Dra Hj Evriza MPd

Untitled IMG_3443 A

Organisasi
-Pengurus  Nasyatul Aisiyah  tahun 1990-1995
-Ketua Umum Daerah Nasyatul Aisiyah  tahun 1995-2000
-Ketua Umum PW Nasyatul Aisiyah tahun 2000-20004
-Sekretaris Majelis Tabligh PW Aisiyah   tahun 2005-2010
-Ketua Umum Pimpinan Wilayah Aisiyah tahun 2010-2015
-Anggota Komisi Pemberdayaan Perempuan di MUI Bengkulu
-Kajur  Koperasi dan pembina Kopel   tahun 2000-2008
-Ketua Pokja Praktek Kerja Industri SMK tahun 2009 dan tahun Wakil humas SMKN 1 Kota Bengkulu  tahun 2011

Prestasi
-Juara I baca puisi  pada Penataran Pengelolaan Toko di -Jakarta
-Harapan 3 MTQN antar  mahasiswa di Kalimantan Barat
-Juara I Koriah di provinsi Bengkulu

Hidup Harus Tegar

Dra Hj Evriza MPd terlahir dalam keluarga sederhana. Orang tuanya, Muhktar Sutan Muda (Alm) dan Djawani (Alm) mewarisi jiwa berbisnis. Waktu dia kelas 3 Sekolah Dasar, telah menjadi anak yatim karena ditinggal pergi ayahnya. Sehingga dia harus bekerja keras untuk bertahan hidup bersama  tiga saudaranya, dengan membantu usaha konveksi yang digeluti ibunya saat itu. Dia juga berjualan kue, hingga akhirnya menamatkan kuliah. Setelah itu, Evrizal ditemukan jodohnya, yaitu Syafrizal pernikahan dilakukan pada 27 januari 1991. Merasa sudah digenapkan setengah dien (Agama)nya, ia merantau ke Kota Bengkulu demi, pertarungan sebuah nasib yang lebih baik.
Ia melanjutkan berjualan kue dengan gerobak. Sedangkan suaminya penyulam kasur catur, dengan penghasilan  pas-pasan “Saya ke Bengkulu karena ingin ikut MTQ Nasional, tiba di Bengkulu mencari himpunan koriah di Bengkulu tapi kala itu belum ada”, terangnya.
Tak berhenti disana, ia  mulai menekui koriah dengan belajar di TPA Kebun Dahri diasuh Ustadzah Nurjanah Ismail, dialah  sosok perempuan yang menempa dirinya hingga sukses. Pada tahun 1992 mengikuti lomba koriah di tingkat provinsi berhasil menyabet juara I. Namun gagal di tingkat nasional, pembelajaran tak berhenti disana, kemanapun ustazah Nurjanah pergi dan mengajar selalu diikutinya, hingga pada tahun 1994, ia dikirimkan menjadi kodirah  MTQN di Riau, kemampuannya mendapatkan penghargaan, “Setiba dari MTQ Nasional  saya ditawarkan menjadi PNS, kala itu di usulkan  Dinas sosial  provinsi ke tingkat pusat dan Maret 1995, keluarlah Surat Keputusan (SK) Pegawai Negeri Sipil (PNS),” katanya.
Ia ditugaskan menjadi Guru SMKN 1 kota Bengkulu.
Penghasilannya sebagai guru, tak membuat  perempuan berdarah minang lupa diri,  hatinya cukup dermawan, Ia menyekolahkan anak-anak yang tidak beruntung dengan hidup  serumah, “Hidup ini harus berbagi, dan kebahagiaan itu ketika kita sudah bisa memberikan yang terbaik dan bermanfaat  kepada orang lain, ” katanya. Sikap keibuan dan belas asih itu  membuat  salah seorang muridnya beragama nasrani mengaguminya, hingga  sang  murid rela beralih agama Islam, “banyak percobaan yang dihadapi, bahkan saat memualafkan sang anak, harus berhadapan dengan keluarga,  mirisnya lagi sang anak  harus rela kehilangan matanya karena berpindah agama, ” katanya.

Usaha Susu Kedelai
Menjadi pegawai negeri sipil (PNS) tidak membuat Evriza berhenti menekuni usaha. Dia justru menggagas penjualan susu kedelai. Dia menjadi salah satu promotor lahirnya wirausaha  ekonomi kerakyatan di Bengkulu. Perempuan dilahirkan  di Batu Tebang 10 juli 1964 tahun silam, memiliki prinsip “maju dan  setara dengan kaum laki-laki, “. Dia mengtakan,  perempuan tidak boleh lemah, harus memiliki jiwa enterpreneur  dan mampu mencari peluang untuk berusaha,” ujarnya.
Wanita berjilbab itu sangat yakin  perempuan akan maju dengan usaha kerasnya jika usaha itu disertai dengan  keridhoaan  dan  berada di jalan Allah maka, ia akan dibantu  untuk bisa  mengembangkan usaha, dengan begitu perempuan akan   berdikari  sehingga tidak selalu menunggu penghasilan  pemberian  dari sang suami. “Hidup ini harus tegar, kuat dan selalu meminta petunjuk serta bekerja  kara Allah ” ungkap perempuan  yang akrab disapa  Ummi Icha itu.
Usaha  susu kedelai yang saat ini menjadi salah satu penghasilanya itu tidak besar  begitu saja, penuh perjuangan  dan  tantangan. Membuka peluang usaha susu kedelai awalnya tak pernah terbayangkan, usaha yang saat ini menjadi  penghasilan keluarga itu diawali dari penyakit mag  yang sudah kronis, ia divonis dokter untuk endoskopy,  ketakutanya membuat otaknya di putar, sebagai seorang  guru wirausaha jelas banyak mengenyam asam garam, iapun memanfaatkan kecanggihan  teknologi informasi. Dia berselancar  dunia maya akan  manfaat kedelai terhadap penyakitnya sembuh.(endang)