi yang besar, memiliki tulang yang besar namun dagingnya sedikit. “Pertama kali kami kenalkan sapi tersebut ditolak warga, namun berkat kerja keras kami lambat laun mulai diterima warga,” ujar Erman.

Menurut cerita Erman saat bertugas di Ketahun merupakan pengalaman yang sangat berharga, karena pada saat itu transportasi ke Ketahun sangatlah susah, kendaraan yang Ia tumpangi pun adalah kendaraan milik masyarakat bukan kendaraan umum, jenis kendaraannya adalah truk, terkadang kendaraan yang Ia tumpangi tidak sampai ketahun, sehingga Ia harus mencari tumpangan lainnya, selain masalah kendaraan masalah lainnya adalah infrastruktur jalan yang masih sangat buruk, terkadang mereka harus bermalam ditengah perjalanan. Mereka baru sampai di Ketahun setelah tiga hari perjalan dari Bengkulu. yang menariknya menurut Erman saat terjadi kemacetan tersebut pedagang yang membawa dagangan untuk dijual di Ketahun Ia jual ditempat mereka bermalam sehingga mereka tidak kekurangan bahan makanan. “Semua itu saya nikmati, karena itu memang sudah janji dan resiko saya saat dilantik menjadi PNS di Jakarta,” terangnya

Setalah tiga tahun di Ketahun dan berhasil memperkenalkan dan menyebarkan sapi Bali kemudian Ia ditarik menjadi untuk berdianas di Disnakwan Provinsi Bengkulu, Ia terus meniti karir hingga pensiun pada tahun 2008, dan jabatan yang terakhir Ia pegang adalah Kepala UPT Laboratorium dan Klinik Hewan Dinkeswan. Diakhir jabatannya Ia mengukir prestasi gemilang ia mendapat penghargaan dari Pembina Laboratorium terbaik 2008.

Menurut Emran jenjang karier yang Ia jalani sedikit lambat dibandingkan jika melihat jenjang karier yang saat ini sangat mudah didapat, karena menurut Emran dulu jenjang karier harus benar-benar disiapkan dan berjenjang, mulai dari Staf kemudian naik ke Kasi kemudian menjadi kasubdin dan terus berjenjang hingga menjadi kepala Dinas, Hal ini berbeda dengan yang terjadi pada saat ini menurut Emran banyak yang dari Staf biasa kemudian langsung menjadi kabid.  “Jika dulu Baperjakat benar-benar berfungsi, sehingga jika Seseorang akan naik karir Pengalaman, keaahlian dan umurnya diseleksi Baperjakat,” ungkap Emran.

Selain tidak jelasnya jenjang karir saat ini banyak penempatan pejabat tidak sesuai dengan disiplin Ilmunya. Menurut Emran kejadian seperti ini dulu pernah terjadi yaitu ada seorang dengan latar belakang pendidikan Agama justru ditugaskan sebagai kepala Laboratorium hewan Bengkulu Utara. Saat ini sedang terjadi adalah Laboratorium hewan Provinsi Bengkulu yang dijabat seorang Insinyur kehutanan. Ia sebagai Ketua perhimpunana Dokter Hewan Indonesia Bengkulu sangat prihatin atas hal tersebut.

Menurut Emran yang menjadi masalah adalah saat sang pemimpin akan mengadakan rapat tentang masalah hewan makan dapat dipastikan dia hanya mengerti sedikit bahkan tidak mengerti sama sekali. Menurut Erman manajemen memang sangat penting namun jauh lebih penting kemampuan dasar. Untuk menambah ilmu pengetahuaanya Emran beberapa kali mengikuti kursus , seperti kursus kesehatan hewan, kursus reproduksi ternak, kursus Kemajiran,  kursus Emberio Transfer dan terakhir adalah kursus penanggulangan flu burung. “Ilmu pengetahuan semakin hari semakin bertambah, jadi sudah seharusnya kita mengembangkan ilmu yang sudah kita punya,” ungkap Emran.

Setelah pensiun pada tahun 2008, dengan Modal pengetahuan dari kursus penaggulangan flu burung Ia dipercaya sebagai koordinator Local Diseasesn Control Center (LDCC) atau pengendali flu burung Provinsi Bengkulu. Dan sejak LDCC bengkulu berdiri pada tahun 2008 Emran beserta timnya selalu sigap jika mendapat informasi tentang flu burung. Selain masih aktif di PDHI dan LDCC Bengkulu Ia juga mengisi kesehariannya dengan membuka praktek umum dokter hewan di kediamannya.(Ari)

Biodata
Nama                                       : drh Emran Kuswadi
Tempat/tanggal Lahir     : Palembang, 22 Desember 1952
Alamat                                   : Jalan Durian II No 16 Lingkar Barat
Agama                                    : Islam
Nama Istri                            : Ir. Sawitri Kadarsih MS
Anak                                       : 1. Eska Primamonik
2. Eramus Noptaganjaran Testi
Riwayat Pendidikan
1. SD Palembang Tamat Tahun 1963
2. SMP Palembang Tamat Tahun 1966
3. SMA Yogyakarta Tamat Tahun 1972
4. Universitas Gadjah Mada Tamat Tahun 1981

Riwayat Jabatan
1. Satgas Ifad Disnakwan
2. Kepala Urusan Pembibitan ternak Ifad
3. Kasi Pembibitan
4. Kasi Penyebarab Ternak
5. Kasi Pembinaan Ternak
6. Kasubdin Kesehatan Hewan
7. Kepala UPT Laboratorium dan Klinik Hewan

Penghargaan/Prestasi
Pembina Laboratorium Terbaik 2008
Bintang Radio Melayu Tahun 1990
Bintang Radio Hiburan Tahun 1992